Jawa Tengah Akan Jadi Ajang Penentu Pilpres

Selasa, 11 Desember 2018  18:28

Jawa Tengah Akan Jadi Ajang Penentu Pilpres

JAKARTA (BM) - Rencana pemindahan markas Badan Pemenangan Nasional Prabowo- Sandiaga Uno ke Jawa Tengah diprediksi akan membuat situasi politik di Jateng bakal memanas. Jangan sampai terjadi gesekan yang merusak harmoni Jateng yang selama ini terkenal dengan keademannya.

Pandangan itu disampaikan pendiri Partai Demokrat Jawa Tengah, Dani Sriyanto. Ia menilai, ekspansi kubu Prabowo-Sandi ke Jawa Tengah sebagai gaya pertempuran militer.

"Mereka sadar penentu kemenangan dalam pilpres nantinya di Jawa Tengah," ujar pria yang berprofesi sebagai pengacara itu, Selasa (11/12).

Dani meyakini, peta pertarungan dalam pemilihan presiden 2019 nanti, sudah tergambar dalam pemilihan gubernur Jateng 2018 lalu. Ia menambahkan, dengan posisi  head to head kedua pasangan, selisih prosentase kemenangan paling hanya di kisaran 5 persen.

Di sisi lain, tambah Dani, Jateng selama ini dikenal dengan situasi politiknya yang adem, bakal mulai memanas pada Januari mendatang.

"Terutama bagi para sumbu pendek. Saya harap hal itu jangan sampai merusak kedamaian yang sudah ada di Jateng," jelasnya.

Ia mengingatkan, gesekan antaranak bangsa justru merugikan bangsa Indonesia itu sendiri. Stabilitas nasional bakal terganggu hingga mempengaruhi perekonomian. Karena itu ia meminta masyarakat Jateng tetap dalam bingkai Jawa Tengah dan Indonesia.

“Nantinya, misalnya walaupun ada kelompok baru, jangan sampai umat islam jadi objek sehingga terpecah belah. Soliditasnya harus terjaga dan ukhuwah islamiyah terjaga," jelas dia.

Di sisi lain, Dani mengingatkan kepada kubu Jokowi-Makruf Amin untuk menjaga elektabilitasnya. Kecenderungan elektabilitas petahana dimanapun cenderung menurun tapi jangan sampai jatuh. Setidaknya stagnan pun sudah jadi kemenangan bagi capres nomor urut 01 itu.

Masyarakat tidak bisa diprediksi. Meskipun, diam tapi pikiran mereka bisa berubah begitu masuk bilik suara. "Jangan sampai Jokowi-Makruf Amin terlena. Harus terus bergerak," jelasnya.

 

Baratayuda

Capres Joko Widodo (Jokowi) sepertinya harus menyiapkan strategi khusus terkait keseriusan kubu Prabowo Subianto yang menyasar Jawa Tengah untuk Pilpres 2019. Provinsi Jateng sampai saat ini dipercaya sebagai lumbung suara Jokowi.

Kubu Prabowo tidak main-main. Mereka mendirikan 'pos pertempuran' di Kota Solo. Solo diyakini berada dalam posisi sentral di Jateng secara politik.

"Atas pertimbangan itu (kalkulasi politik) secara nasional, maka perlu segera dibangun posko pertempuran berada di tengah-tengah kancah pertempurannya (Pulau Jawa), dan tengah-tengahnya itu Solo," kata Ketua Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi DIY, Dharma Setiawan, Senin (10/12).

Mengapa Jateng menjadi rebutan perolehan suara Jokowi dan Prabowo? Secara nasional, Jateng menyumbang 27.430.269 pemilih pada Pemilu 2019, yang menempatkannya di posisi ketiga di bawah Jabar (32.636.846) dan Jatim (30.554.761). Terlebih, perolehan suara Sudirman Said di Pilgub Jateng yang diusung parpol koalisi Prabowo (kecuali PKB) 'hanya' terpaut 17,56 persen dari Ganjar Pranowo yang diusung parpol pro-Jokowi.

