Menangis, Zunaidi Tak Akui Lakukan Pelecehan

Senin, 04 Juni 2018  17:26

Menangis, Zunaidi Tak Akui Lakukan Pelecehan

Zunaidi Abdillah, mantan perawat National Hospital Surabaya

SURABAYA (BM) - Zunaidi Abdillah, terdakwa kasus pelecehan terhadap pasien National Hospital Surabaya benar-benar tak menyangka bakal dituntut 1,5 tahun penjara. Bahkan Zunaidi bersikukuh dirinya tak pernah melakukan pelecehan dan meminta dibebaskan dalam dakwaan.

Pada sidang tertutup itu, Zunaidi diberi kesempatan membaca pleidoi itu. Dengan mata berkaca-kaca, Zunaidi meminta agar dirinya dibebaskan atas dugaan tindakan asusila yang selama ini menjeratnya. “Zunaidi merasa mengapa cuma dia yang disalahkan, dan lagi saat ini kondisi sakit-sakitan, sedangkan ia ditahan. Bagaimana tidak hati seorang bapak pasti menangis,” kata Elok Kadja, kuasa hukum Zunaidi, Senin, (4/6).

Ketika sidang berlangsung, Zunaidi sempat meneteskan air mata saat membaca pledoi. Tangisan Zunaidi masih tetep berlangsung saat dirinya didampingi Jaksa Penuntut Umum (JPU) Damang Anubowo menuju ke ruang tahanan sementara PN Surabaya.

Terkait hal ini, JPU Damang menilai bahwa pledoi yang dibacakan terdakwa tentang pencabutan BAP. “Ketika sidang ia tetap mengatakan ada paksaan saat penyidikan, todongan pistol, yang intinya sama seperti keterangan terdakwa saat sidang kemarin,” terangnya.

Maka dari itu, dalam repliknya JPU Damang tetap pada tuntutan. Di samping itu, JPU Damang menilai dalam perkara ini tidak ada unsur paksaan. “Sudah dua kali didampingi penasehat hukum yang berbeda, tapi kali ini ia bilang ada paksaan,” lanjut JPU Damang.

Sedangkan kuasa hukum terdakwa, Elok Kadja menyimpulkan bahwa isi dari pledoi ini menyatakan terdakwa tak bersalah. “Kami mintakan kepada majelis hakim, terdakwa ini diputus Vrijspaak atau bebas dari segala putusan Onslag,” tegasnya.

Adanya pleidoi tak bersalah ini, karena tak ada saksi yang melihat langsung saat peristiwa itu, dimana rentang waktu saat peristiwa dan pelaporan terpaut cukup jauh yakni 12 jam. “Itu yang menjadi dasar kami,” paparnya.

Selain itu, dari keterangan ahli kejiwaan yang didatangkan oleh JPU menerangkan jika seseorang yang sudah dioperasi dan diberi obat provol, dan dioperasi di bagian vitalnya, kemungkinan mengalami halusinasi. “Hal ini juga dikuatkan oleh ahli anastesi yang kami datangkan pada sidang yang lalu,” tambahnya.

Dari keterangan ahli anastesi ini, bahwa ada penelitian dari 300 orang yang dioperasi menggunakan provol. Dari situ, ditemukan 52 orang mengalami halusinasi seksual. (arf/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>