LSI: Jokowi Bisa Kalah Kalau SBY-Prabowo-Gatot Bersatu

Senin, 14 Mei 2018  17:32

LSI: Jokowi Bisa Kalah Kalau SBY-Prabowo-Gatot Bersatu

Pemaparan hasil survei LSI Denny JA

Jakarta (BM) – Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA kembali merilis hasil survei terkait Pilpres 2019. Hasilnya, 50:50 kemungkinan Jokowi bisa dikalahkan. Survei dilakukan pada 28 April-5 Mei 2018 terhadap 1.200 responden dengan wawancara tatap muka. Metode yang dilakukan adalah multistage random sampling dilengkapi FGD dan analisis media serta indepth interview. Margin of error dari survei ini +- 2,9%.

Peneliti LSI Denny JA Adjie Alfaraby memaparkan peluang Jokowi dikalahkan dalam pilpres adalah 50:50. Dengan syarat utama, kekuatan oposisi Jokowi bersatu.

"Probability-nya 50:50. Dengan syarat kekuatan oposisi yang bersatu, seperti bersatunya Anwar Ibrahim dan Mahathir Mohamad di Pemilu Malaysia. Untuk itu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Prabowo Subianto, Amien Rais, dan Gatot Nurmantyo perlu bersatu jika ingin kalahkan Jokowi. Kalau tidak, kisah sukses Mahathir di Malaysia sulit tercapai," tutur Adjie di kantornya, Rawamangun, Jakarta Timur, Senin (14/5/2018).

Selain itu, papar Adjie, ada lima isu yang juga dapat mempengaruhi kekalahan Jokowi. Isu pertama adalah isu #2019GantiPresiden.

"Isu #2019GantiPresiden sangat populer. Kalau kita uji di survei. Dalam waktu sebulan isu ini sudah menjangkau separuh dari pemilih di Indonesia. Sehingga isu ini bisa mengganggu elektabilitas Jokowi," kata Adjie.

Isu kedua adalah isu tenaga kerja asing (TKA). Adjie mengatakan isu TKA memiliki resistensi yang tinggi dari pemilih atau responden.

"Pada tingkat persetujuan publik, mayoritas, 76,60% menjawab mereka tidak suka dengan isu masuknya TKA. Tingkat pengenalan isu ini masih di bawah 30%, yakni 27,20% responden yang mengetahui isu TKA ini. Tapi kalau isu ini membesar bisa menggoyahkan elektabilitas Pak Jokowi," tuturnya.

Isu ketiga adalah isu ketidakpuasan ekonomi Indonesia, khususnya mengenai penyediaan lapangan kerja. Adjie memaparkan 54,30% responden tidak puas terhadap kinerja pemerintah dalam menyediakan lapangan pekerjaan.

"Isu keempat yakni isu Islam politik. Isu ini tidak terkait bom, tapi mengenai apakah agama harus terpisah dari politik atau tidak. (Sebanyak) 47,80% responden yang beragama Islam menjawab agama dan politik tidak bisa dipisah, 35,80% menjawab agama dan politik harus terpisah, dan 16,40% menjawab tidak tahu," ujar Adjie.

Isu Islam politik ini juga memberikan efek ke elektoral. Pemilih yang menganggap agama harus dipisah mayoritas menjawab akan memilih Jokowi dengan 56,4% suara.

"Sementara, 39,7% nya memilih presiden baru. Sedangkan untuk pemilih yang menjawab agama dan politik tak bisa dipisah 43,9% tidak akan memilih Jokowi, dan 39,3%-nya memilih Jokowi. Kemudian untuk yang tidak tahu/tidak jawab, 54,9% memilih presiden baru, dan 42,7% kembali memilih Jokowi. Artinya, Jokowi tidak populer di pemilih Islam, yang menganggap agama dan politik harus dipisah," papar Adjie.

Isu kelima adalah persepsi Jokowi kuat dan menang masih di bawah 50%. Dari hasil survei, 32,30% responden meyakini Jokowi akan memenangi Pilpres 2019.

"Sementara 28,00% meyakini Jokowi bisa dikalahkan. Dan 39,70% menjawab tidak tahu. Artinya, publik masih terpecah. Masih sedikit yang menganggap Jokowi kuat. Jadi, meski Jokowi kuat dari segi elektabilitas, tapi lima isu ini bisa mengganggu dan menggerus dukungan ke Jokowi," tutur Adjie.