Keseriusan kubu Prabowo lantas dikaitkan dengan peringatan Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais yang menyamakan Pilpres 2019 sebagai pertarungan Baratayuda atau perang besar Pandawa melawan Kurawa.

"Ini pertarungan Baratayuda, Armageddon, sudah kurang dari empat setengah bulan. Jadi kita harus betul-betul konsolidasi," ujar Amien dalam video pertemuan yang menyebar di kalangan Muhammadiyah, Jumat (30/11).

Terkait peringatan 'Baratayuda' Amien, pengamat politik dari Median Rico Marbun menyebut Prabowo berada dalam kondisi percaya diri yang tinggi. Dari hasil survei, Rico mengatakan selisih suara Jokowi dan Prabowo tidak terpaut jauh secara nasional.

"Saya pikir tim Prabowo ini sedang dalam kondisi percaya diri yang cukup kuat. Survei sementara menunjukkan selisih suara Jokowi versus Prabowo tidak terlalu jauh. Kedua, kondisi ekonomi yang belum membaik ada celah bagi oposisi menimbulkan keraguan bagi petahana," ujar Rico, Senin (10/12) malam.

Namun kubu Prabowo tetap diminta memperlihatkan manuvernya secara riil di Jateng. "Bila geliat timses pasangan nomor 02 ternyata tidak terlihat manuvernya di Jateng seperti yang digembar-gemborkan alias ini hanya jadi 'ancaman pencitraan', tentu bisa ada reaksi negatif," ucap Rico.

 

Tak Sepelekan Prabowo

Meski tak khawatir, politikus PDIP yang juga Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menilai rencana pasangan nomor urut 02 itu tak bisa diremehkan.

"Nggak apa-apa, mau di Kalimantan boleh, Papua ndak apa-apa, Jawa oke. Kan nggak bisa dilarang," kata Ganjar saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (11/12/2018).

Ganjar juga menilai pemindahan posko tersebut tidak akan mempengaruhi kekuatan lumbung suara PDIP untuk Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Dia menilai, pemindahan posko itu berdasarkan atas asumsi suara pada Pilkada Jateng pada 2017 lalu.

"Biasa saja, kan asumsi yang dibangun berdasarkan pilgub dulu toh? Maka pada saat pilgub perolehan suaranya seperti itu maka pemindahan ke Jawa Tengah hanya, dan di pilgub yang menang saya," tuturnya.

Ganjar juga mengatakan, pemindahan kubu Prabowo ke Jateng itu juga karena suara PDIP di kawasan itu solid untuk Jokowi-Ma'ruf Amin. Untuk itu, kubu Prabowo-Sandiaga berusaha 'membuyarkan' kesolidan itu.

"Kalau argumentasi semua boleh, argumentasi apapun yang dibangun boleh, tapi itu semua asumsi. Karena Jateng paling solid maka Jateng paling seksi untuk digembor. Karena kami solid sekali," ucap Ganjar.

Meski demikian, Ganjar menegaskan rencana kubu Prabowo-Sandi itu tidak boleh dianggap enteng. Dia menilai rencana tersebut sebagai sebuah peringatan.

"Nggak boleh meremehkan siapapun, apapun yang diikhtiarkan oleh pihak lawan adalah bagian dari warning buat kita, jadi kita nggak boleh menyepelekan, nggak boleh over confidence. Dan semua harus kerja keras karena sebenarnya yang akan memenangkan adalah yang dicintai rakyat," sebut Ganjar.

"Yang penting satu aja, apapun yang terjadi yuk kita jaga agar tidak ada politik pecah belah, politik SARA, saling benci, tunjukkan kehebatan dua calon presiden ini, bukan kejelekannya. Dari pada bicara jelek kan seolah nggak punya konsep," imbuhnya. (det/rmo/mer/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>