Kasus PLTU-Riau, KPK Proses Pengajuan JC Eni Saragih

Rabu, 12 September 2018  19:15

Kasus PLTU-Riau, KPK Proses Pengajuan JC Eni Saragih

Febri Diansyah

Jakarta (BM) - Tersangka dugaan suap PLTU Riau-1, Eni Maulani Saragih mengajukan diri sebagai justice collaborator (JC). Permintaan Eni Saragih sedang diproses KPK. "Tersangka EMS ini sudah mengajukan diri sebagai justice collabolator, jadi berkas sudah disampaikan ke KPK," kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (12/9/2018).

Febri mengatakan Eni harus membuka informasi seluas-luasnya karena sudah mengajukan JC. Tersangka lainnya ditegaskan Febri juga berhak mengajukan JC.

"Kami juga mengimbau agar pihak yang mengajukan JC bisa memberi keterangan yang seluas-luasnya," ucap Febri.

Dalam kasus dugaan suap PLTU Riau-1, ada tiga orang tersangka yang telah ditetapkan KPK sebagai tersangka, yakni Eni Maulani Saragih, pengusaha Johannes B Kotjo, dan mantan Menteri Sosial Idrus Marham.

Eni diduga menerima duit suap Rp 4,8 miliar dari Kotjo selaku pemegang saham Blackgold Natural Resources Ltd. Perusahaan tersebut merupakan salah satu bagian dari konsorsium proyek PLTU Riau-1.

Saat melakukan pengembangan, KPK menetapkan Idrus sebagai tersangka. Dia diduga menerima janji yang sama dengan Eni, yaitu senilai USD 1,5 juta dari Kotjo, jika perusahaannya berhasil memenangi proyek PLTU Riau-1.

Lebih lanjut, Febri meminta kepada siapa pun yang merasa mendapatkan ancaman atau intimidasi terkait kasus suap PLTU Riau-1 untuk melaporkannya. Pelaporan soal intimidasi bisa disampaikan ke KPK atau Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

"Para saksi sebenarnya punya kewajiban bicara jujur dan kalau memang ada upaya-upaya pihak lain untuk mempengaruhi atau mengintimidasi atau apa pun, kalau memang ada, para saksi sebenarnya bisa meminta perlindungan. Bisa minta kepada KPK. Sampaikan pada penyidik misalnya atau meminta perlindungan kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban kalau memang ada intimidasi," kata Febri Diansyah.

Para saksi yang telah diperiksa KPK terkait perkara itu berasal dari berbagai macam latar belakang. Sebagian besar di antaranya terkait proyek yang berasal dari PLN, PJB, dan sebagainya.

Beberapa waktu lalu, salah seorang tersangka perkara itu, Eni Maulani Saragih, mengaku sudah melapor ke penyidik lantaran merasa tidak nyaman ketika didatangi Setya Novanto. Febri mengatakan apa yang terjadi sudah diketahui penyidik, tanpa menjelaskan lebih detail.

"Proses pemeriksaan dan keterangan sudah disampaikan EMS (Eni Maulani Saragih). Dan penyidik sudah tahu dari CCTV atau informasi lain yang kami dapatkan. Apa yang akan dilakukan ke depan kami belum bisa sampaikan saat ini karena KPK masih berfokus pada penyidikan ini," ucapnya.

 

Dirut PT Smelting

Sementara itu, Direktur Utama PT Smelting Indonesia Prihadi Santoso menjalani pemeriksaan oleh penyidik KPK sekitar pukul 15.26 WIB, Rabu (12/09/2018). Prihadi mengaku dicecar soal keterkaitan dirinya dan perusahaannya dalam kasus suap kontrak kerja sama PLTU Riau-1. Namun ia membantah kalau dirinya terlibat

"Enggak ada. [Tadi] Digali ada enggak keterkaitan dengan [PLTU] Riau-1. Tapi enggak ada [keterkaitan]," katanya selepas pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta Selatan (12/09/2018).

Selain itu Prihadi pun mengklaim tidak mengenal para tersangka secara khusus. Prihadi mengaku dirinya hanya mengenal salah satu tersangka yakni Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Eni Maulani Saragih. Ia mengenal politisi Golkar tersebut saat pembahasan Undang-Undang Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

"Ya kan beliau komisi VII ya. Kami kan terkait dengan hilirasi UU 4 tahun 2009. Perusahaan saya tambang kan. Pengelohan," katanya.

Prihadi sendiri hadir dalam kapasitasnya sebagai saksi untuk tersangka Idrus Marham. Selain memeriksa Prihadi, hari ini KPK pun mengagendakan pemeriksaan terhadap Direktur Bisnis Regional Maluku dan Papua PT PLN (Persero) Ahmad Rofiq.

"Yang pertama [Prihadi Santoso] diperiksa sebagai saksi untuk tersangka IM [Idrus Marham], sementara yang kedua [Ahmad Rofiq] diperiksa untuk tersangka ES [Eni Maulani Saragih]," kata Kepala Biro Humas KPK Febri Diansyah lewat keterangan tertulisnya (12/09/2018).

KPK sudah menetapkan tersangka pada 3 orang dalam kasus ini. Mereka adalah Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Eni Maulani Saragih, Pemegang Saham PT Blackgold Natural Resources Johannes B Kotjo, dan Sekretaris Jenderal Partai Golkar sekaligus mantan Menteri Sosial Idrus Marham.

Johannes diduga telah memberikan uang kepada Eni Saragih dan memberikan janji kepada Idrus Marham guna memuluskan PT Blackgold menjadi bagian dari konsorsium proyek pengerjaan PLTU Riau1. (det/tir/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>