Komnas HAM: Aktor Intelektual Teror Novel Bisa Terungkap

Selasa, 09 Juli 2019  19:44

Komnas HAM: Aktor Intelektual Teror Novel Bisa Terungkap

Novel Baswedan

Jakarta (BM) - Komnas HAM menyebut tim gabungan bentukan Polri untuk mengusut teror terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan, menemukan perkembangan signifikan. Komnas HAM dan tim gabungan punya kecocokan soal sosok yang diduga berkaitan dengan peristiwa serangan terhadap Novel.

Komnas HAM mengatakan aktor intelektual penyerangan Novel bisa terungkap. Hal itu tergantung pada komitmen Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

"Kami dikasih tahu ada perkembangan signifikan dalam konteks pengungkapan siapa-siapa pelaku-pelaku yang melakukan kejahatan di Novel. Itu sekitar 2-3 bulan yang lalu. Di perkembangan ini yang kami lihat adalah ada beberapa orang yang di lapangan yang juga ditemukan oleh Komnas HAM yang kami nyatakan itu sebagai orang asing menemukan jejak yang terang sampai level di atasnya," kata komisioner Komnas HAM bidang Pengkajian dan Penelitian, Choirul Anam, di kantornya, Jl Latuharhary, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (9/7/2019).

Choirul mengatakan Komnas HAM sempat memberikan informasi kepada tim gabungan. Setelah itu, tim gabungan berjanji kepada Komnas HAM untuk menindaklanjuti informasi tersebut.

Choirul mengatakan karena Komnas HAM tidak punya wewenang, perkembangan pencarian fakta akan disampaikan langsung tim gabungan. Hanya saja, Choirul memberikan sedikit kisi soal informasi yang disampaikan Komnas HAM kepada tim gabungan.

Dia mengatakan kasus teror kepada Novel ini bisa terungkap hingga ke aktor intelektual. Komnas HAM mendapati sosok orang asing yang ada di sekitar lokasi rumah Novel yang diduga terkait dengan peristiwa penyerangan dengan air keras.

"Sekitar 2-3 bulan lalu kami dapatkan info bahwa sudah ada sesuatu yang berjejak dan signifikan. Tinggal apakah Kapolri mem-follow up itu dengan sangat kuat dan mendalam. Kalau bagi Komnas HAM yang paling penting adalah segera ditemukan siapa aktor di balik penyiraman Novel karena temuan Komnas HAM sendiri itu sesuatu yang memungkinkan sampai level intelektualnya," tuturnya.

"Karena gampang kok, keberadaan orang asing itu aneh dalam skema sekian hari di TKP. Dan orang-orang ini dengan keberadaan yang tidak semestinya di situ, itu memberikan jejak yang penting, yang kedua naik lagi CCTV, ketiga naik lagi penggunaan-penggunaan alat yang mereka gunakan. Itu memungkinkan sampai naik ke atas (aktor intelektual, red)," imbuh dia.

Tim gabungan pencari fakta (TGPF) kasus Novel telah bekerja sekitar enam bulan. Anggota TGPF, Hendardi, mengatakan progres kerja mereka sudah hampir rampung. Tim ini sempat pergi ke luar Jakarta. Tim bersama polisi juga sempat meminta keterangan Novel terkait penyerangan ini.

Hendardi mengatakan dalam waktu dekat tim akan membuat laporan ke Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

"Sampai saat ini sudah 95%, sebetulnya tinggal di-finishing. Sore ini akan ada rapat pleno dengan tim pencari fakta untuk membahas finishing itu, nanti baru pukul 18.30 WIB mulainya. Terakhir yang saya dengar akan hadir Ibu Poengky Indarti (Komisioner Kompolnas), Ifdhal Kasim (mantan Komisioner Komnas HAM), Nurcholis (mantan Komisioner Komnas HAM), Prof Idriyanto Seno Adji (mantan Wakil Ketua KPK) juga akan hadir," jelas Hendardi, Senin (8/7).

 

Bentuk TGPF

Amnesty International Indonesia membahas sejumlah agenda dalam pertemuan dengan Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Edy Pramono, salah satunya soal teror terhadap Novel tersebut.

