Aksi Bela Kalimat Tauhid Batal Digelar di Sejumlah Kota

Selasa, 28 Oktober 2018  18:14

Aksi Bela Kalimat Tauhid Batal Digelar di Sejumlah Kota

Wali Kota dan Kapolres Kota Malang imbau massa untuk membubarkan diri.

SURABAYA (BM) - Aksi bela kalimat tauhid di sejumlah kota batal digelar. Di antaranya, di kota Malang , Surabaya, dan di titik nol Yogjakarta. Di Kota Malang, Massa memilih membubarkan diri setelah mendapat arahan dari Walikota Malang, Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri dan Ketua FKUB Kota Malang.

Massa yang diperkirakan mencapai ribuan itu telah berkumpul di sekitaran Masjid Jami' Kota Malang sejak pukul 04.30 WIB untuk melaksanakan salat subuh berjamaah.

Rencanaya, setelah itu massa akan melakukan long march dari Alun-alun Merdeka Kota Malang menuju Balaikota melalui Jalan Basuki Rahmat.

Namun, massa tampak tidak lama berkumpul di area Alun-alun yang berlokasi di depan Masjid Jami'. Wali Kota Malang Sutiaji datang menemui massa yang berkumpul depan Masjid Jami' Kota Malang meminta agar aksi dibubarkan.

Selain tak mengantongi izin, Sutiaji meminta semua pihak menjaga kondusivitas Kota Malang dan semua elemen masyarakat yang telah sepakat menolak segala kegiatan yang dapat menciptakan gangguan Kamtibmas.

"Saya meminta agar massa aksi kembali pulang ke rumah masing-masing. Mari kita saling menjaga kondusivitas Kota Malang," ungkap Sutiaji di hadapan ribuan peserta aksi, Minggu (28/10/2018).

Sempat berlangsung negosiasi antara koordinator aksi bersama Forkopimda Kota Malang dan aparat keamanan. Namun akhirnya massa membubarkan diri dengan tertib pada sekitar pukul 06.05 WIB.

Kapolres Malang Kota Malang AKBP Asfuri menambahkan, massa yang membubarkan diri berasal dari Komunitas Pembela Tauhid Malang Raya. Mereka datang dari berbagai daerah di luar Kota Malang.

"Mereka hampir rata-rata datang dari luar Kota Malang. Setelah melaksanakan salat subuh, oleh Forkopimda diberikan imbauan bahwa Kota Malang adalah kota yang sangat kondusif. Agar massa yang datang untuk ikut bersama-sama menjaga kondusivitas Kota Malang. Himbauan ini kemudian direspon dengan massa membubarkan diri dengan tertib," beber Asfuri terpisah.

Sekitar pukul 07.00 WIB, Alun-Alun Kota Malang sudah bersih dari massa aksi.

Sebelumnya aksi serupa sedianya akan digelar di Surabaya pada tanggal 26 Oktober 2018, seusai salat Jumat. Rencana awalnya massa aksi akan berkumpul di Masjid Al Akbar Surabaya dan melakukan long march ke Mapolda Jatim. Namun rencana itu batal terlaksana.

Ketua DPW FPI Mahdi al-Habsyi menyebut aksi ini ditunda hingga minggu depan, yaitu pada hari Jumat (2/11). Namun Mahdi enggan menyebut alasan penundaan aksi ini.

"Belum ada, diundur tanggal 2 November," kata Mahdi singkat.              

Rencana aksi ini sempat ramai tersebar melalui pesan WhatsApp. Dalam pesan itu, aksi ini akan digelar hari ini pukul 13.00 hingga 15.00 WIB dengan titik kumpul di Masjid Al-Akbar Surabaya dan long march hingga ke Mapolda Jatim.

Di dalam pesan juga menyebut aksi ini akan dihadiri beberapa ormas seperti FPI Surabaya, Muhammadiyah, Relawan Keadilan, Front Pemuda Islam, Hidayatullah, Laskar Jundullah, Ikamra, hingga Jawara.

 

Nol Yogya

Sebelumnya, aksi bela kalimat tauhid yang digerakkan Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) juga batal digelar di titik nol kilometer Kota Yogyakarta. Sebagai gantinya aksi tersebut hanya digelar di Kampung Suronatan, dengan titik kumpul di Masjid Taqwa Suronatan.

Sementara long march yang semula dilakukan dari Masjid Taqwa ke titik nol dialihkan ke jalanan sekitar Kampung Suronatan. Seperti Jalan Suronatan, Jalan H Agus Salim, Jalan Nyai Ahmad Dahlan, Jalan KH Ahmad Dahlan, dan Jalan KH Wahid Hasyim.

Presidium FUI DIY, Syukri Fadholi menjelaskan, batalnya long march dan penyampaian pernyataan sikap di titik nol karena FUI tidak mendapat izin dari aparat kepolisian. Pihaknya hanya mendapatkan izin aksi di sekitar Kampung Suronatan Yogyakarta.

"Ada kesepakatan dan pemahaman kepada teman-teman kepolisian agar kegiatan ini agak fokus, kemudian juga menghindari adanya provokasi dari pihak luar, maka (aksinya) tidak di titik nol," kata Syukri di sela aksi long march, Rabu (24/10/2018).

Sebenarnya FUI DIY sudah mencoba menego aparat kepolisian agar diberikan izin menggelar aksi di Gedung Persaudaraan Djamaah Haji Indonesia (PDHI) Sasonoworo Pusat yang berada di kawasan Alun-alun Utara Kota Yogyakarta. Namun usulan ini tak diterima.

"Ada yang mungkin kecewa dan ada yang tidak. Tetapi bagi umat Islam tidak ada masalah, yang terpenting bagaimana aspirasi dan rasa tanggung jawab moral umat Islam di DIY ini bisa tersalurkan, untuk bisa memberikan warning kepada siapapun juga," tuturnya.

Sementara dalam insiden pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid di Garut, FUI DIY berharap pemerintahan jujur kepada masyarakat. Apalagi dalam kasus tersebut MUI telah menegaskan bahwa bendera yang dibakar bukan bendera HTI.

"Saya hanya meminta pemerintah jujur, yang salah ya katakan salah, yang benar katakan benar, jangan memanipulasi. Sebab pemerintahan yang ditegakkan atas ketidakjujuran pasti hancur, yang tidak ditegakkan atas rasa keadilan pasti hancur," tegasnya.

Namun Syukri tetap mengapresiasi sikap Gerakan Pemuda (GP) Ansor yang sudah meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat. Dia berharap dengan cara itu ketegangan di tengah masyarakat semakin reda, dan oknum Banser mendapat ampunan dari tuhan.

"Tetapi barang kali pemerintah harus jujur, bahwa apa yang dilakukan itu jelas salah. Kemudian saya mendapat laporan dari MUI sebenarnya yang dibakar bendera itu tidak pakai 'HTI'," ucap Syukri menegaskan kembali pernyataannya. (det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>