Eggi Ditangkap, Sidang Praperadilan Digelar 29 Mei

Selasa, 14 Mei 2019  18:38

Eggi Ditangkap, Sidang Praperadilan Digelar 29 Mei

Jakarta (BM) - Eggi Sudjana menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya sejak Senin (13/5) sore, dan langsung dilakukan penangkapan saat pemeriksaan masih berjalan pada keesokan harinya, Selasa (14/5).

Di tengah pemeriksaan Eggi sebagai tersangka makar, tersiar kabar sidang praperadilan atas kasus tersebut bakal digelar pada 29 Mei mendatang di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan.

Seperi diketahui, Eggi mengajukan praperadilan terhadap status tersangkanya dalam kasus dugaan makar dan ujaran kebencian.

"Penetapan hari  sidang pertama, tanggal sidang 29 Mei 2019," kata pejabat humas PN Jaksel Achmad Guntur, Selasa (14/5/2019).

Persidangan akan dipimpin hakim tunggal Ratmoho. Berdasarkan catatan detikcom, Ratmoho pernah memimpin sidang perkara lainnya, seperti Ahmad Dhani dalam kasus ujaran kebencian serta praperadilan penyitaan yacht milik Equanimity (Cayman) Ltd Islands melawan Bareskrim Polri.

Sebelumnya, Eggi melalui pengacaranya mengajukan praperadilan atas penetapan tersangka dalam kasus dugaan makar dan ujaran kebencian. Pengacara Eggi, Pitra Romadoni, mengatakan kliennya tak pernah melakukan makar dan ujaran kebencian. Dia mengatakan Eggi hanya menyuarakan aspirasi masyarakat.

"Perlu kami luruskan di sini bahwasanya klien kami tidak pernah melakukan makar, tidak pernah melakukan ujaran kebencian, apalagi berita bohong. Apa yang disampaikan itu adalah suara daripada masyarakat atau klien dia atau Advokasi BPN Prabowo-Sandi. Itu dibuktikan dengan SK BPN sebagai advokasi yang ditandatangani oleh Djoko Santoso bahwasanya Eggi Sudjana ini seorang advokat," kata Pitra, di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Jaksel, Jumat (10/5).

Dia melanjutkan pernyataan people power yang diucapkan Eggi ialah unjuk rasa bermaksud memprotes dugaan kecurangan yang ada di KPU dan Bawaslu. Pitra mengatakan kliennya tak berniat menggulingkan pemerintahan yang sah. Praperadilan yang diajukan ini menyoroti penetapan tersangka dan pasal yang disangkakan untuk Eggi. Ada 25 poin yang disampaikan dalam pengajuan gugatan kali ini.

"Secara garis besarnya ini satu aja saya sebutkan ya yang pertama terhadap Pasal 160 tadi tiba-tiba di panggilan polisi berubah pasalnya dan langsung SPDP tidak adanya interview arau wawancara terhadap kami, langsung SPDP dan ditetapkan sebagai tersangka itu bagaimana? Makanya saya menganggap ini conditional of power, kekuatan yang sangat dikondisikan," tutur Pitra.

Eggi ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan makar dan keonaran. Kasus ini bermula dari pidato Eggi pada Rabu (17/4/2019) di depan kediaman capres 02 Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara 4, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Dalam pidatonya, Eggi menyerukan ajakan 'people power' di hadapan pendukung kubu Prabowo-Sandi.

Akibat perbuatannya ini, Eggi disangkakan dengan Pasal 107 KUHP dan/atau Pasal 110 KUHP juncto Pasal 87 KUHP dan/atau Pasal 14 ayat 1 dan ayat 2 dan/atau Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946.

 

Alasan Penangkapan

Pengacara memprotes penangkapan Eggi Sudjana dalam kasus dugaan makar. Polda Metro Jaya menegaskan penangkapan Eggi sudah sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku.

"Aturan toh," ucap Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono saat dihubungi detikcom, Selasa (14/5/2019).

Hingga Selasa (14/5), Eggi masih diperiksa secara intensif di Polda metro Jaya. Polisi akan memutuskan Eggi ditahan atau tidak setelah 1 x 24 jam seusai penangkapan tersebut. "Penyidik mempunyai waktu 24 jam untuk menentukan apakah tersangka ditahan atau tidak," ucapnya.

Eggi ditangkap berdasarkan Surat Perintah Penangkapan Nomor: SP.Kap/1012/V/2019/Ditreskrimum tertanggal 14 Mei 2019. Argo mengatakan surat pemberitahuan penangkapan itu dibacakan saat Eggi diperiksa.

Eggi disebutkan menandatangani surat perintah penangkapan tersebut. "Berita acara penangkapan ditandatangani pada hari Selasa tanggal 14 Mei 2019 pukul 06.25 WIB," ucapnya.

Pitra Romadoni menilai penangkapan kliennya itu sebagai sebuah kejanggalan. "Terhadap penangkapan Eggi Sudjana sangat aneh. Saat ini beliau belum diperbolehkan pulang sejak dibacakan (diberi) surat penangkapannya oleh petugas kepolisian," kata Pitra kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (14/5).

Padahal, menurutnya, Eggi masih diperiksa di ruangan penyidik. Eggi juga disebutnya tidak akan melarikan diri sehingga tidak perlu ditangkap.

"Terhadap hal ini, sangat janggal dan aneh sekali karena masa penangkapan di ruangan penyidik. Kalau yang namanya penangkapan kan biasanya di luar daripada ruang penyidik. Ini nggak ada yang mau lari, dia kooperatif, dia tidak pernah menghindar dari pernyataan-pernyataan penyidik," ungkap Pitra.

 

Tak Kooperatif

Eggi Sudjana tidak kooperatif saat diperiksa sebagai tersangka kasus makar. Selain sempat menolak pemeriksaan, Eggi menolak memberikan ponsel ketika hendak disita penyidik Subdit Kamneg Ditreskrimum Polda Metro Jaya.

"Ya seperti tadi, dia mau diperiksa tapi menolak atau dia nanti keluar. Kita kemudian mau sita HP-nya tidak dikasihkan, ya untuk barang bukti ya," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (14/5/2019).

Argo juga menyebut Eggi menolak diperiksa sebagai tersangka. Namun Eggi akhirnya bersedia diperiksa selepas buka puasa.

"Setelah buka puasa atau magrib, yang bersangkutan datang kembali untuk diperiksa. Penyidik dengan senang hati menerima beliau dalam pemeriksaan sebagai tersangka," katanya.

Karena beberapa alasan itu, penyidik akhirnya menangkap Eggi setelah pemeriksaan sebagai tersangka. Argo menyebut penangkapan itu merupakan subjektivitas penyidik.

"Setelah selesai diperiksa. Dengan pertimbangan subjektivitas penyidik," katanya. (det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>