Prawiro Tedjo dan Wenas Panwell Diperiksa Kejati Jatim
Prawiro Tedjo (kemeja putih) saat memasuki ruang pemeriksaan gedung Kejati Jatim, Selasa (27/2).
By: admin
27 Feb 2018 18:05
 
 

SURABAYA (BM) - Prawiro Tedjo dan Wenas Panwell, dua saksi yang dicekal dalam kasus dugaan korupsi aset Gelora Pancasila diperiksa penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim, Selasa (27/2/2018). Dua pengusaha asal Surabaya tersebut diperiksa sebagai saksi.

Didik Farkhan Alisyahdi, Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Jatim membenarkan bahwa Prawiro Tedjo dan Wenas Panwell diperiksa sebagai saksi. “Ya (mereka) sedang diperiksa,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Dari informasi yang berhasil dihimpun, Prawiro Tedjo dan Wenas Panwell menjalani pemeriksaan sebagai saksi sejak pukul 09.00 WIB dan terlihat keluar ruangan pemeriksan pada pukul 16.30 WIB. Kedua orang yang dikenal sebagai bos properti di Surabaya ini diduga sebagai pihak yang paling mengetahui praktik korupsi dari aset milik Pemkot Surabaya tersebut. Diperikirakan nilai kerugian dalam kasus korupsi ini mencapai Rp 183 miliar.

Sementara itu usai diperiksa, Wenas tak banyak bicara saat dimintai komentar oleh para wartawan. “Pusing saya. Diperiksa dari jam 09.00 WIB pagi tadi. Kalau jumlah pertanyaannya (dari penyidik) saya tidak menghitung. Sudah ya,” ujar Wenas.

Dalam kasus ini, Kejati Jatim telah menetapkan status cekal terhadap Tedjo, Wenas Panwell, dan Ridwan Soegijanto. Ketiganya adalah jajaran direksi di PT Setia Kawan Abadi, pemilik gedung Gelora Pancasila yang kini masih sengketa dengan Pemkot Surabaya.

Penetapan status cekal ini dilakukan untuk mempermudah pemeriksaan.  “Untuk tersangka masih belum karena kami masih mendalami kasus ini. Kami juga melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi yang diduga mengetahui dugaan korupsi di gedung Gelora Pancasila ini,” ujar Richard Marpaung, Kasi Penkum Kejati Jatim beberapa waktu lalu.

Sebelumnya diberitakan, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim menetapkan status cekal terhadap tiga orang yang diduga mengetahui dugaan penyalahgunaan salah satu aset Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, yakni Gelora Pancasila. Mereka adalah, Prawiro Tedjo, Ridwan Soegijanto dan Wenas Panwell, yang semuanya berprofesi sebagai pengusaha.

Kasi Penerangan Hukum Kejati Jatim, Richard Marpaung, mengatakan, penetapan status cekal itu terkait dugaan korupsi aset senilai Rp183 miliar. Pencekalan dilakukan untuk mempermudah proses penyidikan.

Meski demikian, hingga saat ini Kejaksaan Tinggi masih belum menetapkan satu tersangkapun dalam kasus ini. "Kami ingin proses pemeriksaan bisa berjalan cepat," katanya, Rabu (21/2/2018).

Terkait kemungkinan ketiga pengusaha ini naik status menjadi tersangka, Richard enggan berspekulasi. Yang pasti,  ketiganya sangat dibutuhkan untuk memberikan bukti dan data-data terkait kasus Gelora Pancasila.

“Belum ke arah sana (tersangka, red). Ketiganya saat ini dibutuhkan keterangannya dalam kasus dugaan penyalahgunaan aset Gelora Pantjasila,” elaknya.

Kasus ini bermula dari laporan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini ke beberapa penegak hukum mulai Kejaksaan, Kepolisian hingga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Risma, panggilan akrab Tri Rismaharini melaporkan 11 aset Pemkot Surabaya yang jatuh ke tangan swasta.

Ke-11 aset tersebut di antaranya rumah air PDAM Jalan Basuki Rahmat 119-121 Surabaya, gedung PDAM Jalan Prof Dr Moestopo Nomor 2 Surabaya, Gedung Gelora Pancasila Jalan Indragiri No 6 Surabaya, Waduk Wiyung di Kelurahan Babatan Kecamatan Wiyung, tanah aset Pemkot Surabaya Jalan Upajiwa Kelurahan Ngagel Kecamatan Wonokromo (Marvell City/PT Assa Land), dan Kolam Renang Brantas Jalan Irian Barat No 37-39.  (arf/tit)


Create Account



Log In Your Account