Aam Jadikan Keterbatasan Sebagai Tantangan untuk Sukses

Senin, 08 Oktober 2017  22:05

Aam Jadikan Keterbatasan Sebagai Tantangan untuk Sukses
SURABAYA  (BM) – Di saat banyak orang mudah berkeluh kesah karena hal sepele, tidaklah demikian dengan Muhammad Amanahtullah (24).

Pria berbakat asal Gresik yang akrab disapa Aam ini, menuturkan kisah suksesnya saat ditemui dalam acara Jatim Fair di Grand City Mall Surabaya. “Saya mulai tahu bakat melukis saya sejak kelas 3 SD. Dulu, saya di sekolah luar biasa (SLB). Kemudian ikut lomba Porseni, juara 2 lomba untuk kategori menggambar dan mewarnai. Dari situ, saya melihat bakat saya. Akhirnya saya ikut les dan sanggar untuk lebih meningkatkan bakat yang ada,” tutur Aam, Jumat (6/10).

Aam pernah belajar di Sanggar Kak Inung. Tapi karena jarak rumah dengan sanggar yang cukup jauh, dia tidak dapat belajar lebih lama lagi. Tak putus asa, Aam mencari informasi lain soal sanggar lukis. Beruntung, guru SLB-nya memiliki kakak yang juga seorang pelukis.

“Akhirnya saya ikut les melukis di situ. Yang saya dapat ilmu dari Kak Inung yaitu soal Damar Kurung yang sekarang jadi icon Kota Gresik. Kemudian di sanggar lainnya, oleh Kak Ferry, saya belajar  cara mencampur warna. Seperti yang kena sinar matahari dan yang tidak kena sinar matahari. Kalau yang tidak kena warna akan semakin gelap. Sedangkan yang kena matahari, warna akan semakin terang.”

Tidak lama kemudian, Aam berkenalan dengan Kak Komang yang juga merupakan guru melukis. Di sana, Aam belajar tentang teknik cat air dan cat minyak. “Karena sebelumnya kalau sama Kak Ferry, saya memakai crayon.”

Dengan memiliki keterbatasan fisik, Aam pernah mendapatkan beberapa kendala. Tetapi, ia menganggap kesulitan tersebut sebagai tantangan. Semakin banyak tantangan, ia semakin ingin bersemangat mencoba.

Aam bersyukur memiliki seorang ibu yang selalu memberinya motivasi dan membuatnya tidak minder. Ketika dirinya pernah mendapatkan hinaan dari teman-temannya, sang ibu selalu berkata agar tidak menganggap penting hinaan tersebut.  “Anggap saja angin lewat,” tutur Aam menirukan nasehat ibunya.

Berkat ibunya lah, Aam tumbuh menjadi pibadi yang tidak minder dan justru percaya diri. Dia menggali potensi atau bakat yang ada di dalam dirinya, kemudian dikembangkan dengan cara mengikuti kelas dari sannggar satu ke sanggar lainnya. Aam tidak pernah lelah belajar.

“Bakat yang dimiliki setiap orang adalah titipan dari Allah. Setelah berhasil menyelesaikan  tantangan saat melukis, saya merasa puas. Saat di rumah lihat lukisan, saya masih tidak menyangka. Kok bisa ya, saya melukis?” cerita pria yang saat ini sedang kuliah di Universitas Muhammadiyah Gresik ini.

Dalam membuat satu lukisan, Aam membutuhkan waktu sekitar 3-30 hari. Ini semua tergantung bahan cat yang digunakan dan juga tingkat kerumitan obyek lukisan. “Kalau yang cat minyak, bikinnya 3 hari karena nunggu kering. Kalau cat minyak lama keringnya. Sedangkan jika cat air, bisa cepat kering tapi harus cepat mencampur.  Kalaupake cat minyak, tidak bisa ditumpuk warna, jadi harus nunggu kering dulu.Ada juga lukisan yang sampe 3 minggu atau 1 bulan, terutama yang rumit seperti lukisan singa karena bikin bulu-bulu singanya.  Jadi harus pelan-pelan,” terang pria yang hobi melukis ini.

Bagi para difabel yang ingin sukses, Aam memberikan tips yaitu hindari rasa malu. “Karena malu dan tidak pede bisa manghambat kita untuk sukses. Banyak kemampuan dari Yang Maha Kuasa yang telah diberikan pada kita. Allah selalu memberikan kelebihan di balikkekurangan yang ada,” pesannya. (era/udi)



OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>