Venezuela Kacau, Listrik Padam, Toko-toko Dijarah

Selasa, 12 Maret 2019  17:54

Venezuela Kacau, Listrik Padam, Toko-toko Dijarah

Listrik padam di 21 dari 23 negara bagian Venezuela.

VENEZUELA (BM) - Pemerintah Venezuela memerintahkan sekolah dan toko tetap tutup pada Senin (12/03) seiring pemadaman listrik berlanjut pada hari kelima. Kelompok oposisi mengatakan sedikitnya 17 orang telah dilaporkan meninggal dunia akibat pemadaman tersebut.

Warga di ibu kota, Caracas, berbicara kepada wartawan BBC Will Grant tentang keputusasaan mereka yang semakin bertambah.

Setiap jam yang berlalu tanpa listrik di Venezuela membawa lebih banyak kekacauan dan stres pada negeri yang sudah berada di ambang batas.

Geng motor pro pemerintah, dikenal sebagai "colectivos", berkeliaran di jalan-jalan gelap, menegakkan ketertiban dengan todongan pistol, sementara beberapa peristiwa penjarahan terjadi secara sporadis di tengah-tengah keputusasaan.

Pada dasarnya, gambaran jelas pemadaman listrik sulit didapatkan dalam empat hari terakhir.

Banyak bagian di negara ini masih terisolasi dan sulit untuk mendapatkan penjelasan lengkap tentang situasi mereka. Bahkan ketika listrik kembali, ia seringkali tidak cukup dan hanya bertahan selama beberapa jam sebelum mati lagi.

Apa yang jelas ialah sejak pemadaman terjadi pada Kamis pekan lalu, banyak daerah di Venezuela berjuang untuk bertahan hidup.

Tanpa internet, telepon seluler, bank, mesin kartu kredit, kompor elektrik atau pendingin ruangan, kehidupan sehari-hari hampir tidak tertahankan bagi banyak orang, terutama di komunitas berpendapatan rendah.

 

Hampir putus asa

Tidak mengherankan bila beberapa orang hampir putus asa. "Saya punya anak usia dua tahun. Kemarin sore tidak ada yang bisa dimakan," kata Majorie yang tampak marah di luar sebuah toserba di kompleks Terrazas del Club Hípico di Caracas.

Sebuah toko di dekat rumahnya dijarah, katanya, dan seorang tetangga memberinya sedikit beras.

"Saya merebusnya, menambah sedikit gula, dan memberinya kepada anak saya. Tapi hari ini, ketika ia minta makan, apa yang akan saya kasih? Saya bisa menahan lapar. Sebagai orang dewasa, kita hanya butuh segelas air. Tapi bagaimana dengan anak-anak?"

Di belakang kami, ketika kami berbicara, sekelompok ibu yang juga putus asa dan tertekan, mulai memukul-mukul pintu toserba yang tutup, menuntut agar diizinkan masuk.

Di dalam, kasir dan mesin kartu tidak berfungsi dan staf hanya menerima pembayaran dalam dolar AS.

"Kami tidak menggunakan dolar di negara ini, kami tidak dibayar dengan dolar, kami dibayar dengan Bolivar," kata Majorie, suaranya meninggi lagi.

"Kami tidak mau menjarah toko, kami tidak mau membuat masalah. Yang kami mau adalah makanan. Kami lapar."

 

Berjuang untuk bertahan hidup

Bagi orang lain, masalahnya lebih genting daripada kekurangan makanan. Patricia (bukan nama asli) bekerja sebagai teknisi lab di sebuah rumah sakit anak di Caracas.

Khawatir akan mendapat masalah karena berbicara, ia menemui saya agak jauh dari rumah sakit JM de los Rios untuk mengungkapkan dampak pemadaman listrik terhadap para pasien.

"Pada hari Kamis, tidak ada yang tahu kenapa generator darurat tidak menyala, apa yang terjadi, atau kenapa semuanya masih gelap di unit perawatan intensif."

Seorang kolega memberi tahunya bahwa anak-anak di bangsal itu dibantu bertahan hidup dengan respirasi manual.

Ada bayi yang baru berusia beberapa hari di unit neonatal dan bayi lainnya yang berusia beberapa bulan di unit "perawatan menengah".

"Ketika kami berjalan melalui bangsal itu, kami melihat seorang ibu menangis dan kami mendapati bahwa salah satu bayi di unit perawatan menengah telah meninggal dunia," Patricia menjelaskan.

Meski staf medis telah melakukan yang terbaik, salah satu bayi yang baru lahir di bangsal neonatal juga meninggal dunia pada malam pertama itu.

Sebuah generator akhirnya diantarkan ke rumah sakit, namun sebagai tanda kekacauan yang merajalela selama pemadaman, ia diantarkan bukan oleh petugas kesehatan atau pemerintah melainkan oleh colectivos.

 

Tidak ada uang, tidak ada pemakaman

Dan bukan hanya keamanan pangan dan layanan kesehatan yang hancur berantakan, bahkan memakamkan seseorang telah menjadi hampir tidak mungkin.

Anak laki-laki Maria Errazo tewas dibunuh di daerah kumuh tempatnya tinggal pada Kamis lalu, ketika pemadaman pertama kali terjadi. Sejak itu, jasadnya disimpan di kamar mayat Bello Monte.

