Rodong Sinmun: AS Rencanakan Serangan ke Korut

Selasa, 28 Agustus 2018  17:36

Rodong Sinmun: AS Rencanakan Serangan ke Korut

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kanan) berjalan bersama Presiden AS Donald Trump di Singapura, Selasa (12/6/2018).

PYONGYANG (BM) - Media Korea Utara ( Korut), harian Rodong Sinmun, menuduh Amerika Serikat ( AS) tengah merencanakan invasi ke negara mereka. Ulasan media itu dihembuskan setelah Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo tak jadi berkunjung ke Korut pekan lalu.

Dilansir Newsweek Senin (27/8/2018), Rodong menyatakan bahwa pemerintah Korut harus menyikapi serius sikap ganda yang ditunjukkan AS.

Koran yang pertama kali terbit 1 November 1945 itu menyatakan, AS tengah mempersiapkan unit pembunuh terlatih dengan di sisi lain mereka menunjukkan sikap seakan bersahabat.

"AS sangat salah jika mereka mengira bisa menggertak kami melalui diplomasi kapal perang seperti yang mereka lakukan di masa lalu," ulas Rodong.

Dengan mengutip media Korea Selatan (Korsel), Rodong menjabarkan bahwa unit tersebut dilatih di Jepang dengan tujuan melakukan infiltrasi ke Pyongyang. "Aksi seperti itu memperkuat dugaan bahwa memang AS berusaha melakukan serangan melawan Republik Demokratik Rakyat Korea (nama resmi Korut)," tutur Rodong.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump telah memerintahkan Pompeo untuk tak berkunjung ke Pyongyang karena merasa tak ada kemajuan dalam proses denuklirisasi. Selain itu, Trump juga melihat China tak memberi tekanan berarti kepada Korut karena tengah terlibat perang dagang dengan AS.

Namun, dilaporkan kegagalan kunjungan itu disebabkan sebuah surat yang diterima Pompeo dari Kim Yong Chol, tangan kanan Pemimpin Korut Kim Jong Un.  Meski isi suratnya tak dipublikasikan, Trump dan Pompeo sepakat surat itu begitu negatif sehingga kunjungan terpaksa dibatalkan.

Ketika bertemu dengan Kim di Singapura (12/8/2018), Trump mengatakan bahwa Korut sudah tidak lagi memberikan ancaman nuklir. Namun, sepanjang dua bulan terakhir, terdapat berbagai laporan negara komunis tersebut tak mengendurkan pengembangan program senjata mereka.

Salah satu yang paling menjadi sorotan adalah laporan dari seorang pejabat anonim bahwa Pyongyang mengembangkan rudal balistik baru.

Sementara itu, sebelumnya, Korea Utara diduga menghentikan perlucutan lokasi uji coba misil di wilayah barat laut negeri itu. Demikian disampaikan sebuah kelompok riset AS, Kamis (23/8/2018).

Sebuah citra satelit yang diambil pada 16 Agustus lalu memperlihatkan Stasiun Peluncuran Satelit Sohae di Tongchang-ri. Dari citra satelit itu mengindiksikan tidak ada aktivitas perlucutan yang signifikan baik di tempat uji coba mesin maupun di lokasi peluncuran sejak 3 Agustus lalu.

Demikian kesimpulan yang diambil seorang analis dari 38 North, sebuah kelompok pemantau masalah-masalah Korea Utara. Sang analis menggarisbawahi keennganan Pyongyang menghentikan program nuklir dan misil balistiknya meski sang pemimpin Kim Jong Un sudah berjanji dalam KTT di Singapura pada Juni lalu.

"Proses signifikan untuk melucuti fasilitas ini terjadi pada Juli hingga awal Agustus, tetapi tidak ada kegiatan berarti sejak 3 Agustus lalu," ujar 38 North.