"Namun kami dalam posisi tetap mendesak kasus Novel tidak dihentikan dan dilanjutkan pengusutannya sampai pelakunya ditemukan, termasuk aktor intelektual ditemukan juga. Tadi dibicarakan di akhir pertemuan dan kami sampaikan secara resmi dalam 9 agenda HAM, itu bagian dari agenda yang pertama," jelas Usman Hamid kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (9/7/2019).

Usman menilai perlu dibentuknya tim gabungan pencari fakta (TGPF), yang tidak hanya melibatkan polisi tetapi juga tokoh-tokoh yang berintegritas. Contohnya dalam TGPF di kasus Munir.

"Saya kira referensi yang bisa dirujuk adalah tim pencari fakta kasus Munir dalam masa pemerintahan Pak SBY atau tim gabungan pencari fakta dalam kasus kerusuhan Mei zaman Habibie. Saya kira dua itu bisa dijadikan rujukan untuk disuarakan masyarakat sipil," tutur Usman.

Di sisi lain Polri tetap berkewajiban mengusut tuntas perkara tersebut. Polisi didesak untuk segera menangkap eksekutor hingga aktor intelektual.

"Pada akhirnya orang yang harus ditangkap, bukti yang harus disita digeledah, itu tugas dan wewenang Polri," tuturnya.

Tim gabungan itu sendiri berfungsi untuk mengawasi kinerja Polri dalam pengusutan perkara.

"Tim gabungan itu dipantau penuh oleh tim aktivis kalangan sipil, karena dalam pengalamannya seringkali tanpa pengawasan secara dekat dari kalangan masyarakat sipil, proses pengusutan kasus-kasus yang semacam ini berakhir tanpa kejelasan," sambungnya.

Soal tim gabungan bentukan Kapolri, Usman menilai perlu adanya pembaruan.

"Ya mestinya ada (pembaruan tim) karena itu merujuk pada laporan Komnas HAM yang ketika itu menyimpulkan ada penyalahgunaan proses di dalam proses hukum kepolisian. Nah siapa yang menggunakan itu secara salah, menyalahgunakan proses dan apakah orang-orang yang menyalahgunakan proses itu sudah diganti dan tidak dilibatkan dalam proses pengusutan, saya kira itu yang perlu diperhatikan," tandasnya.

Kasus teror air keras terhadap Novel Baswedan sudah bergulir selama 800 hari lebih. Namun hingga saat ini, polisi belum berhasil menangkap pelaku teror tersebut.

 

Tunggu Hasil Lengkap

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menyampaikan, pihaknya masih menunggu hasil temuan pengungkapan kasus penyerangan penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan oleh Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) bentukan Kapolri Jendral Tito Karnavian.

"Yang jelas nanti dari TGPF itu akan menyampaikan hasilnya ke Mabes Polri. Mabes Polri nanti akan mempelajari dan tentunya tim teknis akan menindaklanjuti, dan nanti Pak Kadiv akan menyampaikan apa hasilnya dan kemudian langkah-langkah teknis apa yang akan dilakukan," tutur Dedi di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (9/7).

Menurut Dedi, sampai dengan hari ini pihaknya belum menerima kesimpulan hasil temuan dari TGPF. Tentunya dengan sejumlah ahli yang tergabung di dalamnya, kehati-hatian mengolah temuan data menjadi penting demi mengungkap kasus tersebut.

"Kan belum diserahkan, masih menunggu penyerahan. Masih dipelajari dulu, kita masih punya waktu untuk mempelajari," jelas dia.

Dia menegaskan, Polri berkomitmen kuat mengungkap segala bentuk kasus yang ditangani. Termasuk soal penyerangan Novel Baswedan menggunakan air keras oleh orang tidak dikenal.

"Kan tim teknis, dari eksternal, berbagai macam elemen dan expert di bidangnya, kita belum tahu hasilnya. Nanti bila hasilnya sudah dipelajari, Pak Kadiv akan menyampaikan," kata Dedi. (det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>