AHY dan Emil Masuk Radar Calon Pendamping Khofifah

Selasa, 07 November 2017  19:32

AHY dan Emil Masuk Radar Calon Pendamping Khofifah

Gus Ipul (kanan) dan Azwar Anas

Malang (BM) - Muncul nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Emil Dardak sebagai bakal calon pendamping Khofifah Indar Parawansa dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur 2018. Dua nama tersebut, kabarnya masih di tangan Tim 9 pimpinan KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai NasDem, Rendra Kresna mengomentari secara langsung tentang kabar kemunculan dua nama tersebut. Tetapi pihaknya sebagai pengusung Khofifah pada akhirnya akan menyerahkan posisi calon wakil gubernur kepada Ketua Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) tersebut.

"NasDem jelas mendukung Khofifah, mengusung Khofifah. Kalau bicara pendampingnya, nanti akan dibicarakan oleh para petinggi partai," kata Rendra Kresna di Pendopo Kabupaten Malang, Selasa (7/11).

"Tapi yang terakhir, pasti jatuhnya (diserahkan) pada Bu Khofifah. Bu Khofifah nanti yang menentukan, karena wakil, nantinya yang akan menjadi bagian keseharian dari seorang gubernur," sambungnya.

Rendra menegaskan, Khofifah nantinya akan menjadi penentu siapa calon pendampingnya. Munculnya nama AHY, Emil Dardak (Bupati Trenggalek), Hasan Aminudin (Kader Nasdem) dan Ipong Muclison (Bupati Ponorogo) dinilai sebagai calon-calon yang layak menjadi pendamping.

"Siapapun, terakhir nanti pada Ibu Khofifah sendiri," tegasnya.

Sebagai Ketua DPW Nasdem Jatim, Rendra telah berbicara dengan nama-nama yang muncul tersebut, kecuali AHY. Pembicaraan selama ini memang seputar kemungkinan dan peluang untuk menjadi pendamping Khofifah.

"Secara pribadi, saya telah bicara dengan nama-nama yang sudah disebutkan tadi, kecuali AHY. Tapi dengan Hasan, Emil, Ipong, saya sebagai Ketua DPW Nasdem sudah pernah berbicara tentang pulangnya menjadi pendamping Bu Khofifah. Namun dengan AHY, karena AHY di Jakarta belum pernah bertemu untuk bincang-bincang," urainya.

Tim 9 pimpinan KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah telah melakukan penyaringan 10 bakal calon wakil yang akan dipasangkan dengan Khofifah Indar Parawansa di Pilgub Jawa Timur 2018. Dari 10 nama yang dijaring, mengerucut dua nama yang hingga saat ini masih dirahasiakan oleh para kiai pendukung Khofifah.

Khofifah sendiri, kata Rendra, sebagai representasi NasDem, meskipun bukan anggota Partai NasDem. Karena kedekatan, perempuan yang masih menjabat Menteri Sosial itu didukung partai besutan Surya Paloh tersebut.

Terpisah, Forum Silaturahmi Ibu Nyai Kampung Jawa Timur (FSNKJT) mendesak Khofifah Indar Parawansa yang maju Pilgub Jawa Timur 2018, mundur sebagai Menteri Sosial dan Ketua Umum PP Muslimat NU.

"Di sini makanya, kami di sini, kami selaku Forum Silaturahmi Ibu Nyai Kampung menyampaikan aspirasi atas musyawarah kami bersama," tegas Ketua FSNKJT, Elly Chismaladani dalam jumpa pers di Surabaya, Selasa (7/11).

Merujuk pada AD/ART Muslimat NU Bab VII Pasal 37 ayat (1), menyebut, bahwa apabila ketua umum berhalangan (tetap), maka digantikan ketua I menjadi pelaksana tugas (Plt) ketua umum. Artinya, ketua umum yang hendak maju Pilkada, cukup dengan cuti.

Terkait permintaan agar Khofifah mundur sebagai Mensos, jika melihat Pasal 7 UU Nomor 10 tahun 2016 tentang Pilkada, Khofifah tidak perlu mundur. Dalam aturan itu menyebut: Calon yang maju tidak harus mundur dari jabatannya, kecuali anggota DPR, DPRD, DPD, TNI/Polri dan PNS. Sementara menteri meminta izin kepada presiden selaku atasannya.

