Jalankan Order ‘Tuyul’, Tiga Mahasiswa Amankan

Rabu, 07 Februari 2018  18:19

Jalankan Order ‘Tuyul’, Tiga Mahasiswa Amankan

Surabaya (BM) – Taksi online dengan order fiktif alias order 'tuyul' merambah kota Surabaya. Tiga pelakunya telah tertangkap, yang masih berstatus mahasiswa.

Tersangka adalah Liem Chandra (37), warga Mangga Besar VIII Tangki Jakarta Barat, Liem Andrew Agata (32), warga Jalan Sutorejo Prima Utara 1 Surabaya, dan Mauriciano Victorius Limanjaya (35), warga Jalan Wijaya Kusuma, Genteng, Surabaya. Mereka bertiga adalah driver taksi online.

Otak dari aksi kejahatan online ini adalah Liem. Liem membeli tiga akun driver dan empat akun penumpang. Berawal dari situ kejahatan Liem dimulai. Setiap harinya, Liem mulai mengoperasikan akun khusus penumpang yang sudah didaftarkan di aplikasi untuk melakukan order fiktifnya tersebut hingga dibisa diterima di akun driver miliknya.

"Order terus hingga bisa sampai diterima di akun driver yang saya pegang sendiri," kata Liem saat kepada wartawan saat di Mapolrestabes Surabaya, Jalan Sikatan, Rabu (7/2/2018).

Liem mengaku hanya mengejar point dari aplikasi sebagai bonus yang bisa dicairkan melalui ATM miliknya yang sudah didaftarkan di ojek online yang diikutinya.

"Minimal harus empat kali trip baru bisa dapat point, perhari hanya tiga kali melakukan order fiktif dengan mendapatkan Rp 150 ribu," ujar Liem.

Berhasil dengan aksinya. Liem mencoba mengembangkan jaringannya dengan merekrut Andrew dan Mauriciano. Tugas mereka adalah sebagai patner untuk menjalankan order fiktif di aplikasi ojek online. Mereka berdua direkrut Liem pada Januari 2018.

Dengan merekrut dua orang anggota baru, Liem berhasil membeli 36 akun baru. Namun hanya 12 akun yang bisa mereka jalani dalam sehari. Jadilah mereka menjalankan kejahatannya. Mereka seakan-akan mengantarkan pelanggan, padahal tidak.

"Sehari kami lakukan tiga kali yakni pagi, siang, sore. Karena keterbatasan tenaga kami hanya jalankan 12 akun saja," tutur Liem.

Dari 12 akun yang berhasil dijalankan oleh komplotan order ojek fiktif tersebut. Mereka bisa meraup jutaan rupiah per harinya.

"Kami bisa mendapatkan Rp 3,6 juta perharinya dari menjalankan order fiktif tersebut, dalam satu bulan bisa ratusan " ungkapnya.

Kasubbag Humas Polrestabes Surabaya Kompol Lily Djafar mengatakan, terbongkarnya aksi pelaku ini berawal dari laporan karyawan transportasi online yang diikuti para tersangka.

"Awalnya saat dilacak dan dilakukan order pada akun fiktif tersebut selalu direject terus dan tidak bisa dihubungi, kemudian kami melakukan pengembangan dan berhasil mengamankan ketiga mahasiswa tersebut," ujarnya.

Dari tangan pelaku berhasil diamankan ratusan handphone, dua buku tabungan dan modem sebagai alat pendukung sinyal.

Dari aksi kejahatan tiga pelaku order ojek online fiktif ini. Mereka dijerat dengan pasal 51 Juncto pasal 36 UU RI No.9 tahun 2009 tentang perubahan atas UU No 11 tahun 2008 tentang ITE atau pasal 378 KUHP. (det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>