Hadiri Sidang Perdana, Ahmad Dhani Yakin Tak Salah

Senin, 16 April 2018  18:07

Hadiri Sidang Perdana, Ahmad Dhani Yakin Tak Salah

Ahmad Dhani menghadiri sidang perdana di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Senin, 16 April 2018.

Jakarta (BM) - Musisi Ahmad Dhani hadir di sidang perdana di di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Senin (16/4).  Dhani tampak mengenakan kaus #2019GantiPresiden.

Dhani tiba di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Jakarta Selatan, sekitar pukul 15.00 WIB, Senin (16/4/2018). Dhani datang didampingi Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) dan anaknya, Abdul Qodir Jaelani.

Dhani sempat bicara soal kabar yang menyebutnya kabur. Dhani menegaskan kabar itu tidak benar.

"Kalau ada berita bahwa Ahmad Dhani kabur dikejar Interpol, itu berita dari antek-antek PKI. Itu adalah berita hoax dari antek PKI," ujar Dhani saat baru tiba.

Dhani mengaku tidak ada persiapan khusus menjelang sidang perdana yang beragendakan pembacaan dakwaan ini. "Persiapan nggak ada, orang ini enteng-enteng aja," ujarnya.

Dhani menegaskan dirinya tidak bersalah terkait postingan di akun Twitter miliknya yang dikelola admin. Dhani mengatakan kebenaran harus disuarakan meski ada ancaman.

"Ya saya yakin nggak salah. Sekali lagi saya mengajarkan sebuah pelajaran penting untuk Al, El, Dul bahwa menyatakan pendapat kebenaran itu nggak usah takut meskipun ujung tombak ada di leher kita," kata Ahmad Dhani usai menjalani sidang dakwaan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Jaksel, Senin (16/4/2018).

Dhani menyerahkan seluruh proses hukum ke pengadilan. Dia mengaku akan menerima seluruh keputusan yang diambil nantinya. "Saya lepaskan kepada semua pihak berwajib, saya lepaskan kepada kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan. Saya lepaskan seluruhnya, saya terima apa pun yang diputuskan nanti," sambungnya.

Karena merasa tidak bersalah, Ahmad Dhani mengaku tenang menjalani proses persidangan." Santai aja sih, kalau salah mungkin takut, kalau saya nggak salah jadi santai aja," ujarnya.

Ahmad Dhani didakwa melakukan ujaran kebencian lewat akun Twitter. Cuitan Dhani menurut jaksa bisa menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan.

"Terdakwa Dhani Ahmad Prasetyo alias Ahmad Dhani bersama-sama dengan Suryopratomo Bimo alias Bimo pada Februari 2017-Maret 2017, yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan yang turut serta melakukan perbuatan dengan sengaja tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan SARA," kata jaksa membacakan surat dakwaan.

Ada tiga cuitan yang diunggah di akun Twitter Ahmad Dhani, @AHMADDHANIPRAST. Cuitan ini diunggah admin Twitter Ahmad Dhani, Bimo.

Pertama, Ahmad Dhani menurut jaksa mengirimkan tulisan lewat WhatsApp pada 7 Februari 2017 ke Bimo. Tulisan tersebut diposting Bimo di Twitter Ahmad Dhani

"Saksi Bimo menyalin persis seperti apa yang dikirim terdakwa dan mengunggah ke akun twitter terdakwa @AHMADDHANIPRAST yang menuliskan:Yang menistakan agama si Ahok...yang diadili KH. Ma'ruf Amin..," sebut jaksa.

Kedua, pada 8 Maret 2017, Ahmad Dhani mengirimkan tulisan melalui WA kepada Bimo yang diunggah Bimo di akun @AHMADDHANIPRAST.

"Kemudian Bimo mengunggah kalimat siapa saja dukung penista agama adalah bajingan yang perlu diludahi mukanya-ADP," sebut jaksa.

Cuitan ketiga yakni unggahan kalimat yang dikirimkan Ahmad Dhani ke Bimo.

"Saksi Bimo mengunggah kalimat sila pertama KETUHANAN YME, PENISTA Agama jadi Gubernur...kalian WARAS??? - ADP," sambung jaksa.

Postingan Ahmad Dhani melalui admin di akun twitter miliknya ditegaskan jaksa dapat menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan individu dan atau kelompok atau masyarakat tertentu berdasarkan SARA.

"Karena postingan tersebut disebarkan yang bisa dibaca orang-orang dan mendapat tanggapan tidak baik dari orang-orang yang membaca akun Twitter terdakwa," ujar jaksa.

Ahmad Dhani dilaporkan oleh Jack Boyd ke Polres Jaksel atas dugaan hate speech lewat cuitan sarkastis. Penetapan status tersangka ini dilakukan setelah penyidik melakukan gelar perkara pada 23 November 2017.

Ahmad Dhani dikenai Pasal 45 A ayat 2 juncto Pasal 28 ayat 2 UU RI No 19 Tahun 2016 tentang Perubahan UU No 11 Th 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

 

Tak Ditahan

Ketua majelis hakim Ratmoho menyatakan terdakwa ujaran kebencian Ahmad Dhani tidak ditahan selama persidangan. Ratmoho pun meminta Dhani selalu menghadiri sidang.

"Karena tidak ditahan di penyidik maupun di penuntut umum tidak menahan, maka pengadilan tidak akan melakukan penahanan. Tetapi dengan catatan, diharapkan setiap sidang datang," kata Ratmoho mengawali persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Senin (16/4/2018).

Ratmoho menyatakan, jika berhalangan hadir, Dhani wajib memberi tahu pengadilan. Ia juga meminta Dhani memberi tahu jaksa jika tak bisa hadir.

"Tetapi manusiawilah kalau seandainya berhalangan hadir. Tapi beri tahu ke Pak Jaksa atau ke panitera, atau pengacaranya banyak bisa lapor," ujar Ratmoho.

 

 

Ditemani Dul

Anak ketiga terdakwa kasus ujaran kebencian Ahmad Dhani, Abdul Qodir Jaelani, mendampingi ayahnya menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan. Dul, panggilan akrabnya, hadir dalam persidangan untuk memberi dukungan kepada sang ayah.

"Ya kalau aku sih datang ke sini nggak ikut mau campuri urusan dalamnya, aku hanya tulus men-support ayah saya sebagai keluarga saya," kata Dul kepada wartawan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Senin (16/4/2018).

Dul mengingat saat-saat ayahnya mendampingi dirinya saat menjalani sidang kecelakaan maut di Tol Jagorawi. Kala itu Dul resmi ditetapkan sebagai tersangka, yang mengakibatkan tewasnya 6 orang dan 9 lainnya luka-luka.

"Waktu dulu saya di sidang pengadilan, ayah saya selalu datang dan itu rasanya menghangatkan hati saya bila ada keluarga yang datang saat pengadilan. Jadi kebaikan semudah apa lagi yang bisa saya lakukan," ucap Dul.

Dia mengaku akan terus mendampingi Ahmad Dhani hingga proses persidangan selesai. "Insyallah saya datang terus," tuturnya. (det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>