Alami Kekeringan, 20 Daerah Di Jatim Disuplai Air Bersih

Minggu, 28 Juli 2019  17:05

Alami Kekeringan, 20 Daerah Di Jatim Disuplai Air Bersih

Warga Mengantre Air Bersih

Surabaya (BM) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jatim memprediksi puncak kemarau di Jatim terjadi pada Agustus 2019. Hingga kini, kemarau masih memasuki fase awal. "Sekarang ini masih awal musim kemarau. Nanti puncaknya baru sekitar Agustus," ujar Kepala Pelaksana BPBD Jatim Suban Wahyudiono di Surabaya, Minggu (28/7/2019).

Kendati demikian, Suban mengatakan telah ada 15 daerah yang telah ditetapkan siaga, dan tanggap darurat kekeringan. Lima belas diantaranya yakni Magetan, Tulungagung, Bojonegoro, Lamongan, Mojokerto, Tuban, dan Nganjuk.

Selain itu, ada Kabupaten Pasuruan, Pamekasan, Sumenep, Bangkalan, Sampang, Lumajang, Kabupaten Probolinggo dan Bondowoso. Suban menyebut kabupaten ini membutuhkan suplai air.

Suban menambahkan suplai air dilakukan di lebih dari 15 daerah, tepatnya ada di 20 kabupaten. Namun memang, lima kabupaten belum menyatakan status tanggap darurat. 

Suplai air ini, lanjut Suban, dikirim melalui mobil tangki. Sedangkan setiap desa akan mendapat tangki air dengan kapasitas 5.000-6.000 liter setiap hari. Tercatat ada 172 desa dari 78 kecamatan.

"Hasil pemetaan dari 38 kabupaten di Jatim, yang alami kekeringan 28 kabupaten. Sudah ada 20 kabupaten yang dropping air. Itu 172 desa, dan 78 kecamatan," ungkap Suban.

Lalu, mengapa tidak semua daerah yang kekeringan mendapat suplai air? Suban menyebut dari hasil pemetaan, 28 kabupaten ini telah dibagi sesuai kriteria status keringnya. 

Sebanyak 24 kabupaten kering kritis, dan empat daerah lainnya kering langka. Rinciannya, ada 566 desa di 180 kecamatan yang kering kritis. Kemudian 236 desa di 93 kecamatan kering langka, dan 20 desa di 14 kecamatan alami kering terbatas. 

Suban menambahkan pihaknya memang membagi tiga kategori kering. Pertama yakni kering langka terbatas dengan ketersediaan air per orang per hari hanya 30-60 liter dan jarak ambil air dari rumah 500 meter. 

"Kedua kering langka itu ketersediaan air bagi masyarakatnya hanya 10-30 liter saja, dengan jarak ambil antara 500 sampai tiga kilometer. Terakhir kering kritis, ketersediaan air kurang dari 10 liter per orang per hari dengan jarak air lebih dari 3 kilometer," pungkasnya.

 

Cari Sumber Air

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melakukan suplai air bersih di wilayah tersebut. Selain itu, BPBD juga menyiapkan langkah jangka panjang.

Langkah ini dengan memetakan daerah-daerah mana saja yang masih memiliki sumber air. Nantinya, akan dilakukan pengeboran untuk dijadikan sumur. Hal ini ditempuh agar di tahun-tahun berikutnya, kekeringan di beberapa daerah bisa dikurangi. 

Kepala Pelaksana BPBD Jatim Suban Wahyudiono mencontohkan saat dirinya ke Sampang, memang ada daerah yang dibor hingga 75 meter namun tak kunjung keluar air.

"Jangka panjang itu kita juga telah di Sampang kemarin, di desa Karang Penang ada salah satu pondok sampai diliburkan gak ada air. Saya tanya pak kiai ini tidak ada air. Katanya orang sini ngebor sampai 70 meter gak tembus," kata Suban di Surabaya, Minggu (28/7/2019).

