Duet JK-AHY Bikin Ramai, Median: Bahaya Buat Jokowi

Senin, 02 Juli 2018  20:02

Duet JK-AHY Bikin Ramai, Median: Bahaya Buat Jokowi

Poster JK-AHY

Jakarta (BM) –  Wacana duet Wapres Jusuf Kalla (JK) - Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di ajang Pilpres 2019 semakin terangkat ke permukaan. Sejumlah elite PD kompak ‘mengkampanyekan’ duet yang dianggap potensial tersebut, termasuk dengan memamerkan poster JK-AHY.

Seperti dilakukan Ketua Divisi Komunikasi Publik DPP Demokrat Imelda Sari, yang mem-posting gambar tersebut di status update WhatsApp Mesengger, Minggu (1/7). Dia juga mencantumkan caption dalam unggahannya itu.

"JK-AHY will coming soon," tulis Imelda.

Dalam poster ilustrasi vektor itu, terlihat gambar JK berdampingan dengan AHY. Warna ungu jadi background dalam poster tersebut.

Tak hanya Imelda, Wasekjen PD Andi Arief juga mem-posting poster tersebut di akun Twitternya. Dia me-retweet simpatisan PD yang mengunggah gambar JK-AHY.

Wacana JK-AHY ini berawal dari keinginan Demokrat memunculkan poros ketiga di Pilpres 2019. Poros ketiga ini diharapkan bisa mengeluarkan capres alternatif selain Presiden Joko Widodo dan Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Untuk bisa mengusung JK-AHY, Demokrat tentunya tak bisa sendiri. Ini mengingat adanya syarat ambang batas capres di UU Pemilu, yang mewajibkan parpol atau gabungan parpol memiliki 20% kursi di DPR atau 25% suara sah Pemilu 2004.

Untuk Pemilu 2014, Demokrat memiliki 10,19% suara. Artinya, partai pimpinan Ketum Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu masih perlu 14,81% dari partai lain. Sedangkan di DPR, PD memiliki 10,9% dan masih perlu 9,1% kursi lain.

Golkar tetap memastikan mendukung Jokowi di Pilpres 2019. Meski JK sebagai eks ketum ditawari kursi capres, Golkar hingga ini masih berkomitmen mengusung Jokowi.

Bila wacana ini terwujud, diprediksi akan meramaikan pesta demokrasi tahun depan. "Kita belum bisa memastikan apakah benar JK-AHY maju dan partainya mana pula karena Demokrat masih butuh dukungan partai lain. Namun kita bisa memberikan gambaran jika pasangan, maka pertarungan akan ramai," ungkap pengamat politik Denny JA dalam perbincangan, Senin (2/7/2018).

Duet JK-AHY memang diwacanakan Demokrat, yang ingin ada poros ketiga di Pilpres 2019. Partai pimpinan Ketum Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu ingin ada capres alternatif selain Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Hanya, Demokrat masih terhambat masalah ambang batas capres atau presidential threshold (PT) untuk bisa mengusung pasangan calon. Demokrat harus bisa berkoalisi dengan partai lain.

"Jadi per hari ini memang bersandar pada aturan PT yang sekarang tidak berubah yang mungkin adalah 3 poros. Poros Jokowi sudah jelas, poros kedua atau ketiganya belum jelas," kata Denny.

"Jika nanti memang JK dan AHY itu menjadi satu poros melawan Jokowi dan wapresnya dan sangat mungkin ada poros lainnya, yaitu apakah Prabowo dan wapresnya. Maka siapa yang menang sangat ditentukan oleh tiga hal," imbuh founder LSI Denny JA itu.

Menurutnya, isu soal keinginan masyarakat adanya perubahan penguasa menjadi faktor pertama. Ini dinilai Denny akan menguntungkan calon-calon selain petahana, termasuk JK, Prabowo, dan Gatot Nurmantyo, yang masuk bursa Pilpres 2019.

"Kedua, ditentukan lagi oleh kondisi ekonomi. Sekarang ini dolar sudah naik ke Rp 14 ribu lebih, tapi seberapa besar efeknya kenakan dolar terhadap harga-harga. BBM non-subsidi sudah naik, makin problem buat petahana," imbuhnya.

Meski begitu, bukan berarti JK tak punya modal dasar bila ingin maju sebagai capres. Kantong-kantong suara dianggap juga bisa diperhitungkan.

"Jika JK maju, JK diuntungkan dengan kantong suara di Indonesia timur karena, dibandingkan Jokowi, Gatot, Prabowo, cuma JK yang punya representasi di Indonesia timur dan juga sentimen agama yang masih punya pengaruh," sebut Denny.

"Dari Jabar dan Jateng itu bahkan 10 hari itu bisa memberikan perubahan yang luar biasa. Jika 10 hari saja bisa menimbulkan perubahan, apalagi masih berbulan-bulan seperti sekarang," tambah dia.

Terpisah, Direktur Eksekutif Media Survei Nasional (Median) Rico Marbun mengatakan, apabila duet JK-AHY terwujud, diprediksikan bakal menggembosi Jokowi. "Yang agak membahayakan juga dari pasangan JK-AHY ini, JK bisa menggembosi kekuatan resources yang dimiliki oleh Jokowi," ujar Rico Marbun, Senin (2/7/2018).

