Panitia Temukan Indikasi Perjokian SBMPTN

Jumat, 04 Mei 2018  16:35

Panitia Temukan Indikasi Perjokian SBMPTN

Penanggung Jawab Panlok 50 Surabaya Prof Mohammad Nasih.

SURABAYA (BM) – Panitia Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) menemukan adanya indikasi praktik perjokian. Indikasi perjokian yang bisa diidentifikasi sejak awal pendaftaran adalah satu orang mendaftar sampai 10 kali dengan pilihan yang sama. Indikasi lain, menggunakan foto yang tidak memenuhi persyaratan saat proses pendaftaran.

Penanggung Jawab Panitia Lokal (Panlok) 50 Surabaya Prof Mohammad Nasih mengatakan, secara nasional panitia sudah mengidentifikasi lokasi mana yang potensial untuk terjadinya perjokian. Proses identifikasi dilakukan sejak awal pendaftaran. “Tapi ada kecenderungan satu nama itu daftar sampai 10 kali. Fotonya kurang lebih sama, pilihannya kurang lebih sama,” katanya saat ditemui, Jumat (4/5).

Temuan tersebut, lanjut dia, mengindikasikan pendaftar itu mencari tempat atau lokasi yang tepat untuk bisa bersanding dengan peserta SBMPTN lain. Temuan seperti ini sudah diidentifikasi sejak awal, sehingga saat pelaksanaan ujian SBMPTN pada Selasa (8/5) mendatang dipastikan lebih terjaga.

Bukan hanya itu, indikasi lain akan adanya praktik perjokian adalah pemasangan foto pendaftar yang kurang sesuai dengan format. Nasih menjelaskan, foto-foto yang ditengarai tidak memenuhi persyaratan seperti wajahnya tidak jelas, yang bersangkutan langsung dipanggil oleh panitia. Pemanggilan ini untuk meminta pendaftar mengganti foto tersebut.

“Kalau yang bersangkutan baik-baik mau mengganti fotonya, ya tidak masalah. Itu hanya soal iseng dan lain-lain. Tapi kalau kemudian diingatkan tidak mau mengganti, berarti ada indikasi,” ujar pria yang juga Rektor Universitas Airlangga (Unair) ini.

Nasih menjelaskan, selain proses identifikasi sejak awal, panitia juga mengantisipasi praktik kecurangan ketika ujian berlangsung. Caranya dengan memasang pengacak sinyal di ruang ujian. Pengacak sinyal ini untuk ruang Ujian Tulis Berbasis Cetak (UTBC), sementara Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) tidak. Sebab, pelaksanaan UTBK bersifat lokal dan bisa diatur lebih baik, berbeda dengan UTBC.

“Kalau berbasis cetak, soal nomor 1, 2, 3, hampir semuanya sama. Kalau komputer nomor 1 apa, nomor 2 apa, tidak ada yang sama. Sebenarnya UTBK itu yang lebih aman. Karena urutan masing-masing soal yang muncul bisa berbeda,” tuturnya. Dia mencontohkan, waktu peserta UTBK mengklik di waktu bersamaan, di layar komputer masing-masing peserta yang keluar nomornya acak. Apalagi, di layar hanya muncul satu soal.

Sebelum masuk ruang ujian pun, lanjut Nasih, peserta diminta meletakan barang elektronik seperti HP ke depan. Selain itu juga dilakukan penggeledahan terhadap barang-barang yang dicurigai. “Yang pasti, soal ujian SBMPTN ini bukan soal hafalan. Proses menjawabnya memerlukan analisis tertentu serta memerlukan logika tertentu. Tidak mudah untuk menjawabnya,” tandasnya. (sdp)
OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>