Suban pun menambahkan mengatasi hal ini, pihaknya bekerja sama dengan dinas-dinas terkait. Hal ini untuk dilakukan pengeboran dengan mengirim geolistrik untuk mencari sumber air. 

"Kita sudah koodinasi seijin pak sekda mana-mana yang dipetakan kordinasi dengan cipta karya, Dinas ESDM untuk melakukan pengeboran. Setelah di Bondowoso dropping air kemarin bu Gubernur memerintahkan ESDM di Bondowoso dan langsung mengirim geolistrik untuk mencari sumber air di sana," papar Suban.

Suban berharap langkah ini bisa mengurangi kekeringan di kemudian hari. Namun, dia mengakui jika di beberapa wilayah di Jatim memang ada daerah yang tidak memiliki sumur. Untuk itu, pihaknya telah menyiapkan sejumlah antisipasi agar masyarakat tak kekurangan air bersih untuk memasak, mandi, hingga air minum.

"Maka pemprov memberi upaya, langkah strategis sesuai perintah gubernur, sejak tanggal 10 Ibu Gubernur sudah membuat surat imbauan kepada bupati dan wali kota untuk segera membuat kesiapsiagaan dalam rangka ancaman kemarau. Kedua, OPD di Jatim juga melakukan kordinasi ke pemda dan memetakan ancaman kekeringan 2019," pungkasnya.

 

Malang Selatan 

Di wilayah Malang selatan, sejumlah desa di Kecamatan Sumbermanjing Wetan mulai dilanda kekeringan.

Salah satunya adalah Desa Ringinkembar dan Desa Klepu. Warga di dua desa ini sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari karena debit air surut. Selama ini, warga bergantung pada sumber air yang menopang kebutuhan air untuk sekitar 1.300 Kepala Keluarga (KK).

Demi menyuplai kebutuhan air bersih, warga harus rela mengambil air di wilayah desa lain yang jaraknya hampir 1 kilometer.

Kepala Desa Ringinkembar Moh Subaidi menyatakan, krisis air bersih menjadi rutinitas tahunan disaat musim kemarau. Debit sumber air mengecil dan tak mampu memenuhi kebutuhan air bagi ribuan warganya.

"Kekurangan air bersih ini terjadi hampir di semua pedukuhan. Kami akan kondisikan titik yang paling parah, dengan mendatangkan pasokan air bersih. Sumber air biasa menjadi tempat warga mengambil air sudah mulai mengering," terang Subaidi kepada wartawan, Minggu (28/7/2019).

Pemerintah Desa Ringinkembar juga telah mengirim surat kepada Pemkab Malang beserta BPBD untuk mengirimkan bantuan air bersih bagi warga.

"Kami sudah bersurat ke Pemkab Malang untuk mendapatkan bantuan air bersih. Agar warga tidak lagi kebingungan untuk mendapatkan air, demi kebutuhan sehari-hari," terangnya.

Nyaris di semua dusun atau perdukuhan di wilayah Ringinkembar tengah mengalami krisis air bersih. Seperti di wilayah RT 26 dan RT 27 yang terdapat 120 KK. Selanjutnya di Dusun Pager Gunung yang ditempati sekitar 150 KK.

Berikutnya adalah Dusun Pancurejo ada sebanyak 155 KK yang membutuhkan air bersih dan 145 KK yang tinggal di Dusun Jambenawe.

"Untuk Dusun Krajan saja, mencapai 350 KK yang membutuhkan pasokan air bersih," ujar perangkat Desa Ringinkembar Zainulloh.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang Bambang Istiawan membenarkan kurangnya ketersediaan air di wilayah Sumbermanjing Wetan disebabkan menurunnya debit sumber air, yang biasa diambil warga untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

"Pasokan air siap kami kirimkan, ketika warga membutuhkan. Di sana memang terjadi penurunan debit air, di sumber mata air yang biasa diambil warga untuk kebutuhan sehari-hari," terang Bambang.(det/tit0

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>