Jadikan Perpustakaan Bukan Sekadar Tempat Membaca Buku

Rabu, 11 Oktober 2017  22:04

Jadikan Perpustakaan Bukan Sekadar Tempat Membaca Buku
Kerumunan siswa berseragam putih merah mulai bergerombol di depan pintu perpustakaan tepat pukul 10.35 WIB, Senin (2/10) pekan lalu. Dari atribut di seragam bagian lengan kanan tampak angka 5 (lima). Para siswa ini kemudian melepas alas kaki dan masuk perpustakaan.

Oleh: Suluh Dwi Priambudi


PERPUSTAKAAN SDN Airlangga I Surabaya berbentuk persegi dengan ukuran 7x8 meter. Di dalamnya, tersedia 8 meja kecil aneka warna dan satu meja besar. Tak tersedia kursi duduk bagi siswa. Mereka tetap nyaman karena lantai diberi matras warna-warni. Sebuah pendingin ruangan dan kipas angin dinding menepel di salah satu tembok yang membuat sejuk ruangan.

Di beberapa sisi ruangan tersedia rak buku dan lemari. Ribuan buku berjajar rapi di tempatnya sesuai jenisnya. Dinding bagian atas terpampang foto berpigura yang mendokumentasikan kegiatan SDN Airlangga I serta aneka spanduk bertuliskan kalimat motivasi tentang manfaat membaca buku.

Pagi itu, total ada 32 siswa kelas 5C yang mengisi ruang perpustakaan. Mereka didampingi seorang guru dan Kepala Perpustakaan. Di minggu pertama tiap bulan, siswa tersebut dijadwalkan meresume sebuah buku. Sebelum aktivitas dimulai, seorang siswa maju ke depan untuk memimpin mengucapkan yel-yel. "Teman-teman kita mulai yel-yel dulu," kata Ida Ayu Intan, pemimpin yel-yel.

"Sekolahku," kata Ida.

"Jaya...," sahut teman-temanya.

"Perpustakaanku," sambung Ida.

"Luar biasa," sorak temannya.

"SDN Airlangga I," ucap Ida.

"Yes...Yes...," tutup para siswa.

Setelah mengucapkan yel, para siswa itu menyanyikan lagu mars Membaca Buku Kota Surabaya yang dipimpin Kepala Perpustakaan SDN Airlangga I Dyah Kusumasari. Dengan kompak mereka menyanyikan lagu berdurasi dua (2) menit itu.

Dyah selanjutnya memimpin siswa-siswa tersebut. Dalam kesempatan itu dia memberi tantangan kepada siswa. Tantangannya ialah meminta siswa mendongeng di depan. Semestinya, jadwal mendongeng dilakukan minggu kedua. Kali ini ditukar dengan meresume. "Hari ini kita tukar. Siap semua untuk mendongeng?," tanya perempuan berhijab ini.

Sebagian siswa menjawab siap, sebagian lain mengaku tidak siap. Namun, tantangan tetap diberikan. Semula tidak ada yang mau ketika Dyah meminta siswanya mengunjuk tangan kemudian maju mendongeng di depan. Bahkan, kebanyakan siswa itu saling tunjuk dan sebut nama temannya. "Ayo mengacung yang sanggup. Jangan saling tunjuk," tegas Dyah.

Tak beberapa lama kemudian Muhammad Noval Akbar mengacung. Sebelum dia mendongeng, teman-temanya sebagai pendengar mengucapkan kalimat khas agar suasana hidup. "Lampu kamera... Action!," ucap siswa bersamaan sambil menggerakan tangan seolah-olah memegang kamera. Selanjutnya Noval mulai mendongeng tentang Tiga Babi Kecil. Tanpa sebuah buku di tangan.

Kata demi kata keluar deras dari mulut Noval. Sesekali dia menggerakan tangan dengan mimik wajah berubah-ubah. Ekspresi dalam mendongeng tidak boleh dilupakan siswa. Sebab, teman-teman yang mendengar tidak segan-segan untuk mengingatkan.

Noval mengaku hampir setiap hari mendatangi perpustakaan sekolah. Beberapa buku dongeng dibacanya sambil diingat-ingat. Aktivitas ini terus berlanjut ketika berada di rumah. Bahkan, Noval menegaskan telah hafal beberapa buku dongeng selain Tiga Babi Kecil, yakni Cindelaras, Malin Kundang, Batu Menangis, Si Kebo, serta Danau Lipan. "Saya selalu tertarik kisah masa lampau, baik dongeng maupun sejarah," ujarnya.