Sejumlah komponen yang sebelumnya dilucuti masih tergeletak di tanah. Masih menurut 38 North. Penyangga roket di Sohae digunakan untuk menggelar uji coba mesin roket berbahan bakar cair. Mesin ini bisa digunakan untuk misil balistik antarbenua  yang bisa menghantam sasaran di Amerika Serikat.

Usai bertemu Kim Jong Un di Singapura, Presiden AS Donald Trump menegaskan Korea Utara berjanji akan menghancurkan lokasi uji coba mesin roket dalam waktu dekat. Meski tidak menyebutkan nama, lokasi uji coba yang dijanjikan itu kemungkinan besar adalah Sohae.

 

Ancaman Mengerikan

Pemerintah Jepang mengatakan pada hari Selasa (28/8/2018) bahwa militer Korea Utara (Korut) masih menjadi ancaman yang mengerikan bagi keamanannya.

Kekhawatiran masih dirasakan Tokyo, meski rezim Pyongyang yang dipimpin Kim Jong-un sudah berhenti melakukan uji coba rudal balistik dan komitmen untuk denuklirisasi di semenanjung Korea.

"Kegiatan militer Korea Utara merupakan ancaman paling serius dan mendesak yang dihadapi negara kami," bunyi laporan buku putih tahunan yang diterbitkan hari Selasa oleh Kementerian Pertahanan Jepang.

Dokumen itu menguraikan masalah keamanan tentang Korea Utara yang memiliki senjata nuklir. Tokyo juga khawatir dengan kekuatan militer dan ambisi teritorial China yang semakin besar. Ambisi Rusia untuk membangun kembali kekuatannya tak luput dari sorotan.

Tokyo merasa terkepung oleh musuh potensial di Asia Timur setelah melihat geliat militer Korut, China dan Rusia.

Penilaian keamanan terbaru itu muncul setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tiba-tiba membatalkan rencana perjalanan keempat Menteri Luar Negeri Michael  Pompeo ke Pyongyang pekan ini sebagai bagian dari upaya baru untuk mendorong Korea Utara melucuti senjata nuklir dan rudal balistiknya.

Kim Jong-un telah komitmen melakukan denuklirisasi di Semenanjung Korea setelah melakukan pertemuan bersejarah dengan Presiden Trump di Singapura bulan Juni lalu. Trump kala itu memuji pertemuannya dengan Kim sebagai keberhasilan dan dia setuju untuk menghentikan latihan militer bersama antara AS dan Korea Selatan.

Namun, negosiasi sejak itu terhenti dengan Washington menuntut langkah nyata Korut dalam denukliriasi. Sedangkan Pyongyang meminta konsesi AS terlebih dahulu.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengatakan, sejak pertemuan Trump dan Kim Jong-un di Singapura, negaranya tidak akan mengubah pendirian militernya terhadap tetangganya tersebut sampai denuklirisasi bisa diverifikasi.

"Kami harus terus mengawasi Korea Utara untuk melihat tindakan nyata apa yang diperlukan untuk menanggalkan (program) senjata nuklir dan rudalnya," lanjut dokumen Kementerian Pertahanan Jepang, seperti dikutip Reuters.

Tokyo mencatat bahwa rezim Pyongyang telah melakukan tiga uji coba senjata nuklir dan menembakkan 40 rudal balistik sejak awal 2016. Beberapa rudal balistik telah telah melewati wilayah udara Jepang.

Pemerintah Abe pada bulan lalu menyatakan bahwa mereka berencana membeli dua stasiun pelacakan radar pertahanan udara Aegis Ashore dari AS untuk meningkatkan pertahanannya terhadap ancaman serangan rudal Korea Utara. Peralatan, yang akan dikerahkan bersama dengan baterai rudal pencegat, juga bisa untuk melawan potensi ancaman dari China.

"Ketika kekuatan China bangkit, kekuatan militernya dengan cepat berkembang," imbuh dokumen Kementerian Pertahanan Jepang. (kom/tri/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>