Warga Desak Ketua LMDH Diganti

Jumat, 20 Oktober 2017  05:14

Warga Desak Ketua LMDH Diganti

Warga Satak saat mengadu ke Perum Perhutani KPH Kediri

Kediri(BM)-Diduga melakukan menyimpang dalam pengelolaan lahan milik Perhutani, sejumlah warga Desa Satak Kecamatan Puncu Kabupaten Kediri mendatangi kantor Perum Perhutani KPH Kediri. Mereka menuntut agar ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Satak , Eko Cahyono diganti. Menurut Agustianto selaku pendamping warga Satak, sengaja mendatangi Kantor Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kediri guna minta penjelasan terkait dengan tugas pokok fungsi sekaligus menanyakan lamanya masa jabatan ketua LMDH.“Eko sudah menjabat selama 18 tahun, dan itu tidak sudah terlalu lama dan sudah waktunya diganti,” ujarnya.

 Agus juga meminta agar Perhutani melakukan evaluasi ulang pembagian lahan dengan cara turun ke lokasi terlebih dahulu. Karena, pembagian lahan yang dilakukan Eko Cahyono sebagai Ketua LMDH Desa Satak, ditenggarai terjadi penyimpangan."Kami yakin bahwa pembagian lahan yang di lakukan oleh Eko ada penyimpangan, hal ini dikuatkan keterangan warga dan juga dari hasil investigasi di lapangan," ujarnya lebih lanjut.

Penyimpangan yang terjadi, lanjut Agus, diantaranya lahan milik Perhutani yang seharusnya dibagikan kepada warga, faktanya justru disewakan kepada investor oleh LMDH. Apalagi jabatan Eko sebagai ketua sudah berjalan selama 18 tahun secara berturut-turt tanpa terjadi penggantian. Sementara, warga yang datang ke Kantor Perhutani KPH Kediri, diterima oleh Wakil ADM, Heri Suprayitno. Karena masih berupa pengaduan, maka pihak Perhutani hanya bisa menampung keluhan warga dan secepatnya akan melakukan kroscek di lapangan.

Bila ditemukan adanya pelanggaran, maka pihak Perhutani akan membekukan sementara kerjasama kemitraan dengan LMDH setempat dan sambil menunggu re-organisasi pengurus LMHD yang baru.(bad/dra)
OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>