Belum Deal, Koalisi Prabowo Hari Ini Bertemu

Rabu, 08 Agustus 2018  06:00

Belum Deal, Koalisi Prabowo Hari Ini Bertemu

Yandri Susanto

Jakarta (BM) – Partai koalisi pendukung Prabowo Subianto hingga kini belum ‘deal’ soal siapa cawapres yang bakal mendampingi Ketua Umum Partai Gerindra tersebut. Tarik-menarik masih terjadi, apakah akan mengusung AHY, UAS, atau Salim Segaf?

Waketum Gerindra Fadli Zon mengungkapkan para ketum koalisi Prabowo Subianto akan bertemu Rabu (8/8). Pertemuan tersebut rencananya dihadiri Ketum Demokrat-PKS-PAN.

"Saya kira mestinya besok (Rabu, 8 Agustus 2018)," ujar Fadli di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Selasa (7/8/2018).

Fadli mengungkapkan, rencananya pertemuan akan digelar pada sore atau malam hari. Pertemuan tersebut untuk melakukan finalisasi sebelum pada Kamis (9/8) koalisi mendeklarasikan capres dan cawapres.

Namun Fadli enggan membocorkan di mana lokasi pertemuan para ketum tersebut.

"Mungkin sore atau malam, ya," ungkapnya.

Sebelumnya, terkait pertemuan para ketum ini juga diungkapkan anggota Badan Komunikasi Gerindra Andre Rosiade. Andre menyebut para pimpinan partai koalisi direncanakan berkumpul Selasa (7/8) atau Rabu (8/8).

Hal yang sama disampaikan Ketua DPP Partai Demokrat Jansen Sitindaon. Dia menyebut para ketum koalisi Prabowo bersiap bertemu untuk mematangkan kerja sama.

"Kan forum sekjennya sudah rutin bertemu, nih. Nanti kalau hal-hal yang menjadi tanggung jawab forum sekjen itu sudah selesai, pasti akan melaporkan ke ketua umum masing-masing. Barulah nanti kemudian antar-ketua umum bertemu," jelas Jansen di Restoran Raden Bahari, Jalan Buncit Raya No 135, Mampang, Jakarta Selatan, Senin (6/8).

Waketum Gerindra Fadli Zon juga membenarkan adanya pertemuan antara Ketum Gerindra Prabowo Subianto dengan Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Selasa (7/8) siang. Keduanya bertemu di rumah SBY di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

"Iya (bertemu tadi siang)," ujar Fadli Zon saat dimintai konfirmasi, di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Selasa (7/8/2018).

Menurut Fadli, SBY-Prabowo bertemu untuk membahas perkembangan koalisi Prabowo. Khususnya terkait cawapres.

"Membicarakan secara keseluruhan lah. Bagaimana perkembangan apa namanya dan saya kira sudah semakin mengerucut lah," kata Fadli.

Saat ditanya apakah dalam pertemuan itu dibahas juga soal menguatnya nama Ustaz Abdul Somad (UAS) sebagai cawapres, Fadli membantah. "Nggak (bahas UAS)," katanya.

 

Survei

Terpisah, Founder Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menyebut ada tiga hal yang jadi pertimbangan Prabowo Subianto sebelum memutuskan cawapresnya. Salah satunya elektabilitas cawapres pendampingnya.

"Sekarang ini Prabowo ini berhitung banyak hal yang tentu saja perhitungan untuk membuat dia menang," kata Denny JA saat berbincang dengan wartawan, Selasa (7/8/2018).

Untuk mengejar kemenangan di Pilpres 2019, Prabowo dinilainya harus memperhatikan tiga hal penting. Pertama adalah kepastian mendapatkan koalisi untuk mengamankan satu tiket ke Pilpres 2019.

"Yang pertama, kepastian mengamankan presidential threshold 20 persen," kata Denny.

Untuk syarat pertama ini, menurut Denny, lebih mudah Prabowo membangun koalisi dengan Partai Demokrat. Syarat kedua adalah kesiapan logistik. Ini jadi hal paling penting bagi Prabowo buat melawan incumbent di Pilpres 2019.

"Siapa yang lebih siap menyediakan logistik karena ini pertarungan melawan incumbent. Ibaratnya incumbent bergigi tiga, lawannya harus bergigi empat, jadi dana logistik harus besar kalau mau menang. Dan yang lebih siap adalah Partai Demokrat," kata Denny JA.

