KPK Segera Klarifikasi Menag soal Duit di Lacinya

Rabu, 27 Maret 2019  18:14

KPK Segera Klarifikasi Menag soal Duit di Lacinya

Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin

Jakarta (BM) - KPK akan segera memanggil Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin terkait temuan uang yang disita dari ruang kerjanya senilai ratusan juta. Uang yang disita itu sebelumnya disebut KPK berkaitan dengan perkara suap yang menjerat mantan Ketua Umum PPP Romahurmuziy alias Rommy.

"Semua uang yang kita sita pasti diklarifikasi. Beliau (Lukman) kan belum diperiksa, nanti setelah diperiksa, kita mengetahui apakah itu honor atau uang kas atau uang yang berhubungan dengan hal-hal yang lain," ujar Wakil Ketua KPK Laode M Syarif di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (27/3/2019).

Total duit yang disita dari laci meja kerja Lukman itu sebelumnya disebut berjumlah Rp 180 juta dan USD 30 ribu. Uang itu disita KPK saat melakukan penggeledahan di ruang kerja Lukman, Senin (18/3).

Namun Syarif menolak berspekulasi mengenai keterlibatan Lukman dalam pusaran perkara itu. Dia hanya mengatakan bila dalam perkara itu pastinya ada peran orang-orang di luar yang terjaring operasi tangkap tangan (OTT).

"Yang bisa saya sampaikan bahwa laporan yang kami terima itu tidak terbatas kepada yang ditangkap pada saat tertangkap tangan. Kami juga mendapatkan laporan hampir sama dari beberapa daerah lain," ujar Syarif.

Dalam kasus ini, ada 3 orang yang ditetapkan KPK sebagai tersangka. Mereka ialah Rommy sebagai tersangka penerima serta Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik Muhammad Muafaq Wirahadi dan Kepala Kantor Wilayah Kemenag Jawa Timur Haris Hasanuddin sebagai tersangka pemberi.

Rommy diduga menerima duit suap Rp 300 juta dari Muafaq dan Haris. Duit itu diduga diberikan keduanya agar Rommy membantu proses seleksi mereka untuk jabatan yang saat ini diduduki.

Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Syaifuddin menolak berkomentar terkait kasus jual-beli jabatan di lingkungan Kementerian Agama. Lukman menyatakan akan memberikan keterangan terlebih dahulu kepada KPK.

"Gini, yang terkait, saya mohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh media, kepada publik, saya belum bisa menyampaikan hal-hal yang bisa terkait dengan materi perkara. Karena saya harus lebih menghormati KPK sebagai institusi resmi tempat di mana mereka semestinya mendapatkan keterangan resmi pertama dari saya terkait dengan persoalan ini," ujar Lukman di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (25/3/2019).

Menurut Lukman, dirinya harus menahan diri untuk tidak berkomentar karena terkait dengan etika. Lukman pun meminta sikapnya tersebut dimaklumi.

"Jadi ya apa boleh buat, sebelum saya memberikan keterangan resmi di hadapan KPK tentu secara etika saya harus menghormati untuk bisa menahan diri untuk tidak menyampaikan hal-hal yamg bisa terkait dengan materi perkara ini. Jadi mohon teman-teman bisa memaklumi," tuturnya.

Lukman mengatakan hingga saat ini belum ada pemanggilan dari KPK terkait kasus jual-beli jabatan. Namun, ia menegaskan akan hadir jika dipanggil.

"Sampai hari ini belum (ada pemanggilan). Ya tentu dong (hadir jika dipanggil), saya harus hormati. Itu adalah kewajiban konstitusional saya memenuhi panggilan mereka," tandasnya.

 

Bantah Laporkan Rommy

Mahfud MD menegaskan bukan dirinya yang melaporkan eks Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Romahurmuziy, ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Menurutnya kasus Rommy terlalu kecil.

"Nggak pernah, ngapain laporin (Rommy ke KPK). Terlalu kecil," ujar Mahfud MD kepada wartawan di Cafe Cangkir 6 Joglo Bintaran Kota Yogyakarta, Rabu (27/3/2019).

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini kembali menegaskan bukan dirinya yang melaporkan Rommy. Menurutnya, pengusutan KPK terhadap kasus Rommy berangkat dari laporan masyarakat.

"Wah, nggak juga, yang melaporkan itu masyarakat," tegasnya.

Mahfud pun menanggapi santai adanya anggapan yang menyebut dirinya terlibat atas penangkapan Rommy. Dia tak mempermasalahkan anggapan itu.

"Ya yang menganggap itu silakan saja, kan orang menganggap tidak bisa dihalangi, silakan saja," pungkas Mahfud.

Sebelumnuya, Mahfud MD menyebut mantan Ketua Umum PPP Romahurmuziy (Rommy) berada pada tahap 'ritualitas' pertama yakni merasa dijebak KPK.

Menanggapi pernyataan Mahfud, pengacara Rommy, Maqdir Ismail meyakini bahwa fakta yang sebenarnya akan terungkap.

"Ya silakan saja Pak Mahfud berpendapat seperti itu. Nggak ada yang salah seseorang berpendapat. Tapi buat kami, nanti kita lihat saja lah faktanya seperti apa, begitu loh ya. Siapa yang mengada-ada," kata Maqdir, Senin (25/3/2019). (det/rmo/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>