AHY Berpotensi Dampingi Prabowo

Minggu, 08 Juli 2018  18:06

AHY Berpotensi Dampingi Prabowo

Prabowo dan AHY

JAKARTA (BM) – Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sedang mempertimbangkan siapa yang bakal mendampinginya dalam Pilpres 2019 mendatang. Salah satu nama yang dipertimbangkan sebagai cawapresnya adalah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Seberapa besar peluangnya?

Putra Presiden RI ke-6, Agus Harimurti Yudhoyono memiliki tingkat keterpilihan (elektabilitas) tinggi sebagai calon wakil presiden 2019. AHY dinilai layak menjadi wakil Prabowo Subianto, juga serasi bila disandingkan dengan Jokowi. Demikian dikatakan pengamat politik dari Universitas Pelita Harapan, Emrus Sihombing.

Alasannya, AHY merupakan representasi kaum milenial yang akan mendominasi pemilih di kontestasi lima tahunan 2019 mendatang. Pemilu 2019 diyakini bakal diikuti oleh lebih dari 40 persen pemilih milenial.

"Ciri-ciri generasi milenial itu well informed, terbiasa dengan teknologi, kritis, rasional dan trendi. Dan ciri-ciri ini ada pada diri AHY. Jadi AHY menurut saya cukup merepresetasikan kaum milenial," kata Emrus Sihombing, Minggu (8/7).

Emrus juga tidak sependapat dengan pihak-pihak yang mengatakan, AHY hanya populer sebagai selebritis dan bukan sebagai politisi. Sebab, seorang pemimpin tidak harus politisi. Semua orang menurutnya, bisa menjadi pemimpin selama dia memiliki kapabilitas dan kemampuan.

Menurut Emrus, profesi apapun termasuk selebrities berhak menjadi pemimpin. Ini telah dibuktikan oleh aktor dan bintang televisi, Ronald Reagen, yang sukses menjadi Gubernur Califot dan Presiden Amerika Serikat ke-40. Melalui kebijakan ekonominya "Reagenomics", Reagen sukses mengakhiri perang dingin selama kepemimpinannya.

AHY, Emrus melanjutkan, juga memiliki banyak prestasi pribadi yang tidak ada hubungannya dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Presiden dua periode. AHY lulusan terbaik Akademi Militer sekaligus peraih gelar Master of Public Administration dari John F. Kennedy School of Government, Universitas Harvard, Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat.

"Jadi kalau ada yang bilang AHY hanya membawa nama besar SBY, saya kira itu suatu kesimpulan yang prematur karena hanya berbasis opini. Comment sense atau akal sehat bisa menyesatkan jika tidak disertai dengan data," imbuh Emrus.

Selain itu, tidak selamanya putra seorang Presiden memiliki konotasi negatif. Bukankah George Bush jadi presiden kemudian anaknya Bush junior kemudian juga menjadi presiden. Jadi sangat mentah alasan, karena dia anaknya SBY, AHY dianggap tidak layak jual," paparnya.

Justru, kata Emrus, AHY memiliki kelebihan dibanding figur-figur calon presiden dan wakil presiden dari segi kedekatan dengan generasi milenial. Dimana perilaku pemilih sangat melekat dengan figur yang memiliki ciri-ciri yang sama dengan pemilihnya.

"Dari votting behavior, orang akan memilih ketika dia homogen dengan seorang sosok. Bukankah AHY itu representasi dari kaum milenial. Kaum milenial homogen atau melekat dengan ciri-ciri yang ada pada AHY, sehingga ini nilai jual. Siapapun pasangannya," jelas dia.

"Walaupun saya tidak tahu lobi-lobi politik di belakang, andaikan AHY dipasangkan dengan Joko Widodo saya kira bagus. Tapi kembali lagi saya tidak mengeahui bagaimana lobi-lobi politik di belakang panggung," tutup Emrus.

Ketum Gerindra Prabowo Subianto mengatakan penentuan capres/cawapres harus dibicarakan bersama parpol lain. Prabowo akan merundingkan bakal cawapres dengan PKS dan PAN.

"Saya sudah katakan selalu, saya sudah menjalin suatu persahabatan di saat susah terutama sama kawan-kawan di PKS dan PAN. Jadi saya sudah komitmen sama mereka tidak ada keputusan yang saya ambil tanpa keterlibatan mereka. Jadi ada suatu gentlemen's agreement," kata Prabowo kepada wartawan di kediamannya Jl Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (7/7/2018).

Prabowo menegaskan, dirinya terbuka dengan semua bakal calon yang digadang-gadang. Prabowo sebelumnya sudah menyebut nama Anies Baswedan, Agus Harimurti Yudhoyono juga Sandiaga Uno.