Faktor terakhir adalah elektabilitas pasangan cawapresnya. Elektabilitas Prabowo perlu didongkrak oleh pasangan cawapresnya.

"Ketiga, dari sisi elektabilitas calon, pastinya AHY dibandingkan Abdul Somad dan lainnya pasti AHY lebih tinggi. Tapi tentunya dari perhitungan akhir, tentu Prabowo punya pertimbangan sendiri," tuntasnya.

Saat ini ada dua kandidat cawapres Prabowo yang menguat, yakni AHY dan Ustaz Abdul Somad. AHY didorong oleh PD, sedangkan UAS didorong oleh PAN dan Gerindra. Sedangkan satu bakal koalisi lainnya, yakni PKS, masih mendorong Salim Segaf Aljufri.

 

Dukung Prabowo

PAN yang selama ini disebut-sebut sebagai partai koalisi pendukung Prabowo, ternyata masih belum memberikan sikap yang jelas. Bahkan Selasa (7/8) kemarin Zulkifli Hasan dikabarkan masih bertemu Jokowi. Akankah PAN merapat ke Jokowi?

PAN sendiri telah memberi sinyal akan melabuhkan dukungan ke Prabowo Subianto di Pilpres 2019.

"Peta sudah jelas ya, kita Insyaallah ke Prabowo kalau dari peta yang ada. Tapi sekali lagi, ada syaratnya, yaitu kita tetap mendorong Bang Zul (Ketum PAN Zulkifli Hasan)," kata Ketua DPP PAN Yandri Susanto di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/8/2018).

Andai Prabowo tak memilih Zul sebagai cawapres, PAN meminta Ketum Gerindra itu memilih kandidat cawapres non-parpol. Alasannya, itu bisa jadi jalan tengah yang bisa diterima semua partai koalisi.

"Kalau tidak, itu kita tetap minta tetap ke Pak Prabowo tidak ngambil partai lain," sebut Yandri.

Keputusan sikap resmi PAN akan diambil saat rakernas. Sedianya rakernas ini akan digelar pada Senin (6/8) lalu, tapi ditunda.

Meski cenderung berkonsolidasi dengan koalisi Prabowo, tampaknya PAN masih bermain dua kaki. Ketum PAN Zulkifli Hasan sore tadi diam-diam ke Istana untuk menemui Joko Widodo.

Zulkifli Hasan yang juga ketua MPR itu, kabarnya masih mengendorse Ustaz Abdul Somad sebagai cawapres Prabowo. Somad merupakan salah satu kandidat cawapres Prabowo hasil Ijtimak Ulama yang pembukaan acaranya dihadiri Zulkifli.

"Paling ramai diperbincangkan ini UAS ya. Cuma kan UAS-nya belum tahu ya," kata Zulkifli di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/8/2018).

Dia juga mengaku hari ini berencana bertemu dengan Somad. Meski kerap wira-wiri bersama Koalisi Prabowo, PAN selalu menyebut belum memutuskan sikap resmi untuk Pilpres 2019. Keputusan akan diambil di Rakernas yang disebut dijadwalkan esok hari, Rabu (8/8).

Beberapa jam setelah membicarakan soal Koalisi Jokowi, Zulkifli pun terpantau mendatangi Istana. Kedatangannya seolah memberi sinyal PAN juga masih ingin bergabung dengan Koalisi Jokowi.

Pantauan di lokasi, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (7/8/2018), terdapat mobil pejabat berpelat B 1707 RFS. Mobil berpelat itu juga pernah dipakai Zulkifli saat bertemu Jokowi di Bogor.

Sekitar satu jam setelah kedatangan, mobil yang ditumpangi Zulkifli keluar dari kompleks Istana. Tak ada sepatah kata keluar dari Zulkifli.

 

Pengumuman Cawapres

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono menyebut kemungkinan koalisi partai pendukung Prabowo Subianto akan mengumumkan calon wakil presiden pada tanggal 8 Agustus 2018. Namun, Arief mengaku belum mengetahui siapa cawapres pilihan Prabowo.

"Ya tanggal 8 kayaknya diumumin, pasangannya pak Prabowo," kata Arief di Kantor KPU, Menteng, Jakarta, Selasa (7/8).