Dengan kebanyakan kantor pemerintah tutup sejak Kamis siang, Errazo belum bisa mendapatkan dokumen yang dibutuhkan untuk melihat jasad anaknya atau melepasnya untuk dimakamkan.

Dan karena segelintir kantor yang buka tidak dapat mencetak atau terhubung ke internet, perempuan itu juga belum menerima konfirmasi resmi tentang bagaimana anaknya terbunuh.

Tapi bahkan jika Errazo bisa membawa anaknya pulang, ia tidak mampu membayar pemakamannya. Hiperinflasi yang tak terkendali di Venezuela telah menghapus nilai sedikit tabungan yang ia punya dalam Bolivar.

"Kita tidak punya uang," katanya dengan tegar, tentang ketidakmampuannya untuk memakamkan anaknya sendiri. Bank-bank tutup dan hampir tidak ada jaringan telepon seluler.

"Saya bahkan tidak bisa menelepon untuk berusaha menemukan solusi," ujarnya.

Ketika malam tiba, kami mendapat informasi bahwa toserba yang kami kunjungi di pagi harinya sedang dijarah.

Kami buru-buru ke sana, tiba tepat waktu untuk menyaksikan puluhan warga lokal ditahan dan ibu, istri, dan anak mereka histeris dengan amarah pada Garda Nasional.

"Kami harus bagaimana?" teriak seorang perempuan kepada petugas. "Cucu kami sekarat karena kelaparan."

Jeritan minta tolong perempuan itu menandai akhir satu hari dalam kejatuhan Venezuela ke dalam kegelapan.

 

Trump Di Balik Serangan

Presiden Venezuela, Nicolas Maduro menyampaikan pihak berwenang menangkap dua orang yang dicurigai berusaha melakukan sabotase sistem listrik negara pada Senin petang. Dilaporkan sebelumnya, selama lima hari terakhir listrik mati di negara tersebut dan sedikitnya 17 orang meninggal dunia.

"Kami telah menangkap dua orang yang berusaha menyabotase sistem komunikasi di bendungan Guri untuk menghalangi proses perbaikan (pasokan listrik). Mereka sedang diperiksa", kata Maduro dalam pidatonya, dilansir dari Sputnik News, Selas (12/3).

Maduro juga menuding Presiden AS Donald Trump yang paling bertanggung jawab atas gangguan sistem jaringan listrik Venezuela.

"Donald Trump adalah sosok kunci yang bertanggung jawab untuk serangan siber pada sistem kelistrikan Venezuela. Dia mengatakan semua skenario (sehubungan dengan Venezuela) memungkinkan, dan boneka serta badutnya di Venezuela sendiri menggaungkan hal itu. Serangan siber berteknologi tinggi digunakan untuk melawan Venezuela, dan hanya pemerintah AS yang memiliki teknologi (yang diperlukan untuk melakukan serangan semacam itu)", jelasnya.

Dia menambahkan, serangan siber telah dilokalisasi dan pihak terkait sedang bekerja memulihkan pasokan listrik.

Pemadaman listrik melanda Venezuela pada hari Kamis ketika pemasok listrik nasional Corpoelec melaporkan sabotase di pembangkit listrik tenaga air utama Guri. Media kemudian melaporkan pemadaman listrik di 21 dari 23 negara bagian Venezuela. Maduro menyalahkan Amerika Serikat karena mengobarkan perang energi melawan Venezuela, sementara Washington membantah berperan dalam krisis tersebut.

 

Tarik Semua Diplomat

Pemerintah Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk menarik semua diplomatnya dari Venezuela. Keputusan tersebut diambil lantaran AS menganggap situasi di Venezuela yang terus memburuk.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyampaikan pengumuman tersebut melalui akun Twitternya, @SecPompeo, Selasa (12/3/2019).

"AS akan menarik semua personel yang tersisa dari @usembassyve minggu ini. Keputusan ini mencerminkan situasi yang memburuk di #Venezuela serta kesimpulan bahwa kehadiran staf diplomatik AS di kedutaan telah menjadi kendala pada kebijakan AS," cuit Pompeo.

Belum diketahui ada berapa orang diplomat yang ditarik dari kantor kedutaan AS di Caracas dan kapan waktunya. Presiden Donald Trump juga belum menyampaikan pernyataan terkait hal ini.

Terkait krisis di Venezuela, pemerintah Venezuela telah melarang masuk ratusan ton bantuan kemanusiaan dari berbagai negara, tapi ternyata tidak semua bantuan internasional ditolak.

BBC melaporkan, truk-truk yang berisi pasokan bantuan dari Amerika Serikat, Brasil, dan Kolombia dilarang masuk ke wilayah Venezuela.

AS, yang mendukung pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido, mengatakan mereka menawarkan bantuan kemanusiaan sebesar $20m atau setara dengan Rp 282 miliar.

Presiden Maduro menyangkal terjadinya krisis kemanusiaan dan mengatakan upaya bantuan yang dipimpin AS adalah bagian dari rencana untuk mengganggu pemerintahannya.

Meski begitu, tidak semua bantuan kemanusiaan internasional ditolak.

Pemerintah Venezuela memuji Rusia, sekutu presiden Nicols Maduro, karena mengirim bantuan dan mengatakan 300 ton bantuan telah diangkut ke Venezuela.(tri/mer/det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>