"Jadisaya welcome terhadap semua calon dan saya bertekad membangun suatu koalisi yang besar yang inklusif yang mencerminkan semua komponen bangsa," sambungnya.

Prabowo ingin jalinan koalisi dibangun dengan kesamaan pandangan mengenai upaya perbaikan bangsa. Alasannya kondisi bangsa saat ini tidak baik.

"Saya komunikasi dengan semua pihak. Jadi ini proses berjalan saya kira saya terbuka dan saya ingin berpikir positif karena kita harus bekerja untuk rakyat. Rakyat mendambakan suatu keadilan, kebenaran ekonomi kita dalam keadaan susah. Rupiah merosot terus mencerminkan ekonomi fundamental rapuh tidak baik dan sudah saya ingatkan kekuatan ekonomi kita tidak ada di tangan Indonesia," sambungnya.

Sebelumnya, Prabowo juga berbicara tentang calon wakil presidennya untuk Pilpres 2019. "Pak Anies salah satu calon, tokoh muda yang kami pandang capable. Jadi saya kira beliau calon serius juga. Calon wakil yang serius," ujar Prabowo di kediamannya, Jl Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (6/7/2018).

Selain Anies, Prabowo melirik beberapa nama untuk posisi cawapres. Prabowo turut menimbang Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Prabowo juga mempertimbangkan Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra Sandiaga Salahuddin Uno.

"Kenapa saya mengatakan kita pun melirik Saudara AHY. Masalahnya adalah bahwa bagian dari pemilih yang usia di bawah 45 tahun besar sekali. Jadi, kalau antara pemilih dan calon di atas itu hubungan emosionalnya terlalu jauh, ini tidak baik juga. Makanya, saya ingin mencari seperti Pak Anies juga di bawah saya cukup jauh usianya," tutur Prabowo.

"Saya juga melirik... waktu itu terus terang saja melirik Pak Sandiaga Uno sehingga terwakili semangat generasi muda karena Indonesia ini milik anak-anak muda. Kami ini harus menyiapkan. Kenapa kami masih di panggung, karena kami tidak rela melihat negara ini seperti ini," sebut Prabowo.

Ketua DPP Partai Gerindra Ahmad Riza Patria tak menampik saat ini Partai Demokrat juga intensif berkomunikasi dengan partai Gerindra. Dia menyebut, dalam Pilpres 2019 mendatang, tak menutup kemungkinan partainya akan membentuk koalisi bersama dengan PKS, PAN, dan juga Partai Demokrat.

"Dalam perjalanannya kan kita juga tidak menutup ruang bagi partai lain yang ingin berkoalisi dengan Gerindra, PKS, dan PAN. Alhamdulillah, belakangan ini partai Demokrat yang selama ini menjadi partai penyeimbang dan selama ini Demokrat yang belum menentukan sikap, belakangan ini kan semakin intensif ketemu dengan Gerindra, dan semakin dekat bersinergi. Jadi kemungkinan besar, selain dengan PKS dan PAN, bersama juga dengan Demokrat," ujar Riza, Minggu (8/7).

Riza menenkankan, kemungkinan koalisi partainya bukan Gerindra-Demokrat. Tetapi, PKS dan PAN yang juga terlebih dahulu melakukan komunikasi dengan Gerindra, juga akan bersama-sama membentuk koalisi untuk melawan pejawat. Selain itu, Riza juga mengatakan partainya juga tak menutup kesempatan untuk berkoalisi bagi partai lain. Dia menyebut, partai-partai di luar parlemen yang lain seperti PBB dan Partai Idaman juga akan berkoalisi dengan partai berlambang kepala garuda itu.

"Mudah-mudahan juga ada partai lain yang mungkin saja bisa berkoalisi seperti PKB juga. Kan PKB belum memutuskan koalisinya," ucapnya.

Politikus Partai Gerindra itu menerangkan, koalisi yang tengah dibentuk saat ini dengan partai-partai yang dia sebutkan itu, masih dilakukan diskusi. Hal itu mengingat masing-masing partai memberikan nama-nama kader terbaiknya untuk diajukan menjadi calon presiden dan wakil presiden pada kontestasi Pilpres 2019 mendatang.

Oleh sebab itu, Riza juga menuturkan, pihaknya tengah menghormati dan menghargai masing-masing partai tersebut yang mengajukan nama-nama kader terbaiknya. Sebab, saat ini, menurutnya, koalisi tersebut adalah koalisi bersama yang tidak bisa berdiri sendiri-sendiri.

"Kita semua partai ini saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Saling membutuhkan satu sama lain, karena masing-masing tidak bisa berdiri sendiri-sendiri. Kita harus berdiri bersama-sama dalam memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara," jelasnya. (rep/det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>