Survei: Persaingan Ketat Jokowi-Mahfud MD vs Prabowo-AHY

Kamis, 05 Agustus 2018  17:07

Survei: Persaingan Ketat Jokowi-Mahfud MD vs Prabowo-AHY

JAKARTA (BM) - Lembaga survei Roda Tiga Konsultan (RTK) merilis hasil capres-cawapres terkuat pada Pilpres 2019. Muncul nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai sosok yang potensial menjadi cawapres.

"Dari pertanyaan tertutup cawapres Jokowi, nama AHY mendapat angka 15,9 %, Sri Mulyani 7,8 %, Mahfud MD 7,5 %, disusul Gatot Nurmantyo 7,1 %, undecided voters 44,4 %" kata Direktur Riset RTK, Rikola Fedri di Cafe Mandailing, Jakarta Selatan, Minggu (5/8).

Begitu pula untuk cawapres Prabowo Subianto, AHY masih mendapat kepercayaan masyarakat sebagai sosok yang pantas mendampingi mantan Danjen Kopassus tersebut.

"Pada pertanyaan tertutup nama AHY mendapatkan angka 34,1 %, disusul Anies Rasyid Baswedan 19,5 %, kemudian Gatot Nurmantyo 14,1 %, dan Ahmad Heryawan 2,9 %, undecided voters 25,4%," ucapnya.

Selain itu, berdasarkan tingkat kemungkinan mendukung pasangan capres dan cawapres, pasangan Jokowi-Mahfud MD (67,4 %) atau Jokowi-AHY (67,3 %) paling tinggi di antara pasangan Jokowi dengan nama alternatif cawapres lainnya. Sementara pasangan Prabowo-AHY (68,4 %) paling tinggi disusul Prabowo-Anies (66,4 %) di antara pasangan Prabowo dengan nama alternatif cawapres yang lainnya.

"Artinya, jika Jokowi memilih Mahfud MD sebagai cawapres dan Prabowo memilih AHY maka kemungkinan Pilpres 2019 akan berimbang," imbuh Rikola.

Kemudian, dari simulasi head to head, jika Jokowi belum berpasangan dengan beberapa nama, elektabilitasnya bisa melewati 50 %. Tetapi akan turun jika dipasangkan dengan alternatif cawapresnya.

"Sebaliknya, jika Prabowo sendirian belum dipasangkan dengan beberapa alternatif cawapres, dia tidak mampu menahan laju elektabilitas Jokowi menuju 50% + 1. Tetapi ketika berpasangan dengan AHY, elektabilitas Prabowo terangkat dan elektabilitas Jokowi turun dibawah 50%," paparnya.

Lebih lanjut, untuk awarness masyarakat terhadap isu ganti presiden sudah cukup tinggi yaitu 61,1%. Di mana 42,7% di antaranya menyatakan setuju dengan Gerakan Ganti Presiden, dan 43,4% tidak setuju Gerakan Ganti Presiden.

"Namun pemilih dengan usia 17-40 tahun lebih banyak yang menyatakan setuju ganti presiden," tandas Rikola.

Survei ini menggunakan metodologi stratified systemic random sampling dengan responden sebanyak 1.610. Margin of Error 2,5% dan Quality Control 20%. Survei dimulai sejak 23 Juli hingga 1 Agustus 2018.

Dalam rilis survei ini dihadiri Sekjen Demokrat Hinca Pandjaitan, Ketua DPP NasDem Willy Aditya, Anggota Badan Komunikasi DPP Gerindra Andre Rosiade, dan pengamat politik Robertus Robert.

Pada hasil survei tersebut terungkap elektabilitas Joko Widodo (Jokowi) sebesar 42,5 persen. "Jika Pilpres dilakukan hari ini, pada pertanyaan spontan, Jokowi dipilih oleh 42,5 persen,"

Sementara itu, Ketum Gerindra Prabowo Subianto berada di bawahnya dengan perolehan elektabilitas sebesar 21,3 persen. "Sedangkan Prabowo mendapat perolehan suara 21,3 persen," ujarnya.

Berikut hasil perolehan elektabilitas pilihan presiden (top of mind) dengan pertanyaan 'seandainya pemilihan langsung Presiden RI dilaksanakan hari ini, siapa calon presiden yang akan ibu/bapak/saudara pilih?':

Joko widodo: 42,5 persen ;  Prabowo subianto: 21,3 persen ; Agus Harimurti Yudhoyono: 3,1 persen ; Muhaimin Iskandar: 1,8 persen ; Gatot Nurmantyo: 1,6 persen ; Anies Rasyid Baswedan: 0,8 persen ; Hary Tanoesoedibjo: 0,4 persen ; Jusuf Kalla: 0,4 persen ;

Kemudian Muhammad Zainul Majdi (TGB): 0,3 persen ; Soekarwo: 0,3 persen ; Chairul Tanjung: 0,2 persen ; Mahfud MD: 0,2 persen ; Sri mulyani: 0,2 persen ; Wiranto: 0,2 persen ; Zulkifli Hasan: 0,2 persen ; Lainnya: 0,7 persen ; Rahasia: 2,0 persen ; Tidak tahu/tidak jawab: 24,1 persen.

 

Jokowi Lebih Disukai

Dalam survei ini, Joko Widodo dan Prabowo Subianto masih dianggap calon presiden terkuat saat ini untuk Pemilu 2019. Kedua nama capres tersebut di angka optimal 80 persen.

Namun nama Jokowi lebih unggul dibandingkan Prabowo baik dari segi popularitas maupun likeabilitas (kesukaan)-nya. "Jokowi dikenal oleh 95,2 persen dan disukai oleh 75,3 persen resonden. Sementara Prabowo dikenal oleh 88,1 persen dan disukai oleh 65,1 persen responden," papar Rikola Fedri.

Berdasarkan hasil survei RTK ini, menurut Rikola, dipastikan Pilpres 2019 nanti akan terjadi tanding ulang antar Jokowi dengan Prabowo, sebelumnya kedua tokoh ini head to head di Pilpres 2014.

"Dipastikan akan terjadi rematch antara Jokowi dan Prabowo, maka pilihan cawapres akan menjadi salah satu faktor yang menentukan," pungkasnya.

 

Belum Aman

Elektabilitas Joko Widodo (Jokowi) sebesar 42,5 persen di survei yang dirilis Roda Tiga Konsultan (RTK) dengan metode ‘Top of Mind’ . Berdasarkan survei tersebut, Gerindra menilai posisi Jokowi pada Pilpres mendatang masih belum aman.

"Melihat hasil survei tersebut, menunjukkan bahwa posisi Pak Jokowi belum aman," kata Anggota badan komunikasi Partai Gerindra Andre Rosiade di Cafe Mandailing, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Minggu (5/8/2018).

Hal tersebut, dikatakan oleh Andre, juga menjadi alasan mengapa kubu Jokowi belum mengumumkan nama cawapres Jokowi. Menurutnya, apapun lembaga surveinya, posisi Jokowi tetap belum aman.

"Sehingga ini yang jadi pertimbangan parpol pendukung Jokowi belum umumkan siapa cawapres Jokowi. Kami menganalisis bahwa apapun lembaga surveinya, kami melihat bahwa posisi Jokowi belum aman," ujarnya. (det/rmo/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>