Cerita lain dikisahkan Mahardhika Arya Satya Briet. Dia mendongeng tentang Si Pitung. Hikmah yang mampu diambil dari kisah ini adalah harus berani mengorbankan nyawa demi Negara dan bangsa. “Saya sejak TK memang sudah bisa baca dan suka membaca di rumah dan di perpustakaan,” katanya. Saat itu, total ada empat murid kelas 5C maju mendongeng. Ceritanya berbeda-beda antar siswa.

Kepala Perpustakaan SDN Airlangga I Dyah Kusumasari menjelaskan, mendongeng menjadi salah satu kegiatan yang menonjol di sekolahnya. Sebelumnya, aktivitas literasi hanya sekadar meminjam dan membaca buku. Berkat mendongeng, beberapa siswa pernah menjadi juara di berbagai kompetisi tingkat Kota Surabaya. “Tahun 2014 pernah juara pertama tingkat kota dan mewakili Surabaya ke tingkat Jatim,” katanya.

Dyah yang merupakan alumni Universitas Jember (Unej) ini melanjutkan, dalam sebulan ada lima kegiatan di perpustakaan yang harus diikuti siswa mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Minggu pertama ialah meresume, minggu kedua mendongeng, minggu ketiga menceritakan kembali, minggu keempat mengarang, dan terakhir menulis puisi. Namun, kegiatan ini bisa ditukar sewaktu-waktu bergantung guru pendamping. Tiap kegiatan berdurasi waktu 35 menit.

Saat mendongeng atau menceritakan kembali, siswa maju tanpa membaca buku. Hanya saja ketika mendongeng siswa harus ekspresif. Dengan begitu, kata Dyah, satu siswa paling tidak menguasai satu dongeng dalam seminggu. Pilihan buku dongeng sebagai bacaan sepenuhnya diserahkan ke siswa. Meski demikian, guru tidak melepas begitu saja. Tak jarang sebelum kegiatan dimulai siswa diberi materi terlebih dahulu. “Materi seperti mendongeng yang baik, cara menulis puisi, juga diajarkan langsung di perpustakaan,” jelasnya.

Koleksi buku di perpustakaan SDN Airlangga I dirasa cukup memfasilitasi siswa. Dyah menyatakan, jumlah buku di perpustakaan sekitar 4.500. Namun, baru 3.400 yang sudah diinduk berdasar jenis buku. Misalnya buku Agama, ilmu-ilmu sosial, bahasa, ilmu-ilmu murni, teknologi ilmu terapan, kesehatan, olahraga, rekreasi, biografi, geografi, sejarah, kesustraan, referensi, serta buku dongeng-dongeng. Tentu saja, lanjut dia, buku bacaan yang dilahap siswa sudah diklasifikasi berdasar usia.

Menurut Dyah, sekolah memberikan sarana untuk memantau aktivitas literasi siswa dengan memberi buku penghubung perpustakaan. Di dalam buku ini terdapat lima kolom baris. Terdiri atas judul buku, penerbit, penulis, hasil resume, tanda tangan orang tua dan guru. Tiap siswa diberi satu buku. “Buku penghubung ini selalu dikumpulkan tiap minggu dan diperiksa,” terangnya.

Dengan banyaknya kegiatan di perpustakaan, Dyah memiliki cara jitu agar tiap kelas selalu tertib. Caranya membentuk sahabat perpustakaan di tiap kelas. Sahabat perpustakaan ini beranggotakan lima siswa. Pertama bertugas merapikan sepatu, kedua bertugas bagian absensi, menata meja, menata buku, dan kebersihan perpustakaan. “Semua bertanggung jawab sesuai tugas masing-masing,” kata dia.

Dyah mengaku, inovasi tidak akan berhenti dalam menggelorakan literasi. Yang sudah disiapkan dan mulai berjalan adalah mengaplikasikan hasil membaca buku. Di antaranya daur ulang sampah, membuat telur asin, dan lain-lain. Bukan hanya itu, dia menginginkan adanya sistem pemrograman otomatisasi dalam meminjam dan pengembalian buku. “Kami juga ingin melengkapi koleksi dan mengganti buku-buku yang rusak. Buku yang rusak ini sebagian karena buku lama,” tuturnya.

Keinginan lain yang berupaya diwujudkan, yakni dengan melibatkan wali murid maupun warga sekitar agar mau memanfaatkan buku bacaan di perpustakaan. Dyah mengungkapkan, SDN Airlangga I telah menyediakan sudut baca di dekat gerbang pintu masuk sekolah. Tujuannya supaya wali murid yang menunggu anaknya pulang sekolah bisa menunggu sambil membaca. “Dulu sudah pernah jalan, tapi tidak bertahan lama karena sudut baca disalahgunakan para wali murid sebagai tempat berdagang. Akhirnya kepala sekolah meniadakan itu. Tapi kami ingin dihidupkan kembali,” pungkasnya. (*)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>