Bocoran CIA: Jika 2 Calon Jokowi Akan Kalah

Rabu, 06 Juni 2018  19:31

Bocoran CIA: Jika 2 Calon Jokowi Akan Kalah

Survei Charta Politika: Prabowo Unggul di Banten, Jokowi Kuasai Jateng-Jabar-Jatim

JAKARTA (BM) - Petahana, Joko Widodo diprediksikan bakal kalah jika Pilpres tahun 2019 mendatang hanya diikuti oleh dua pasangan calon. Demikian dikatakan Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane saat diskusi bertajuk 'Tarik Ulur Kekuatan Capres Cawapres 2019. Siapa Berpeluang?' di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (6/6).

Menurut Neta argumentasinya berdasarkan informasi dari Central Intelligence Agency (CIA) yang menurutnya sempat 'bocor'. "CIA bilang kalau ada tiga calon, Jokowi akan menang. Tapi kalau dua, diperkirakan Jokowi akan kalah. Hitung-hitungan CIA Jokowi tingkat elektabilitasnya tidak lebih dari 35 persen," ungkapnya

Data CIA terkait tingkat elektabilitas Jokowi itu, sambung Neta sempat diungkapkan oleh wartawan senior Derek Manangka sebelum dia meninggal dunia.

Namun demikian, Neta menilai, jika Pilpres 2019 menghadirkan kandidat Jokowi dan Prabowo Subianto, dipastikan Jokowi akan menang.  "Karena kan Pak Prabowo pernah kalah di Pilpres 2014 lalu," pungkasnya.

Neta S Pane, menilai isu penanggulangan aksi terorisme dan keamanan negara akan mempengaruhi Pemilu 2019.

Hal ini, karena Indonesia baru saja mengalami gangguan aksi terorisme, seperti peledakan di tiga gereja di Surabaya dan penyerangan kantor instansi Polri yang salah satunya terjadi di Mako Brimob.

"Isu terorisme tidak bisa dipisahkan dari keriuhan menjelang Pilkada, Pemilu, dan lain-lain," tutur Neta, dalam acara diskusi publik Center For Indonesian Election Tarik Ulur Kekuatan Capres Cawapres 2019 Siapa Berpeluang? di Jakarta Pusat, Rabu (6/6/2018).

Untuk itu, dia menilai, sosok yang akan maju memimpin Negara Indonesia ke depan harus mampu menyelesaikan permasalahan ganguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

Di posisi calon presiden kemungkinan besar akan bersaing Joko Widodo menghadapi Prabowo Subianto. Sedangkan untuk calon wakil presiden terdapat banyak nama yang bersaing.

Menghadapi situasi gangguan kamtibmas, kata dia, diperlukan calon wakil presiden berlatar belakang aparat keamanan. Dari instansi Polri terdapat nama Jenderal Tito Karnavian, Jenderal (Purn) Budi Gunawan. Selain itu, ada nama Wakil Ketua Badan Intelijen Negara (BIN), Asad Said Ali.

"Munculnya nama dari kepolisian. Pertama, Budi Gunawan, Tito Karnavian, Asad Said Ali, di mana wakil Ketua Badan Intelijen Negara. Ini satu fenomena menarik dua nama intelijen masuk dalam bursa cawapres," kata dia.

Dia mengibaratkan, penanganan gangguan kamtibmas sebagai pisau bermata dua bagi calon wakil presiden berlatar belakang aparat keamanan.

"Bisa dianggap akan menjatuhkan citra polisi yang masuk dalam bursa. Bahwa, kelompok radikal dan kelompok tertentu tidak suka dengan polisi sehingga menjatuhkan. Tetapi, satu lain ini bisa menaikkan elektabilitas dari polisi apalagi mereka dalam waktu cepat menangani kantong-kantong terorisme," tambahnya.

 

Survei Charta Politika

Di tempat terpisah, Charta Politika merilis hasil survei terhadap elektabilitas calon presiden 2019 di Pulau Jawa.

Survei dilakukan pada 23-29 Mei 2018. Survei dilakukan di 4 wilayah, yakni Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Empat wilayah dipilih, karena wilayah Jawa merupakan kunci terkait perolehan suara.

Survei dilakukan kepada 1.200 responden untuk wilayah Jabar, Jateng, dan Jatim. Sedangkan, survei di Banten dilakukan kepada 800 responden. Survei menggunakan metode multistage random sampling. Margin of error dari survei +- 2,83%, dengan tingkat kepercayaan 95%.