Dia mengungkapkan alasan dipilihnya tanggal 8 sebagai waktu deklarasi. Menurutnya, angka delapan adalah angka keberuntungan yang tak pernah putus. Angka 8 juga bisa menandakan kemenangan Prabowo sebagai Presiden ke-8 RI.

"Delapan itu kan enggak putus, dan Prabowo itu kan presiden kedelapan. Kan delapan angka enggak putus kedua delapan itu angka kalau di China itu angka yang beruntung, tidak pernah putus, lingkarannya enggak pernah putus. Artinya ini Presiden kedelapan," ujarnya.

Meski demikian, Arief tidak tahu kapan koalisi pendukung Prabowo mendaftarkan pasangan capres-cawapres ke KPU. Dia hanya memastikan Prabowo dan cawapres pilihannya akan diantarkan oleh ribuan buruh ke KPU.

"Deklarasi kita belum tahu tempatnya, tapi teman-teman buruh akan mengantarkan pak Prabowo dan cawapresnya ke KPU," ujarnya.

"Nah sekarang tanggal 7 besok diumumkan, dan diharapkan pasukan-pasukan buruh akan masuk ke ibu kota karena akan kita penuhi 50 ribu buruh, di luar kader partai," kata Arief.

Saat ini, para buruh se-Jawa tengah melakukan longmarch menuju Jakarta. Info terakhir, menurutnya, para buruh sudah berada di Bandung, Jawa Barat.

"Long march kita baru sampai di Jabar, tadi katanya baru masuk Bandung, itu jalan kaki," terangnya.

Arief menuturkan, pihaknya telah meminta izin kepada pihak kepolisian terkait kegiatan buruh mengantarkan Prabowo dan cawapresnya ke KPU. Dia berjanji para buruh tidak akan membuat keributan.

"Kan kita sudah minta izin, polda, mabes sudah tahu yang pasti kawan-kawan saya buruh tidak akan buat keributan dan tidak akan berantem sama relawannya Jokowi. Walaupun pak Jokowi menyarankan berantem tapi kita enggak mau," ucapnya.

Dia meminta maaf jika aktivitas para buruh akan membuat kemacetan di sekitar kantor KPU. "Artinya siap-siap macet dan mohon maaf kepada warga Jakarta. Kan ini antusiasme dari teman teman buruh yang akan memenangkan Prabowo Subianto sebagai Presiden ke delapan RI," tandasnya. [bal]

 

Dukung UAS

Juru Bicara Persaudaraan Alumni (PA) 212, Novel Bamukmin mengaku Ustaz Abdul Somad (UAS) bersedia maju sebagai calon wakil presiden Prabowo Subianto. Dengan syarat, sosok penceramah itu diberikan amanah oleh masyarakat.

Menurut Novel, petinggi PA 212 telah melakukan pertemuan dengan Somad di Palembang. Ketika itu, Somad tak menyatakan sikap menolak atau menerima.

"Ustaz Abdul Somad memang tidak mengaku tidak siap menerima langsung juga tidak siap untuk tidak menerima. Dan memang beginilah akhlak ulama menerima tidak, menolak juga enggak," kata wakil ketua Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) saat deklarasi Ustaz Abdul Somad sebagai cawapres Prabowo Subianto di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur, Selasa (7/8).

Dia mengatakan, diamnya Somad ini menjadi pertanda bagi koalisi keumatan alias Gerindra, PKS, dan PAN untuk mengambil sikap. Menurutnya, Somad bakal bersedia jika partai mendeklarasikan langsung.

"Artinya Ustaz Abdul Somad insya Allah bersedia asalkan kalau sudah dideklarasikan partai-partai koalisi umat langsung menempatkan dideklarasikan Ustaz Abdul Somad bersedia," kata Novel.

Ketua Dewan Pembina ACTA Habiburokhman menambahkan, tugas mereka agar mengkomunikasikan dengan partai-partai koalisi oposisi. Hal itu agar tidak terjadi miskomunikasi dimana Somad tak mau maju dan Gerindra seolah-olah tak mau menerima. Habib menilai, Somad bukan menolak, melainkan memberikan contoh bahwa dirinya tak haus jabatan.

"Faktanya kedua belah pihak akan bersedia jika diberi amanat untuk memperbaiki kebangsaan. Karena dua orang ini punya karakter yang sama tidak mau mengojok-ojokan diri," klaim Ketua Bidang Advokasi DPP Gerindra itu. (det/rmo/mer/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>