Untuk memungkinkan duet ini terwujud, JK disebut harus mampu merayu Golkar untuk mengalihkan dukungannya dari Jokowi. Hanya, hingga saat ini, Golkar belum memberi sinyal siap mendukung eks ketumnya itu maju sebagai capres bersama AHY.

"Namun JK harus mampu juga menarik Golkar dari Jokowi," kata Rico.

Dia pun menilai pasangan JK-AHY cukup klop lantaran bisa saling melengkapi. Faktor latar belakang kedua calon itu turut disoroti Rico.

"Pasangan ini saling komplemen atau melengkapi secara representasi, tua-muda, luar Jawa dengan Jawa, berpengalaman-semangat. Secara angka elektabilitas, baik JK maupun AHY, selalu ada dalam 10 besar kandidat," sebutnya.

Pasangan JK-AHY dianggap punya kesempatan yang baik. Hanya, duet ini masih terhambat dukungan dari partai politik. Hal tersebut mengingat adanya ambang batas atau presidential threshold (PT) di UU Pemilu. Partai politik atau gabungan parpol harus memiliki minimal 20% kursi di DPR atau 25% suara hasil Pemilu 2014.

"Pasangan ini punya kans yang cukup baik. Kalau koalisi 2 partai ini sebenarnya sudah cukup 20% (Demokrat dan Golkar). Dan dari pasangan ini, mereka tetap butuh partai yang merupakan representasi nasionalis-religius," sebut Rico.

Demokrat masih harus mencari koalisi bila benar-benar ingin mengusung JK-AHY. Rico menilai pasangan tersebut punya kans besar bila koalisi seperti Pilgub DKI terbentuk. Pada Pilgub DKI 2017, ada dua koalisi penantang petahana gubernur, Basuki T Purnama (Ahok).

Saat itu Demokrat bersama PKB, PAN, dan PPP mengusung AHY-Sylviana Murni. Kemudian Gerindra-PKS mengusung Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Sedangkan Ahok-Djarot Saiful Hidayat diusung PDIP, Golkar, Hanura, dan NasDem. Setelah AHY-Sylvi gagal di putaran pertama, parpol pendukungnya berpencar. PAN memilih bergabung dengan Anies-Sandi, yang akhirnya memenangi Pilgub DKI.

"Ya kalau bicara koalisi seperti pilgub. PAN, PKS, dan PKB pilihan tepat," sebut Rico.

 

Diprediksi Kalah

Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari memprediksi, bila pasangan JK-AHY benar terwujud, diprediksi akan bernasib sama seperti ketika JK maju bersama Wiranto (WIN) di Pilpres 2009.

"Kalau kita bercermin dari pengalaman 2009 agak berat ya. Pak JK kalau disurvei presiden, angkanya relatif. Nah AHY ini sebagai calon wakil presiden memang di survei itu 3 besar, tapi belum jadi calon wakil yang bisa mendongkrak suara," ujar M Qodari dalam perbincangan, Senin (2/7/2018).

Qodari menyebut memang ada fenomena wakil bisa mendongkrak elektalibitas capres atau pihak utama dalam pencalonan. Untuk duet ini, dia menilai JK-AHY akan kalah seperti ketika JK maju sebagai capres dengan cawapres Wiranto.

"Fenomena itu belum kelihatan kalau dari AHY. Untuk sementara, kalau itu maju, akan seperti JK-Wiranto di 2009," kata Qodari.

Dalam survei sejauh ini, elektabilitas JK sebagai cawapres memang cukup tinggi. Hanya, ketika disurvei sebagai capres, eks Ketum Golkar itu belum memiliki elektabilitas yang relatif besar.

"Survei Pak JK sebagai capres bulan April ada beberapa simulasi surveinya kecil. Pak JK memang kuatnya sebagai wakil dan ini pola yang sudah berlangsung sejak 2003-2004. Untuk 2009 pun untuk wakil situasinya seperti itu, tapi untuk capres kecil," sebutnya.

"Jadi waktu Pak JK maju 2009, waktu itu kita memperkirakan Pak JK akan kalah," imbuhnya.

Demokrat menilai duet JK-AHY cukup proporsional. Mulai dari pasangan tua-muda hingga sipil dan eks militer. Hanya, ternyata gabungan itu saja dianggap tidak cukup.

"Kalau kita bicara pemilihan langsung, sudah saatnya apa belum kita bicara dan kuantitatif. Kalau bicara kualitatif, tua-muda itu tidak relevannya. Banyak orang muda yang terpilih, tapi kalau kualitatif dia belum pantas untuk memadai sebagai capres atau cawapres," ungkap Qodari.

Sebelumnya diberitakan, kader Demokrat disebut hampir sepakat menginginkan JK berpasangan dengan Ketua Kogasma partainya, AHY. Bahkan sejumlah kader pimpinan Ketum Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu mengunggah poster pasangan JK-AHY.

"Memang di dalam sekarang lagi mengeras JK-AHY. Bahkan beberapa hari lalu, diadakan polling di internal pengurus DPP. Mengeras suara, hampir 90 persenan sekianlah hasilnya, agar Demokrat membentuk poros ketiga saja dan mengusung Pak JK sebagai capresnya," tutur Ketua DPP PD Jansen Sitindaon kepada wartawan, Minggu (1/7). (det/rmo/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>