Diduga Hendak Menambang, 4 WN China Dihadang Warga

Rabu, 05 Desember 2018  17:38

Diduga Hendak Menambang, 4 WN China Dihadang Warga

Jember (BM) - Ratusan warga Jember menghadang 4 orang berkewarganegaraan (WNA) China. Aksi warga Desa Pace, Kecamatan Silo, ini dipicu WNA tersebut diduga akan melakukan penambangan di desa setempat.

Kejadian berawal saat 4 orang dengan mengendarai 3 mobil, tiba di Desa Pace. Warga yang gencar-gencarnya menolak tambang langsung beringas. Beruntung aksi itu diketahui polisi dan beberapa orang itu diamankan di salah satu rumah warga.

Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo terjun langsung ke lokasi mengamankan sejumlah orang pendatang itu, dan menenangkan warga agar suasana kondusif.

"Mereka datang ini, diduga akan melakukan penambangan. Warga itu mengetahui mereka ini orang tambang, (karena) orang Korea dan Cina. Diduga akan melihat lokasi tambang, Jadi warga langsung menghadang. Sekarang di Pace ini panas-panasnya menolak tambang," kata salah satu warga Hendra Puspita saat dikonfirmasi wartawan di lokasi, Rabu (5/12/2018).

Warga pun menghadang dan berinisiatif mengamankan 4 WNA itu karena curiga ada salah satu orang tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan menunjukkan gelagat mencurigakan karena ingin menuju ke lokasi pertambangan emas yang memang hingga kini diprotes warga.

"Pace ini sekarang situasinya rawan dan panas. Jangan sampai ada pertambangan emas di sini. Tegas kami warga Pace menolak tambang," tegasnya.

Sementara Kapolsek Silo Wahyono mengaku warga di Desa Pace sejak lama dengan tegas menolak pertambangan. "Intinya warga ini menolak tambang. Adanya situasi ini, karena ada orang yang dicurigai akan melakukan kegiatan pertambangan di desa ini. Kita hadir untuk mengamankan," kata Wahyono.

Keempat WNA asal Cina itu saat dihadang warga, lanjut Wahyono, diamankan di rumah salah seorang warga. "Diamankan di Rumah Pak Taufik, selanjutnya saat kapolres datang, langsung dibawa dan diamankan di Mapolres Jember," tandasnya.

"Kami berterima kasih kepada warga Desa Pace, karena masih bisa menjaga situasi kondusif, dan lebih dewasa menyikapi persoalan ini," sambungnya.     

 

Hadang Staf Kementerian

Warga Jember ini tidak hanya menghadang dan mengamankan 4 warga negara asing (WNA) asal China. Warga Desa Pace, Kecamatan Silo, ini juga menghadang staf Kementerian ESDM berjumlah 3 orang dengan mengendarai 4 mobil. Agar tidak terjadi konflik yang memanas, Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo harus turun tangan mengamankan sejumlah pendatang itu.

Beruntung tidak sampai terjadi konflik serius, namun 4 orang WNA dan 3 orang pegawai pemerintah itu, diamankan ke mapolres setempat.

Sesampainya di Mapolres Jember, Kapolres AKBP Kusworo mengetahui informasi ini sekitar pukul 09.00 WIB. "Ada Info dari masyarakat tentang adanya diskusi antara warga dengan orang dari Surabaya dan Jakarta. Nah saat itu warga berkumpul semakin banyak. Karena ada info ada penambang emas yang akan datang," tambah kapolres, Rabu (5/12/2018).

Kedatangan mereka, jelas kapolres, dikira sebagai calon penambang emas yang dimaksud. "Sehingga kami dengan Sabhara langsung meluncur ke lokasi (Silo) dan kami langsung menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan, karena ada 300 orang berkumpul. Juga meminta kepada warga Silo untuk menjaga suasana kondusif," sambungnya.

Kapolres menjelaskan, dengan kondisi di Desa Pace yang masih belum kondusif, pihaknya mengamankan 4 WN China dan 3 staf dari Kementerian ESDM. "Sekitar 7 orang dan kendaraan yang ada, langsung kami evakuasi dan dibawa ke mapolres untuk dimintai keterangan. 3 orang staf dari Binmas ESDM," ungkapnya.

Dia menjelaskan kedatangan 7 orang tersebut ke Desa Pace melakukan survei. "Apakah betul bisa dilakukan penambangan atau tidak. Namun melihat harapan masyarakat (yang menolak adanya pertambangan), hal itu akan dilaporkan kepada Kepala Dinas ESDM Provinsi Jatim," tandasnya.

