Rebutan Anak, Ayah-Anak Terancam 5,6 Tahun Penjara

Selasa, 06 Februari 2018  18:21

Rebutan Anak, Ayah-Anak Terancam 5,6 Tahun Penjara

Toriq Martak (kanan) dan Nisrin Martak saat duduk di kursi terdakwa di Pengadilan Negeri Surabaya

SURABAYA (BM) - Toriq Martak dan Nisrin Martak duduk di kursi pesakitan sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri Surabaya, Selasa (6/2/2018). Perselisihan rumah tangga membuat ayah dan anak ini akhirnya terjerat kasus tindak pidana penganiayaan.

Dua saksi dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Farkhan Junaedi pada persidangan kali ini yaitu Muhamad dan Alia. Dua saksi ini dimintai keterangannya sebagai saksi atas peristiwa penganiayaan yang dilakukan kedua terdakwa.

Alia menerangkan, persitiwa penganiayaan yang dilakukan kedua terdakwa terhadap dirinya terhadi pada 22 Mei 2017. “Saat itu saya dan Muhamad berangkat dari Tuban menuju Sukodono (rumah Nisrin) untuk mengantar Chalid bertemu anaknya,” katanya.

Namun sesampainya di rumah Nisrin, Alia yang meminta izin mempertemukan Chalid dengan anaknya justru mendapat perlakuan kasar dari Toriq, mertua Chalid. “Ketika Pak Toriq buka pintu, saya langsung didorong. Kemudian saya jatuh, terus saya telepon Chalid agar datang,” cerita Alia.

Tak cukup sampai disitu saja, Alia juga mengaku dicekik lehernya oleh Toriq. Cekikan itu bahkan membuat Alia mengalami luka di lehernya. “Saya juga dicekik leher saya,” terang Alia dihadapan majelis hakim yang diketuai Isjuaedi.

Menurut Alia, Toriq memperlakukan kasar dirinya lantaran tidak mau cucunya ditemui ayahnya yaitu Chalid. “Kakak saya (Chalid) tidak boleh ketemu anaknya. Tapi Chalid akhirnya bisa masuk ke rumah menemui anaknya, itupun ditemani Pak RT,” kata Alia.

Dari keterangan Alia terungkap, Nisrin dan Chalid yang merupakan sepasang suami istri akhir-akhir ini mengalani kisruh rumah tangga. Bahkan, hubungan pasutri yang telah dikaruniai satu anak ini sampai berujung pada perceraian.

Nisrin yang sebelumnya bertempat tinggal di rumah Chalid di Tuban tiba-tiba memutuskan untuk kabur dan balik ke rumah tuanya di Sukodono, Surabaya. Dalam pelariannya Nisrin membawa anaknya yang masih balita.

Cekcok antar keluarga pun kian menjadi-jadi setelah Toriq yang merupakan ayah Nisrin menolak keluarga dari Chalid. Anehnya di saat hubungan dua keluarga kian renggang, namun tiba-tiba antara Chalid dan Nisrin justru mereda dan memutuskan untuk rujuk kembali.

Pada sidang tersebut, Toriq sempat membantah keterangan dari Alia. “Keterangan saksi (Alia) ada yang salah pak hakim. Sebenarnya Alia sudah menggendong cucu (anak dari pasangan Chalid dan Nisrin) saya. Makanya saya larang mereka untuk pegang cucu saya,” kata Toriq kepada majelis hakim.

Dalam kasus ini, kedua terdakwa dijerat sebagaimana diatur dan diancam dengan pidana dalam Pasal 170 ayat 1 KUHP. Merujuk pada pasal tersebut, kedua terdakwa terancam hukuman maksimal selama 5,6 tahun penjara.(arf/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>