Relawan Sahabat Khofifah Deklarasi Pemenangan

Kamis, 12 November 2017  21:32

Relawan Sahabat Khofifah Deklarasi Pemenangan

Suasana deklarasi Relawan Sahabat Khofifah di Surabaya, Minggu (12/11)

Surabaya (BM) - Ratusan pendukung Khofifah Indar Parawansa dari berbagai daerah di Jawa Timur mulai merapatkan barisan. Pada Minggu (12/11) siang, para perwakilan tim relawan pendukung Khofifah berkumpul di Ponpes Amanatul Ummah Surabaya, Jalan Siwalankerto untuk mendeklarasikan “Sahabat Khofifah untuk Jawa Timur”.

Para Sahabat Khofifah ini akan mengemban dua tugas utama, yaitu memenangkan Menteri Sosial yang juga Ketua Umum PP Muslimat itu di kompetisi Pilgub Jawa Timur 2018. “Tugas Sahabat Khofifah, (selanjutnya) menyosialisasikan fardu ‘ain memenangkan Ibu Khofifah,” tegas tuan rumah acara, KH Asep Saifuddin Chalim.

Tugas yang kedua, lanjutnya, menyosialisasikan bahwa Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur netral di hajatan lima tahunan ini. “Sosialisasikan itu. Dan marilah kita dalam berkompetisi Pilkda ini, orientasikan berkarakter dan berkemampuan. Berses,” tegasnya lagi.

Kiai Asep yang juga juru bicara tim 9 pimpinan KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) ini juga menegaskan, deklarasi yang digelar para Sahabat Khofifah di pondok pesantrennya itu sebagai langkah awal koordinasi.

Sahabat Khofifah se Jawa Timur yang hadir di acara deklarasi tersebut di antaranya, dari Surabaya, Lamongan, Bojonegoro dan beberapa daerah lainnya. Tiap daerah megirim 20 perwakilan. “Kita mulai melakukan langkah-langkah koordinasi dari sahabat-sahabat Khofifah,” kata Kiai Asep.

Deklarasi hari ini, masih kata Kiai Asep, atas ide mereka (para relawan Khofifah). “Saya sama sekali tidak ikut serta, Cuma saya siap dimintai tolong untuk menyediakan tempat dan menyediakan konsumsi ala kadaranya. Itu aja.”

Sempat diwarnai hujan deras, deklarasi tetap berjalan khidmad dengan disertai doa Khizib Nashor. “Hujan ini berkah, dan saat saya datang sudah berhenti, Insya Allah ini pertanda kemenangan,” ucapnya.

“Saat deklarasi, panitia tidak menghadirkan Ibu Khofifah karena takut menyinggung perasaan partai pengusung. Tapi saat deklarasi-dekalarasi berikutnya seperti ini, akan mendatangkan Ibu Khofifah,” janjinya.

 

Calon Pendamping

Terkait dua nama calon pendamping Khofifah, pimpinan tim 9 KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) mengatakan, bahwa nama-nama itu masih bisa berubah.

"Bisa saja (berubah). Kan belum ada finalisasi, apalagi deklarasi," terang juru bicara tim 9, KH Asep Saifuddin Chalim usai menghadiri acara Kopri PMII di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel, Surabaya, Sabtu sore (11/11).

Dia mengungkapkan, untuk mendapat figur pendamping Khofifah tidaklah mudah. Bahkan, dia sempat menangis memohon petunjuk dari Allah SWT dengan jalan istikharoh.

"Itu memang secara pribadi, saya sedang menangis kepada Allah bagaimana mendapatkan wakil yang kemudian diusung bersama-sama. Susah," tegasnya sembari mengatakan kalau dia tidak bisa menyampaikan hasil dari istikhorohnya.

Kiai Asep juga menyebut, saat ini, pihaknya tengah berkomunikasi secara intens dengan partai-partai pengusung terkait bakal calon wakil gubernur yang akan dipasangkan dengan Menteri Sosial yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU.

"(Komunikasi) itu sedang dilakukan. Ibu Khofifah yang melakukan, karena memang harus hati-hati, hati-hati sekali," tandasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh mengatakan, partainya siap mendukung pilihan Khofifah. Selama orang itu siap membangun Jawa Timur.

"Kembali kita serahkan pada Bu Khofifah, dia kita dukung, cari pendampingnya yang dianggap tepat, selaras, serasi, senapas kalau bisa. Hingga bisa bangun Jatim yang lebih mantap, itu yang diharapkan NasDem," katanya di Kantor DPP NasDem.

Dia menjelaskan, bakal calon Wagub Jatim itu harus merupakan orang yang serasi dan seirama membangun bersama dengan Khofifah. Entah orang tersebut dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) atau bukan.

"Yah apa yang diterima oleh masyarakat," tutup Surya Paloh.

 

Jangan Gegeran

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng, KH Salahuddin Wahid memprediksi akan ada gesekan antartokoh NU saat Pilgub Jatim 2018. Itu karena Saifullah Yusuf dan Khofifah Indar Parawansa, yang sama-sama tokoh NU, sudah menyatakan akan maju Pilgub Jatim.

"Ini (Pilgub Jatim 2018) diperkirakan akan terjadi gesekan yang itu terjadi sesama tokoh NU, ini tidak baik," kata KH Salahuddin Wahid dalam pelantikan Pengurus Hidmah Silaturahim Santri Nusantara di Pondok Pesantren At Tauhid, Jalan Sidosermo, Surabaya, Minggu (12/11/2017).