Aturan menteri tidak harus mundur ketika maju Pilkada juga tertuang dalam Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pencalonan Kepala Daerah. "Ini aspirasi kami," tandas Elly lagi.

Selain meminta Khofifah mundur sebagai Mensos dan Ketua PP Muslimat NU, FSNKJT juga mengimbau tokoh-tokoh pendukung Khofifah untuk tidak mengeluarkan pernyataan yang membawa-bawa masalah hukum agama dalam Pilkada Jawa Timur. "Kita intinya di sini adalah, kami mengimbau agar tokoh-tokoh Jatim tidak mengeluarkan statement yang mencampur-adukan antara hukum agama dengan masalah politik," tutur Elly.

Imbauan Elly ini merujuk pada statement pengasuh Ponpes Amanatul Ummah, KH Asep Saifuddin Chalim beberapa waktu lalu. Kiai Asep mengatakan, bahwa mendukung Khofifah adalah fardu 'ain (wajib) yang kemudian dikutip oleh media massa.

"Seperti yang fokus ini ya, seperti yang saya baca di media online beberapa waktu lalu, seperti itu," ucapnya.

Sayang, Elly lagi-lagi tidak bisa menjelaskan detail imbauannya untuk para kiai NU dan para pendukung Khofifah itu. Dia malah menyerahkan penjelasan dari pertanyaan itu kepada Ketua FK3JT, Fahrurrozi atau Gus Fahrur.

"Maaf saya tidak bisa menjelaskan secara detail, mungkin Anda sendiri sebagai wartawan sendiri tahu beberapa waktu lalu ada di media sosial online di situ ada," elaknya.

Meski didesak, Elly tetap enggan menjawab. "Mungkin nanti itu terlalu jauh, keputusan ini kami mendukung, nanti akan menjelaskan itu, Insya Allah ketua kiai kampung akan menjelaskan setelah ini," tandasnya sembari menegaskan pihaknya mendukung Gus Ipul-Abdullah Azwar Anas di Pigub Jawa Timur.

 

Belum Aman

Masih terkait Pilgub, Pasangan Saifullah Yusuf (Gus Ipul)-Abdullah Azwar Anas sementara ini unggul di berbagai survei Pilgub Jatim 2018.  "Untuk Gus Ipul-Anas memang sampai sekarang pada posisi tertinggi namun demikian posisi tersebut belum berarti aman," kata Airlangga Pribadi, Pengajar Departemen Politik FISIP Universitas Airlangga, Selasa (7/11/2017).

"Mengingat selisih suara Gus Ipul dengan Khofifah terpaut dengan tipis sekitar 3%," sambung Airlanga.

Airlangga yang juga menjadi CEO The Initiative Institute memang telah melakukan survei terhadap 1.016 responden di 108 desa/kelurahan di Jawa Timur dengan waktu pengambilan data 6-20 September 2017.

Ia memprediksi Gus Ipul dan Khofifah bakal bersaing ketat dalam Pilgub Jatim 2018. Elektabilitas Gus Ipul hingga September 2017 sebanyak 36,3%, Khofifah 32,4%.

Hasil itu merangkak tipis jika dilihat sebelumnya. Karena survei pada bulan April Gus Ipul 33,4%, sedangkah Khofifah 28%. Posisi Anas yang oleh direkomendasi PDIP sangat membantu.

Dari hasil survei terakhir, Anas sebagai posisi cawagub memperoleh angka 19,7% suara alias tertinggi dibanding nama-nama lainnya.

"Gus Ipul terselamatkan oleh wakilnya Anas yang memiliki kapasitas dan dikenal berhasil membawa daerah Banyuwangi lebih baik," katanya.

Bagi Airlangga, dipasangkannya Anas dengan Gus Ipul harus menjadi perhatian serius Khofifah. Mensos yang kini didukung Partai NasDem, Hanura, Golkar dan Partai Demokrat harus cermat memilih calon wakil.

"Tantangan bagi Khofifah adalah memilih wakil yang bisa bersaing dengan Anas. Baik dia berusia muda, memiliki kapasitas menjadi pemimpin, dan teruji," terangnya.(det/mer/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>