Ketua HAMI Akson Nul Huda

Rabu, 01 November 2017  06:18

Ketua HAMI Akson Nul Huda

HAMI Minta LSM Kekuatan Hati Minta Maaf

Kediri(BM)-Pernyataan LSM Kekuatan Hati saat melakukan unjuk rasa, Kamis lalu dinilai telah melukai hati perangkat petadilan. Baik advokat, pengadilan maupun kejaksaan dan masyarakat pada umumnya. Karena LSM tersebut dalam orasinya telah menyinggung adanya dugaan rekayasa novum dan mafia peradilan.

Ketua DPC Himpunan Advokat Muda Indonesia (HAMI) Cabang Kediri Raya, M. Akson Nul Huda .SH .MH menyatakan aksi dilakukan LSM Kekuatan Hati dibawah koordinator Jeanny Latumahina digelar Kamis lalu, dianggap bentuk pembunuhan karakter atas perangkat pengadilan.“Kami menyayangkan dan sekaligus menuntut kepada koordinator aksi, untuk melakukan permintaan maaf secara terbuka,” jelas Akson, Selasa (31/10).

Pria yang akrab disapa dengan Akson mengaku kalau pernyataan dalam aksi LSM  tersebut tidak mendasar, tendensius, subjektif, mendahului terhadap proses peradilan yang berjalan. Bisa membentuk peradilan opini, sekalipun ada kata dugaan maka sifat dugaan tersebut harus bisa di buktikan. Akson menambahkan bahwa, pernyataan yang disampaikan sebagai bentuk karakter asenation atau pembunuhan karakter terhadap perangkat peradilan seperti Hakim, jaksa dan penasehat hukum.

“Kami mengkhawatirkan terhadap statemnt tersebut mengganggu proses PK dan menyandera majelis hakim dalam memutus perkara. Sehingga dalam putusan tersebut berpotensi tidak objektif.  Pasalnya seandainya kemudian dalam putusan hakim mengabulkan putusan PK, maka publik beranggapan benar telah terhadi rekayasa novum dan mafia peradilan di Pengadilan Negeri Kota Kediri,” jelas Akson, advokat.

Menyikapi pernyataan tersebut, saat dikonfirmasi Jeanny menyatakan tidak akan pernah menyampaikan permintaan maaf dalam bentuk apapun. “Itu kan hak menyampaikan pendapat, kenapa harus minta maaf. Jika kami minta maaf, sama saja membuat pengakuan bersalah. Bila ternyata ini dari anggota tim pengacara, saya malah khawatir dalam pembelaannya ada hal yang aneh dan kepada majelis hakim kami harapkan untuk bersikap profesional dalam memutuskan perkara,” jelasnya.

Ditambahkan Jeanny, bila kemudian dirinya dianggap melecehkan profesionalisme perangkat pengadilan, kemudian ada sosok pengacara yang memintanya untuk meminta maaf, bisa diartikan justru pengacara dan perangkat pengadilan di Kota Kediri, telah melecehkan Mahkamah Agung dalam menunjuk seorang hakim.(bad/dra)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>