Imigran Lama Rusun Puspa Agro Tolak 64 Imigran Baru

Kamis, 23 Agustus 2018  18:55

Imigran Lama Rusun Puspa Agro Tolak 64 Imigran Baru
SIDOARJO (BM) - Puluhan Imigran yang tinggal di rumah susun sewa (rusunawa) Puspa Agro Jemundo Taman, menolak kedatangan 64 imigran calon penghuni tempat penampungan yang sama pada Kamis (23/8).

Pemindahan 65 Imigran yang ditolak oleh sekelompok sama-sama lmigran itu berasal dari Negara Agafnistan, Sudan, Ethiopia, Srilangka, Syiria, Myanmar dan Pakistan.

Sebelumnya, 65 Imigran itu ditampung di Redemin Surabaya yang berada di Bangil. Belum diketahui jelas alasan penolakan penghuni lama Apartemen Puspa Agro terhadap calon penghuni baru tersebut.

Para Imigran yang menolak itu menghadang dan tak memperbolehkan Imigran baru memasuki apartemen. Petugas keamanan yang berada di lokasi juga berusahan melakukan mediasi atas perselisihan tersebut.

Terlihat ada 3 orang mengalami luka memar yang diduga akibat aksi dorong. Hingga semalam, suasana penolakan muncul dari hampir separo lebih penghuni rusun yang ada. Mereka (imigran lama di rusun) tetap melakukan pencegahan dan melarang pengungsi baru itu masuk.

Informasinya, pihak International Organization For Migration (IOM) akan tetap memberikan fasilitas sebanyak 6 kamar yang masih kosong diperuntukkan kepada pengungsi baru.

Pasca adanya penolakan, sebanyak 64 pengungsi masih belum bisa menempati rusun yang telah dihuni sebanyak total 340 pengungsi dari beberapa negara tersebut.

Alasan para Imigran penghuni lama di Rusun Puspa Agro Jemundo Kec. Taman menolak Imigran pendatang baru karena tempat dinilai tidak mencukupi.

Muhammad Ali Muhammadi (30) salah satu pengungsi yang menolak mengatakan, saat ini dirinya telah menempati kamar dengan dua orang rekannya. Jika penambahan tetap dilakukan, ia yakin menambah permasalahan yang baru.

"Sekarang saya dengan rekan saya sudah berhimpitan. Saya tidur dikamar dan teman saya di ruang tamu. Jika ditambah satu orang lagi mau ditaruh dimana," kata Muhammad.

Pria 30 tahun pencari suaka asal negara Afganistan itu menambahkan, pihaknya saat ini menginginkan kepastian dari pihak UNHCR kapan dirinya beserta rekannya diberangkatkan ke negara ketiga. "Hanya janji dan janji saja," keluhnya.

Khalilullah pengungsi lainnya juga berkeinginan dirinya ada kepastian untuk segera dipindahkan. Menyikapi adanya Imigran baru, ia mengaku jika kamar ditambah satu orang lagi pasti tidak cukup dan pasti akan sesak.

Dia mengaku, memang secara fisik dirinya dan keluarga terlihat normal. Namun, jika dokter memeriksa kejiwaan pengungsi, pasti ada gangguan. "Disini, kami tidak bisa bekerja. 24 jam hanya duduk dikamar, malas-malasan. Dulu ada dua orang bunuh diri karena diduga setres. Kami takut beberapa penghuni mengalami setres berat, dan bisa jadi ada yang bunuh diri lagi," imbuh Khalilullah. (omu/udi)
OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>