Diskusi Publik, Kaum Milenial Harus Jaga Perdamaian

Rabu, 19 Desember 2018  16:58

Diskusi Publik, Kaum Milenial Harus Jaga Perdamaian
SURABAYA (BM)- Jangan Suriahkan Indonesia...!” Demikian tema Diskusi publik yang digelar oleh Lembaga Kajian Strategi dan Pembangunan Pemerintah (L-KSP) di aula Kampus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), Rabu (19/12).
 
Dalam Diskusi publik tersebut turut hadir, Dr.H.Suis Qoim Abdullah,M.FiI.I,Dosen Pasca Sarjana,Abd.Holil,S.Hum,Gerakan Pemuda Ansor Surabaya, Nafik Muthorin,MA.Hum, Pemuda Muhammadiyah,Serta Abdurrohman wahid Direktur L-KSP. 
 
Acara tersebut disambut antusias dan dihadiri ratusan Mahasiswa UINSA yang tergabung dari beberapa organisasi. Serta dihibur penampilan selebgram ternama Veve Zulfikar.
 
Sampai saat ini hastag atau tagar #JanganSuriahkanIndonesia. masi jadi tranding topic di Media sosial.
 
Dosen Pasca Sarjana Suis Qoim menjelaskan, seminar tersebut merupakan bagian dari gerakan menolak segala upaya yang bisa menjadikan Indonesia luluhlantak seperti Suriah.
 
Edukasi politik kepada masyarakat sangat diperlukan untuk memahamkan masyarakat terkait mekanisme politik. 
 
“Politik itu adalah hal yang biasa. Biasa dimana ada adu ide, gagasan, pemikiran dan sebagainya,” ujarnya.
 
Menurutnya, hal yang paling fundamental agar Indonesia tidak jatuh ke dalam kondisi seperti Suriah, yakni tidak mempolitisasi agama.
 
Sementara itu Abdurrohman wahid Direktur L-KSP mengatakan adanya potensi perpecahan dalam kerukunan sosial di Indonesia menjelang Pemilu 2019. 
 
Meski begitu, hal itu hanyalah potensi dan tidak terlalu besar jika masyarakat mampu untuk memahami mekanisme politik, khususnya generasi milineal yang akan menduduki 48% dari pemilih pada pemilu 2019, harus diberikan pemahaman, segala usaha memakai agama untuk kepentingan politik harus ditolak.
 
Wahid juga Menampik keras segala gerakan makar yang mengatas namakan agama, bahasa dan simbol agama memang efektif untuk mengelabui masyarakat, seperti akhir-akhir ini ramai terkait pembakaran bendera.
 
Padahal menurut Wahid tidak ada teks Al-quran maupun hadist yang mendukung klaim tersebut.
Ia menyatakan demikian, melihat adanya beberapa kelompok yang gemar menggunakan mimbar masjid untuk hujatan politik sudah kelewatan dalam menyudutkan Pemerintahan.
 
Dia menekankan, gerakan literasi harus dimasifkan di kelompok manapun untuk mencegah kerukunan sosial terpecah belah.
 
"Jika gerakan Literasi ini tidak dilakukan maka kerukunan sosial akan terpecah belah, dan akan menjadi semakin rentan," ujarnya. (*)
OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>