Ditawari Jatah Menteri, PKB Targetkan Cawapres

Senin, 04 Juni 2018  19:15

Ditawari Jatah Menteri, PKB Targetkan Cawapres

Daniel Johan

Jakarta (BM) – Koalisi keumatan yang didorong imam besar FPI Habib Rizieq Syihab, dan digawangi partai Gerindra terus melakukan gerakan politik. Koalisi ini mengajak atau membuka diri kepada partai lain untuk bergabung. Sampai saat ini telah ada 4 parpol yang diwacanakan berkoalisi, yakni PAN, PKS, PBB dan Gerindra sendiri.

Dalam lobi-lobi itu, Waketum Gerindra Fadli Zon menawarkan jatah kursi menteri kepada PAN dan PKS. "Dengan PAN dengan PKS saya kira sudah bagus, sudah semakin solid. Nanti insyaallah tentu kita harus dengan Demokrat kita ajak bicara, dengan PKB juga dengan yang lain," kata Fadli di gedung DPR, kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (4/6/2018).

Fadli menjelaskan komunikasi dengan pengurus kedua partai tersebut terus digencarkan. Salah satu tawaran politik yang mungkin diberikan ialah jatah menteri di kabinet bila Koalisi Keummatan berjaya.

Menurut Fadli, tawaran soal menteri merupakan lobi-lobi yang wajar dalam rangka power sharing. "Biasalah itu power sharing, tidak mungkin sendirian, tidak mungkin hanya ada satu yang untung. Semua harus win-win," sebut Wakil Ketua DPR itu.

Ke depan, Gerindra merencanakan pertemuan Prabowo Subianto dengan Ketum PD Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Namun belum dapat dipastikan kapan pertemuan itu diselenggarakan.

"Mungkin nanti ya, kita atur waktunya. Saya kira apa ini, apa nanti Lebaran kita lihatlah," tutur Fadli.

Sebelumnya, Waketum Gerindra Fadli Zon menawarkan kursi menteri kepada PD dan PKB bila berkenan bergabung bersama Koalisi Keummatan, yang dicetuskan oleh Habib Rizieq Syihab. Gerindra bersama PKS, PAN, dan PBB siap melaksanakan arahan dari imam besar FPI itu.

Menurut Fadli, tawaran soal menteri merupakan lobi-lobi yang wajar dalam rangka power sharing. "Biasalah itu power sharing, tidak mungkin sendirian tidak mungkin hanya ada satu yang untung. Semua harus win-win," sebut Wakil Ketua DPR itu.

Menyikapi hal tersebut, PKB menyatakan mereka menargetkan kursi cawapres di Pilpres 2019. Wasekjen PKB Daniel Johan mengingatkan partainya saat ini tak sekadar menargetkan kursi menteri di jajaran kabinet pemerintahan. Saat ini sang ketum, Muhaimin Iskandar (Cak Imin), sudah mulai running melakukan sosialisasi sebagai calon RI-2.

"Terima kasih yang dalam, tapi amanah para ulama dan kader seluruh Nusantara kepada Cak Imin adalah maju sebagai cawapres," ungkap Daniel saat dimintai tanggapan, Senin (4/6/2018).

Amanah itulah yang menurut Daniel menjadi motivasi bagi kader PKB bekerja lebih keras dalam pemenangan pemilu mendatang. Saat ini PKB tengah gencar membuka posko untuk Cak Imin dan gerakan agar Cak Imin menjadi cawapres bagi petahana Presiden Joko Widodo yang diberi nama 'JOIN'.

"Itu yang mendorong konsolidasi seluruh struktur hingga ke ranting terus bergerak bersama relawan-relawan dengan mendirikan puluhan ribu posko Cinta (Cak Imin untuk Indonesia) di luar posko JOIN yang juga menjamur," sebut Daniel.

Meski begitu, jatah cawapres di Pilpres 2019 bagi PKB disebut bukan untuk mengejar kekuasaan. Daniel menyebut PKB mengejar kursi cawapres untuk membawa kesejahteraan bagi masyarakat sesuai dengan amanah para ulama. Untuk itu, kesamaan visi-misi dengan sang capres menjadi hal penting.

"Kesamaan visi membangun ekonomi umat dan sektor riil, memastikan konsolidasi demokrasi terus berjalan sehingga mampu membawa kesejahteraan tetap menjadi yang utama, tidak semata-mata urusan menteri, karena Cak Imin maju sebagai cawapres untuk mewujudkan visi dan amanah yang dititipkan para ulama," urai Wakil Ketua Komisi IV DPR itu.

Tak hanya itu, ada sejumlah agenda khusus dari PKB, yang mengejar kursi cawapres. Salah satunya peningkatan kehidupan ekonomi rakyat Indonesia.

"Petani dan nelayan yang mayoritas warga NU juga harus benar-benar terangkat kehidupan ekonominya, jangan malah makin susah karena berbagai kebijakan yang tidak berpihak kepada mereka," urai Daniel.

 

SBY Bukan 'Yes Man'

Sementara itu, Wasekjen Partai Demokrat Rachland Nashidik mengatakan, partainya bukanlah partai yang mengejar kursi kabinet.

"Secara prinsipil, harus ditekankan, PD bukan Partai yang mengejar-ngejar kursi kabinet," kata Rachland saat dimintai tanggapan, Senin (4/6/2018).

Rachland mengatakan kursi kekuasaan hanyalah konsekuensi dari kesepakatan membentuk koalisi. Namun, dasar membentuk koalisi adalah kesamaan pandangan, platform dan pembagian peran.

"Semua harus berlangsung dalam kesejajaran dan mutual respect. Kalau cuma bagi-bagi kursi dengan syarat partai kami harus ikut saja pada apa yang sudah ditetapkan secara sepihak, pintu kami tertutup," tegasnya.

Menurut Rachland, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga pasti akan menolak tawaran jatah kursi menteri sebagai iming-iming koalisi di Pilpres 2019. SBY disebutnya sebagai tokoh yang mengutamakan kepentingan negara dan rakyat daripada sekedar kursi kabinet.

"Pak SBY bukan Yes Man. Beliau Presiden RI ke 6 dua periode dengan keberhasilan yang nyata dirasakan rakyat," ujar Rachland. (det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>