Survei LSI Demokrat Jatim Jeblok, Pakde Karwo Tetap Optimis

Senin, 05 November 2018  17:22

Survei LSI Demokrat Jatim Jeblok, Pakde Karwo Tetap Optimis

H. Soekarwo

SURABAYA (BM) - Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Demokrat Jawa Timur, H. Soekarwo tetap optimis Partai Demokrat Jatim bakal memperoleh suara signifikan, dan menjadi 3 besar, di Pemilu Legislatif 2019 mendatang.

Pak De Karwo, demikian panggilan akrab H. Soekarwo, mengaku tak risau terkait hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) terbaru,  yang menempatkan Demokrat di peringkat kelima dari sepuluh partai politik dengan memperoleh 3,6 persen.

Partai berlambang segitiga mercy ini berada di bawah empat partai lain. Di antaranya, PKB yang masih berada di urutan pertama dengan 21,7 persen. Dimana, PKB unggul tipis dari PDI-Perjuangan dengan 21,0 persen.

Kemudian, berturut-turut ada Partai Golkar (5,2 persen) dan Partai Gerindra (4,6 persen) di urutan ketiga dan keempat.

Pakde Karwo (sapaan Soekarwo) menanggapi santai hasil survei tersebut.

Menurutnya, perilaku masyarakat khususnya Jawa Timur di dalam pemilu selalu berbeda-beda. Ada daerah yang lebih memilih partai politiknya. Namun, ada daerah yang juga lebih memilih figur Calon Legislatif (caleg).

"Karakteristik masyarakat di Jawa Timur tidak bisa disamakan," kata Pakde Karwo di Surabaya, Senin (5/11/2018).

Ia mencontohkan dapil 7 (Kabupaten Ngawi, Kabupaten Magetan, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Pacitan, dan Kabupaten Trenggalek) di pemilu 2014 lalu yang mana 37-45 persen lebih memilih mencoblos partai.

Berbeda halnya dengan dapil Jatim 11 (Madura), yang justru lebih banyak memilih figur dibanding partai politik (lebih dari 90 persen).

"Di sana, lebih mementingkan figur. Sehingga, kalau calegnya nggak gerak, nggak dicoblos," kata pria yang juga Gubernur Jatim ini.

Oleh karenanya, pihaknya memilih untuk lebih mengoptimalkan konsolidasi di internal partai. Di antaranya, juga dengan memaksimalkan sosialisasi caleg. Mulai dari menebar alat peraga kampanye, hingga bertemu secara langsung dengan para konstituen.

"Kami juga menginstruksikan untuk sosialisasi. Kalau belum ada fotonya (dalam alat peraga kampanye), saya tanyakan ke calegnya," kata Pakde Karwo.

Selain itu, pihaknya juga optmistis bahwa caleg yang diusung juga mudah dalam melakukan sosialisasi. Apalagi, Demokrat pada pilkada mendatang juga diperkuat oleh beberapa figur dari luar partai, di antaranya figur berlatarbelakang birokrat.

"Sehingga, kami juga telah mengantisipasi dengan adanya kader transfer. Mereka kami percaya memiliki basis pemilih yang tidak sedikit," tandasnya.

Untuk diketahui, pada pemilu 2014 silam, Partai Demokrat memperoleh 2.340.170 suara (12,50 persen). Dengan perolehan tersebut, Demokrat memperoleh 13 kursi di DPRD Jatim dan menempatkan partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono ini di peringkat 4 dari 10 partai yang lolos parlemen DPRD Jatim.

"Kami optimis di tahun ini ada peningkatan suara bahkan kami menargetkan bisa masuk 3 besar. Sehingga belum tentu kalau disurvei itu kecil, kemudian pada pemilu nanti juga kecil, begitupun sebaliknya," pungkas Pakde Karwo yang juga Gubernur Jatim dua periode ini.

 

Tanggapan Gerindra

Partai Gerindra hormati hasil survei LSI Denny JA terkait peta pertarungan partai politik di Jawa Timur. Hasilnya, Gerindra berada di urutan nomor 4.

"Kalau kita potret secara riil di masyarakat,  jelas bahwa partai kita (Gerindra) ini ada di partai urutan pertama atau minimal ke dua,” jelas Sekretaris DPD Partai Gerindra Jatim Anwar Sadad, Minggu (4/11).

Diketahui, LSI Denny JA  baru saja mengeluarkan hasil survei mengulas soal peta pertarungan partai politik di Jawa Timur. Survei dilakukan 4-14 Oktober 2018 dengan 600 responden. Hasilnya, jika pemilihan dilakukan hari ini Parpol dengan perolehan terbanyak adalah PKB 21,7 persen, PDI-P 21 persen, Golkar 5,2 persen, Gerindra 4,6 persen, Demokrat 3,6 persen.

Menurut Sadad, hasil survei itu belum mewakili seluruh masyarakat di kampung-kampung dan di desa-desa. "Jadi kita nggak bisa meminta penjelasan mereka itu menggunakan teknik apa. Kita tidak ada masalah, biar saja, kita tidak terganggu dengan survei itu,” tambah Sadad.

Dijelaskan Sadad, Partai Gerindra punya mekanisme sendiri di internal untuk mengukur elektabilitas partai berikut multi efek dari pilpres. Di mana capres dari Partai Gerindra adalah juga ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto.

"Belum lagi kerja-kerja dari caleg yang mayoritas adalah tokoh-tokoh berpengaruh di daerahnya masing-masing. Oleh sebab itu, Kita masih optimis di nomer urut dua,” tandasnya.

"Lumbung-lumbung suara Gerindra di daerah-daerah juga cukup banyak dan hampir merata. Lumbung pemilih Prabowo adalah lumbung Gerindra juga. Secara teori begitu,” ujarnya.

Misalnya di Madura, itu lumbung suara Prabowo sejak pemilu 2014. Di Bangkalan Prabowo dan Gerindra sangat dicintai dan di Sampang Partai Gerindra pemenang kedua selisih sedikit dari PKB tapi sama-sama 8 kursi.

"Itu menandakan, kontes politik 2014 (pileg dan Pilpres), suara Pak Prabowo yang tidak sesanter sekarang saja, sudah memberi efek politik cukup besar bagi Gerindra. Apalagi sekarang, ketika masyarakat Jawa Timur semakin menunjukkan pilihannya untuk Pak Prabowo di Pilpres nanti,” papar Sadad.

Sekarang ini. tambah Sadad, justru terjadi lonjakan yang cukup signifikan suara Prabowo dan Gerindra.

"Sekarang ini kita sebagai kader, setiap hari merasakan respon denyut masyarakat kehadiran pak prabowo di berbagai tempat. Saya optimis nanti di pemilu 2019 Gerindra mendapat suara sangat besar,” demikian Sadad. (tri/rmo/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>