Satgas Anti Mafia Bola Tahan Joko Driyono

Senin, 25 Maret 2019  21:04

Satgas Anti Mafia Bola Tahan Joko Driyono

Joko Driyono

Jakarta (BM) - Satuan Tugas Anti Mafia Bola Polri akhirnya menahan Pelaksana Tugas (plt) Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Joko Driyono alias Jokdri. Penahanan itu dilakukan setelah penyidik memeriksa Jokdri terkait kasus dugaan perusakan barang bukti match fixing atau pengaturan skor pertandingan sepakbola, Senin (25/3).

Joko Driyono (JD) ditahan di Rumah Tahanan Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, dalam tempo 20 hari ke depan. "Saat ini proses penyidikan berjalan. Semoga kita bisa tuntaskan, termasuk berkas perkara JD, yang dilakukan penahanan hari ini," ujar Kepala Satgas Anti Mafia Bola Polri, Brigadir Jenderal Hendro Pandowo, di Mabes Polri.

"Dalam proses pemeriksaan hingga Maret, tersangka beberapa kali tidak hadir. Maka, pada hari ini, 25 Maret 2019, Saudara JD hadir dan tadi pukul 10.00 WIB, dilakukan pemeriksaan," Hendro menambahkan.

"Ditahan di Rutan Polda Metro Jaya mulai 25 Maret sampai 13 April 2018, 20 hari ke depan," kata Kasatgas Antimafia Bola Brigjen Hendro Pandowo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (25/3/2019).

Penahanan Joko berdasarkan hasil gelar perkara pukul 14.00 WIB Senin (25/3) siang. Hendro menjelaskan penahanan Joko telah memenuhi syarat karena dia diduga melanggar pasal yang ancaman hukumannya 7 tahun masa kurungan.

"Ancaman 7 tahun penjara. Pencekalan 6 bulan dan belum habis, sehingga cukup lakukan penahanan," ujar Hendro.

Hendro mengungkapkan motif perusakan barang bukti yang dilakukan Joko adalah untuk mengaburkan proses penyidikan kasus match fixing. Dari terkuaknya motif tersebut, Hendro menegaskan polisi akan menggali lebih dalam terkait ada atau tidaknya peran Joko dalam pengaturan skor.

"(Motif perusakan barang bukti) untuk mengaburkan sehingga barang bukti yang kita butuhkan tidak ada. Sehingga kita tidak bisa gali lebih dalam pengaturan skor lain. Tapi sudah ada dari enam penahanan tersangka yang lain sebelumnya," jelas Hendro.

"Ada beberapa hal yang akan kita dalami terkait peran dalam pengaturan skor kasus lain. Sehingga ada upaya dia musnahkan dokumen yang dibutuhkan," sambung Hendro.

Jokdri dijerat dengan Pasal 363 KUHP dan/atau Pasal 265 KUHP dan/atau Pasal 233 KUHP. Pasal-pasal tersebut pada intinya mengenai tindakan pencurian dengan pemberatan atau perusakan barang bukti yang telah terpasang police line.

Jokdri ditetapkan sebagai tersangka tindak pidana pencurian dengan pemberatan dan atau memasuki dengan cara membongkar, merusak, atau menghancurkan barang bukti yang telah dipasang garis polisi oleh penguasaan umum di kantor Komisi Disiplin PSSI, pada 14 Februari 2019. Pria asal Ngawi itu diduga menjadi dalang perusakan sejumlah dokumen yang berkaitan dengan pengaturan skor sepakbola nasional.

Oleh kepolisian, Jokdri dikenakan pasal 363 KUHP terkait pencurian dan pemberatan, kemudian pasal 232 KUHP tentang perusakan pemberitahuan dan penyegelan. Lalu, pasal 233 KUHP tentang perusakan barang bukti dan yang terakhir adalah pasal 235 KUHP terkait perintah palsu untuk melakukan tindak pidana yang disebutkan di pasal 232 KUHP dan 233 KUHP.

Selain Jokdri, sejauh ini sudah ada 15 orang yang ditetapkan sebagai tersangka. Mereka adalah para anggota Exco PSSI, anggota Komisi Disiplin PSSI, Komite Wasit, wasit, juga sopir Jokdri, Muhammad Mardani alias Dani, Musmuliadi alias Mus seorang pesuruh di PT Persija, dan Abdul Gofar pesuruh di PSSI. Tiga nama terakhir menjadi pemantik tersangkutnya Jokdri sebagai tersangka.

 

Dicecar soal Barang Bukti

Sebelum ditahan, Tim Satgas Antimafia Bola terlebih dulu memeriksa Joko Driyono. Mantan Plt Ketum PSSI ini dicecar sejumlah pertanyaan oleh tim Satgas, mulai dari barang bukti hingga aliran dana yang berkaitan dengan rekeningnya.

Pengacara Joko Driyono, Andru Bimaseta mengungkap pemeriksaan terhadap kliennya berkaitan dengan pada saat tim Satgas melakukan penggeledahan di kantornya beberapa waktu lalu. Penggeledahan tersebut merupakan tindak lanjut penyidikan atas laporan dari Laksmi.

"Prinsipnya kemarin dilakukan penggeledahan di kantor PSSI didasarkan laporan polisi (atas nama pelapor) Laksmi. Setelah digeledah ternyata ada dugaan tindak pidana sebagaimana yang teman-teman ketahui semua kemudian diajukan LP baru. Setelah diajukan LP itu 'kan ada barbuk yang diambil," jelas Andru kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (25/3/2019).

Andru sendiri tidak bisa memastikan apakah barang bukti yang dirusak adalah berkaitan dengan kasus pengaturan skor.

"Kalau ditanya barbuk itu terkait pengaturan skor atau tidak, itu kita belum bisa bilang ke situ, karena sampai sekarang belum ada kaitannya atau tidak dengan pengaturan skor," lanjutnya.

Menurut Andru, kliennya itu sudah dicecar ratusan pertanyaan oleh penyidik setelah beberapa kali diperiksa. Selain soal barang bukti yang dirusak, penyidik juga mencecarnya soal rekening Jokdri.

"Terkait yang pertama hubungan dengan siapapun yang beliau kenal, kemudian itu 'kan ada buku bukti rekening itu dilihat keseharian pak Joko ini untuk apa. Kayak contoh misalkan yang paling mudah misalkan untuk bayar apa-apa itu juga ditanyakan, yang ketiga mengenai barbuk lain seperti laptop, HP dan lain sebagainya." terang dia.

Andru mengatakan, ada puluhan barang bukti yang disita oleh Satgas kepada kliennya. Satu persatu barang bukti dikonfirmasi oleh Satgas kepada Jokdri.

"Barbuk yang disita ada 80-an item. Anggaplah 1 HP isinya dari tahun 2010, itu ditanyakan satu persatu. Makanya itu terus berulang (pemeriksaan) karena itu alasannya," sambungnya.

Selain masalah aliran dana, penyidik juga menanyakan komunikasi Joko Driyono dengan sejumlah orang. Tetapi tidak ada pertanyaan soal pengaturan skor.

"Bukan hanya itu (rekening), banyak segala komunikasi semua ditanyakan tapi bukan terkait pengaturan skor, terkait keseharian Pak Joko," tandasnya. (det/mer/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>