Simulasi dilakukan dengan pertanyaan terbuka. Pertanyaan yang diajukan yakni, jika pemilu presiden dilakukan hari ini, siapa yang akan bapak/ibu pilih sebagai presiden?.

"Memang masih dikuasai dua nama juga, Jokowi dan Prabowo. Memang berbeda dengan sejumlah survei nasional, kecuali INES dan IDM. Hasilnya, di Banten Prabowo unggul dengan 28,5 persen," ujar Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya, dalam paparannya, di Hotel FX Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (6/6/2018).

Sementara, di Jabar, Jokowi unggul dengan 38,8 persen. Kemudian disusul Prabowo Subianto dan Gatot Nurmantyo.

"Jokowi unggul, sama polanya. Jadi jauh dua nama ini di atas. Ini kabar baik untuk Jokowi dibandingkan pemilu tahun 2014. Karena lumbung suara untuk Prabowo pada 2014 adalah Jabar. Saat diuji head to head tipis. Tapi Jokowi unggul 46,1 persen. Dan Prabowo 40,5 persen," katanya.

Di Jateng, nama Jokowi kembali unggul. Pada wilayah ini, Jokowi mendapat perolehan suara di atas 50 persen.

"Agak jauh terlihat. 53,1 persen memilih Jokowi. Ada dua asumsi, pertama adalah karena perwakilan Jateng, kedua memang basis tradisional merah. Ketika head to head juga jauh sekali Jokowi 67,3 persen," ungkap Yunarto.

Yunarto mengatakan, hasil Pemilu pada wilayah Jawa Tengah memang selalu dapat diterka. Sebab, persaingan pada wilayah ini tidak seketat wilayah lainnya.

"Jawa Tengah relatif, dari jauh-jauh hari kita bisa menerka siapa pemenangnya. Tingkat persaingannya tidak seketat daerah yang lain. Tingkat kepuasan di daerah ini kepada pemerintah sudah hampir 80 persen. Kalau sudah di atas 70 persen bisa dipastikan petahana akan menang," katanya.

Sementara di Jatim, Jokowi juga kembali unggul dengan 47,7%. Kemudian kembali disusul oleh Prabowo Subianto dengan 24,5%.

"Nomor satu Jokowi dengan 47,7 persen. Sementara Prabowo dengan 24,5%. Ini kabar baik lagi buat Jokowi. Karena sebetulnya, Pak Prabowo hanya kalah tipis di Jatim pada pilpres 2014. Ini menunjukkan gap besar perolehan suara Prabowo pada Pilpres 2014 dengan survei sekarang," pungkasnya.

Berikut hasil survei Charta Politika:

Banten: Prabowo: 28,5% ; Jokowi: 26,9% ; Gatot Nurmantyo: 1,9% ; Agus Harimurti Yudhoyono: 0,9% ; Anies Baswedan: 0,8% ;  Hary Tanoe: 0,5% ; Lainnya: 2,1% ; TT/TJ: 38,5%

Jabar:  Jokowi: 38,8% ; Prabowo: 30,2% ; Gatot Nurmantyo: 2.0% ; Anies Baswedan: 1,1% ; Hary Tanoe: 0,8% ; Agus Harimurti Yudhoyono: 0,6% ; Ridwan Kamil: 0,3% ; Lainnya: 2,1% ; TT/TJ: 26,3%.

Jateng : Jokowi: 53,1% ; Prabowo: 7,7% ; Gatot Nurmantyo: 0,9% ; Agus Harimurti Yudhoyono: 0,5% ; Muhaimin Iskandar: 0,3% ; Mahfud MD: 0,3% ; Hary Tanoe: 0,3% ; Anies Baswedan: 1,1% ; Romahurmuziy: 0,1% ; TT/TJ: 36,7%.

Jatim: Jokowi: 47,7% ; Prabowo: 24,5% ; Agus Harimurti Yudhoyono: 1,2% ; Gatot Nurmantyo: 0,8% ; Anies Baswedan: 0,7%  ; Susi Pudjiastuti: 0,3% ; Khofifah Indar Parawansa: 0,3% ; Mahfud MD: 0,1% ; TT/TJ: 24,4%. Rmo/tri/det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>