Menurutnya, diperlukan tokoh NU yang memprakarsai dengan mengundang keduanya agar dalam berkampanye mempunyai etika dan berakhlak sehingga tidak terjadi gesekan sesama NU.

"Mestinya ada pihak yang mengambil prakarsa untuk mengundang kedua calon. Nah ini butuh pihak yang di luar dua kelompok ini mencoba mencari jalan bagaimana caranya kita membicarakan etika berkampanye, akhlak berkampanye. Apa yang tidak boleh disampaikan, apa yang boleh disampaikan," ungkap adik Gus Dur ini.

Dalam urusan pemilu atau pilkada, dalam satu keluarga bisa bermusuhan. Oleh karena itu, Gus Solah, sapaan akrabnya, berpendapat dibutuhkan tokoh NU yang netral.

"Ini perlu karena tidak menjamin, bahkan satu keluarga saja kalau urusan pemilu itu bisa gegeran. Jadi mudah mudahan kita bisa atasi itu," harap dia.

Gus Solah sendiri mengaku dirinya tidak mungkin menjadi tokoh yang netral. Ia mengatakan, jika dirinya sebagai tokoh penengah pasti akan ada beda pendapat.

"Saya tidak bisa karena saya mungkin pihak yang juga mungkin berbeda pendapat," tambahnya.

 

Dukungan PPP

Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) lebih condong mendukung Khofifah Indar Parawansah daripada Saifullah Yusuf pada pelaksanaan Pilgub Jatim 2018 mendatang.

Hal itu disampaikan langsung oleh Wakil Sekjen DPP PPP Achmad Baidowi di sela-sela kegiatan Gerakan Nasional Wakaf Qur'an di Desa Branta Tenggih, Kecamatan Tlanakan, Minggu (12/11/2017).

"Untuk pilgub kita lebih condong ke Khofifah karena beberapa pertimbangan, di antaranya kerja mesin politik Khofifah lebih dari cukup. Apalagi PPP memang dibutuhkan untuk berpartisipasi," kata Achmad Baidowi.

Kecondongan partai berlogo Ka'bah terhadap Khofifah, salah satunya dibuktikan dengan keseriusan tim menggandeng partai. "Gus Ipul (Saifullah Yusuf) sudah menentukan pasangannya (calon Wagub) tanpa mengajak rembuk PPP, artinya kami menggarisbawahi PPP bagi Gus Ipul tidak penting dan dianggap tidak menentukan," ungkapnya.

"Sehingga kalau (PPP) tidak dibutuhkan (pada pelaksanaan Pilgub Jatim), kita akan beralih pada figur yang lebih membutuhkan (Khofifah)," sambung politisi muda yang saat ini menjabat sebagai anggota DPR RI.

Tidak hanya itu, pihaknya juga menyampaikan saat ini tengah menunggu hasil Rapat Pimpinan Wilayah (Rapimwil) DPW PPP Jatim seputar persiapan pilgub. "Pekan depan Rapimwil Jatim, hasilnya akan kita kaji di DPP sekaligus kita menunggu hasil survei dari Khofifah bersama para kiai," jelasnya.

"Jadi dalam persoalan (Pilgub Jatim) ini, PPP 99 persen lebih condong ke Khofifah. Karena bagaimana pun yang namanya politik itu harus realistis," pungkas alumnus Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar.

 

Pembelajaran

Pengamat Politik dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Suko Widodo menilai Kontestasi Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018 masih membawa preseden buruk dalam perpolitikan. Ini lantaran banyak dari kalangan kepala daerah berlomba-lomba ikut dalam kontes Pilgub demi sebuah misi, dan meninggalkan tugas yang sebelumnya dijanjikan kepada masyarakat daerah.

“Fenomena pembajakan kepala daerah ini ramai sekali di Pilgub Jatim. Mereka berbondong-bondong demi sebuah misi, dan meninggalkan misi yang sebelumnya digembar-gemborkan saat mencalonkan kepala daerah," kata Suko, dikonfirmasi, Minggu, 12 November 2017.

Suko mencontohkan, nama Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas yang kini menjadi pendamping Calon Gubernur Jatim, Saifullah Yusuf alias Gus Ipul. Kemudian Bupati Ponorogo Ipong Muchlisonni, Bupati Trenggalek Emil Elistianto Dardak, yang digadang-gadang menjadi kandidat kuat bacawagub Khofifah.

Fenomena ini, lanjut Suko, membuktikan bahwa partai politik gagal dalam mencetak kader pemimpin. Sebab, kata Suko, mereka yang diusung bukan calon dari kader partai. “Nah, saya rasa ini kurang memiliki nilai etika dalam berpolitik. Ada yang mendukung karena dibutuhkan untuk mengemban amanah yang lebih besar, ada juga yang merasa kecewa, lantaran programnya belum tuntas," katanya.

Sementara berkaitan dengan kader pemimpin berkualitas, kata Suko, banyak parpol yang belum bisa menciptakan kader pemimpin berkualitas yang diinginkan rakyat. Sehingga terpaksa mengambil jalan pintas (mencari sosok) pemimpin diluar parpol itu sendiri.

"Saya rasa ini juga kurang bagus untuk masa depan perpolitikan di Indonesia. Jika mesin-mesin perpolitikan tak mampu menciptakan kader pemimpin, maka berdampak pada krisis kepemimpinan," ujarnya. (mer/det/kom/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>