Survei dilakukan dengan simulasi pertanyaan, 'Jika pemilihan presiden dilakukan hari ini, di antara nama-nama di bawah ini, siapakah yang Ibu/Bapak pilih sebagai presiden?'.

"Mayoritas responden paling banyak menjawab Jokowi. Jokowi unggul dengan 46%. Sedangkan calon lain, kalau ditotal 44,7%. Ini gabungan dari elektabilitas para capres yang lain. Ada 13 nama yang kita masukkan, ada Prabowo Subianto, Gatot Nurmantyo, AHY (Agus Harimurti Yudhoyono), ada Muhaimin Iskandar, dan nama-nama yang lain. Sementara yang belum menjawab ada 9,3%," papar peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby, di kantornya, Rawamangun, Jakarta Timur, Senin (14/5/2018).

LSI Denny JA tidak merinci elektabilitas ke-13 nama itu. LSI Denny JA juga hanya merinci nama Prabowo, Gatot, AHY, dan Muhaimin Iskandar, tak ada lanjutannya.

Dalam hasil survei ini, Adjie mengungkapkan ada tiga catatan LSI Denny JA terhadap hasil survei tersebut. Catatan pertama, meski menjadi capres dengan elektabilitas terkuat, elektabilitas Jokowi belum berada di angka yang aman, yakni di bawah 50%.

"Tentunya sebagai petahana elektabilitas di bawah 50% bukanlah angka yang nyaman. Karena sebagai petahana harusnya minimal elektabilitas Jokowi di atas 50%," ujarnya.

Catatan kedua, selisih elektabilitas Jokowi dengan capres lain hanya 2%. Hal itulah yang membuat LSI Denny JA menyimpulkan, meski masih menjadi yang terkuat, elektabilitas Jokowi masih goyah.

"Kita lihat tokoh-tokoh lain elektabilitasnya masih rendah. Tapi kalau kita total itu mencapai 44,7%. Artinya ada 44,7% pemilih atau responden yang tidak memilih Jokowi. Ada nama yang lain. Kalau kemudian tokoh ini kemudian bergabung, pemilih di luar Jokowi ini digabung, ini selisihnya cuma 2 persen dengan Jokowi. Jadi selisih dari elektabilitas antara Jokowi dengan calon-calon lain hanya 2% kalau digabung," tutur Adjie.

Catatan ketiga, masih ada waktu 11 bulan untuk meningkatkan elektabilitas. Jadi, kata Adjie, masih ada kesempatan bagi capres lain untuk menggeser elektabilitas Jokowi.

"Waktu masih 11 bulan. Selisihnya hanya dua persen. Sehingga meski terkuat, namun Pak Jokowi masih goyah dari segi elektabilitasnya," ungkap Adjie.

 

Tiga Besar

Gatot Nurmantyo dinilai berpeluang jadi kuda hitam pada Pilpres 2019. Apalagi saat ini masih ada waktu 11 bulan menjelang pilpres.

"Hasil survei memperlihatkan Gatot ada di tiga (besar) orang kuat jadi capres. Ini masih ada waktu tersisa 11 bulan dan memang masih sangat terbuka peluang untuk bisa mengubah konteks capres," kata peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Ardian Sopa, seusai pemaparan hasil survei elektabilitas parpol di kantornya, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (8/5/2018).

Ardian mengungkapkan, mengacu pada hasil-hasil survei, meski belum mendeklarasikan diri sebagai capres, nama mantan Panglima TNI itu terus masuk dalam tiga besar kandidat capres, selain Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

"Sejauh ini, kalau melihat hasil survei masih bisa untuk bertarung. Tinggal memang PR besar dari Gatot secara pengenalan belum maksimal sehingga perlu lebih kuat," ujarnya.

Berdasarkan hal itu, Ardian mengatakan, kasus seperti Pilkada DKI Jakarta pada 2017 bisa saja terulang. Gatot bisa muncul sebagai capres alternatif yang mengubah peta politik.

"Kasus DKI Jakarta satu tahun sebelumnya, mohon izin, Pak Ahok kuat, bahkan di atas 60 persen. Tetapi pada hari-H ternyata kalah. Kemudian kasus daerah lain awalnya kuat, ternyata kalah. Dari contoh itu, semua tergantung dari kondisi yang ada ke depan," ungkap Ardian.

Pada survei yang dilakukan LSI Denny JA, nama Gatot diprediksi bisa mendongkrak tiga partai besar yang perolehan suaranya di bawah 15 persen, yakni Gerindra, Demokrat, dan PKB. (det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>