 

Mahasiswa Demo

September lalu, sejumlah aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) cabang Jember sempat berunjuk rasa di depan kantor DPRD. Mereka menolak izin pertambangan di Blok Silo. Selain itu penambangan di Silo akan menimbulkan kerusakan lingkungan.

Aksi mahasiswa itu merespon surat Keputusan Menteri (Kepmen) Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1802 K/30/MEM/2018 tertanggal 23 April 2018 tentang izin usaha pertambangan eksplorasi Blok Silo. Pasalnya ada 47 ribu jiwa yang terancam, jika tambang emas itu beroperasi.

Bukan hanya kerusakan lingkungan, bahkan sumber mata air terbesar di wilayah itu untuk irigasi juga akan mati. Oleh karena itu, mahasiswa menagih komitmen Bupati Faida yang sebelumnya manyatakan menolak pertambangan di Silo.

"Kami ini menagih janji bupati, di mana pada tahun 2016 lalu, pernyataannya itu tegas menolak adanya pertambangan di Blok Silo, baik legal ataupun ilegal. Bahkan penolakan itu, ditegaskan (bupati) sampai masa jabatannya habis," ujar Rony Ardiansyah, Korlap Aksi, Kamis siang (20/9/2018).

Tuntutan mahasiswa di antaranya, menuntut bupati menolak segala bentuk pertambangan di wilayah Kabupaten Jember, baik legal ataupun ilegal, khususnya juga di wilayah Kecamatan Silo.

"Bupati harus mengutamakan kepentingan pro petani. Bupati juga harus mengirim surat kepada Kementerian ESDM, untuk mempertegas menolak adanya pertambangan di wilayah Silo itu," sebutnya.

Bahkan, lanjut Rony, dulu saat adanya studi kelayakan terkait adanya pertambangan tahun 2016, bupati pun juga tegas menolak.

"Lah tiba-tiba terbit kepmen itu, kita pun mempertanyakan soal itu. Sehingga sebagai bentuk komitmen kali ini, kami menyampaikan pakta integritas untuk ditanda tangani agar benar-benar ada tanggung jawab dari bupati," tegasnya.

"Jika tetap tidak ada ketegasan, kami akan ajak warga Silo, karena memang yang menjadi korban adalah warganya," ujarnya.

Bahkan jika perlu, kata Rony, bupati harusnya melakukan gugatan atas Kepmen ESDM tersebut.

"Jika perlu bupati layangkan gugatan ke PTUN, terkait terbitnya surat itu, dan membatalkannya," tandasnya.

Sementara anggota DPRD Jember yang menemui mahasiswa, Siswono menegaskan, pihaknya secara tegas menolak adanya pertambangan di Blok Silo. Bahkan hal itu sudah dituangkan dalam RT/RW Kabupaten Jember.

"Terkait tambang di Silo itu, DPRD sesuai eksistensinya, soal tambang, tegas dinyatakan ditolak secara permanen, melalui RT/RW. Hal ini sudah konkret," ujar Ketua Komisi C DPRD Jember ini.

"Artinya sampai masa jabatan kita habis tetap menolak tambang itu. Terkecuali jika terkait itu (lokasi tambang) di Blok Silo untuk pendidikan," sambungnya.

Terkait janji bupati yang juga dengan tegas menolak adanya tambang di Blok Silo, Siswono pun juga meminta kepada masyarakat dan aktivis mahasiswa, agar diberikan waktu. "Beliau sudah mengirim surat soal tambang di silo ke ESDM, jadi mohon bersabar," katanya.

"Namun jika kapitalis-kapitalis tambang itu tetap bertahan di Silo. Kami siap bersama (mahasiswa) untuk menduduki lokasi tambang itu, rawe-rawe rantas malang-malang putung," tegasnya.

Sementara itu, perwakilan dari Pemkab Jember Heri Listiantoro menyampaikan, Kepmen tersebut merupakan penetapan kawasan, dan masih jauh untuk tahapan operasional pertambangan.

"Untuk proses penambangannya sendiri, masih banyak persyaratan lain yang harus dipenuhi. Seperti halnya lelang, dan tanda tangan kesepakatan dari masyarakat sekitar," ujar pria yang juga menjabat sebagai Kabid Perdagangan Internasional di Disperindag Jember itu.(det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>