BNN Bekuk Sindikat Internasional

Senin, 22 Mei 2017  20:00

BNN Bekuk Sindikat Internasional

BNN bekerja sama dengan Polis Diraja Malaysia (PDRM) berhasil mengungkap jaringan sindikat narkotika internasional

JAKARTA (BM) - Badan Narkotika Nasional (BNN) menangkap Togiman alias Toni alias Toge, bandar sabu yang mengendalikan jaringannya di balik LP Tanjung Gusta, Medan, Sumatera Utara. Jaringannya menyelundupkan narkotika dengan modus disimpan di boks ikan. Kepala BNN Budi Waseso mengatakan modus operandi yang digunakan oleh Toge termasuk modus baru untuk mengelabui petugas, seolah-olah di dalamnya adalah ikan.
 
"Jadi boks ikan untuk mengirim sabu, sabunya ada di bawah seolah-olah es batu terus kemudian di atasnya (ditaruh) ikan. Nanti di atasnya lagi es yang dibungkus dengan bungkus yang sama. Jadi aparat menyangkanya ini pengiriman ikan," ujar Budi Waseso di kantor BNN Cawang, Jakarta Timur, Senin (22/5/2017).
 
Menurut Buwas, sapaan Budi Waseso, modus operandi itu tersebut adalah modus yang aman. Bungkus untuk sabu dibuat tidak tembus air.
 
"Bagaimana tidak aman, ini 25 kg tidak terdeteksi, kalau tidak kejelian dari aparat di lapangan. Jadi ini tidak tembus air, jadi aman," ungkapnya.
 
Petugas memeriksa pengiriman barang tersebut, namun pelaku mengaku barang tersebut adalah ikan. Untungnya, aparat jeli, sehingga terbongkarlah pengiriman sabu menggunakan boks ikan ini.
 
"Jadi aparat sudah memeriksa beberapa dan mereka bilang ini ikan, pas dicek ternyata ikan, tapi aparat tidak memeriksa di bawahnya. Tapi ternyata yang di bawahnya itu lah sabu 25 kilogram," lanjutnya.
 
Dalam kasus ini, petugas BNN mengamankan 3 orang tersangka yakni Abdul Manaf, Sugiharto dan Wagimun. Mereka adalah kurir yang dikendalikan oleh Toge dari balik LP. Mereka ditangkap pada 14 Mei 2017 di Medan, Sumatera Utara.
 
"Dari mereka inilah kita kembangakan lagi, maka kita temukan jaringan sesungguhnya yaitu di Lapas Tanjung Gusta. Di Lapas Tanjung Gusta kita menangkap, menemukan bahwa Togiman alias Toge dan Thomson Hutabarat alias Ucok," tandas Buwas.
 
Dikendalikan Dari Lapas
Kepala BNN Komjen Budi Waseso menyebut peredaran narkotika yang dikendalikan napi terjadi di hampir di seluruh lapas di Indonesia. "Hampir seluruh lapas itu terjadi peredaran narkotika di dalam, termasuk pengoperasionalan jaringan, dan ini buktinya," ujar Buwas, nama panggilan Budi Waseso, di kantornya, Jalan MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur, Senin (22/5/2017).
 
Toge sendiri sebelumnya pernah ditangkap BNN karena mengendalikan narkotika, ketika ditahan di LP Lubuk Pakam, Sumatera Utara, pada April 2016. Saat digeledah, BNN menemukan fasilitas ruang karaoke di sel Toge.
 
Tidak hanya di LP Lubuk Pakam, BNN bahkan menemukan adanya bunker narkoba di dalam lapas di Medan, Sumatera Utara. Hanya saja, Buwas menyebut, hal itu di luar kewenangannya.
 
"Beberapa waktu lalu di Medan kita temukan di situ ada bunker narkoba dalam lapas yang siap edar dan itu peredarannya ada di dalam lapas. Itu bukan kewenangan kita, karena itu batasannya kewenangannya adalah Dirjen Lapas, jadi kita tidak mencampuri, tapi kita hanya memberikan masukan sesuai fakta-fakta," terang Buwas.
 
Buwas mengatakan peredaran narkotika di dalam lapas merupakan kewenangan dari Kementerian Hukum dan HAM serta Dirjen Lapas. Namun, BNN sudah memberikan masukan ke pihak Kemenkum HAM dan Dirjen Lapas ketika menemukan keterlibatan napi di dalam lapas.
 
"Ini kan kewenangannya nanti dari Kemenkum HAM dan Dirjen Lapas. Mereka sudah mengambil langkah-langkah, rencana ada pemisahan, ada penanganan kasus dalam hal ini. Kita hanya bisa membuktikan saja dengan fakta. Di kala lapas tenang biasanya mereka itu banyak peredaran," sambungnya.
 
Terungkapnya permainan Toge di dalam lapas ini bukan hanya kali ini saja. Dia sebelumnya ditangkap karena mengendalikan jaringannya di LP Lubuk Pakam, pada April 2016 lalu dan divonis hukuman mati.
 
Diungkapnya kasusnya yang terakhir ini di LP Tanjung Gusta, membuktikan Toge tidak jera meski sudah divonis mati. Lantas kapan Toge akan dieksekusi?
 
"Yang pasti, pasalnya (terhadap Toge) pasti maksimal hukuman mati lagi. Persoalan dia tidak mati-mati bukan urusan saya, karena kewenangannya berbeda dan saya sudah menyampaikan rekomendasi saya, saya berikan surat untuk masalah tentang reputasinya. Saya tidak tahu nanti hasilnya karena ini bukan kewenangannya dari BNN," terangnya.
 
Buwas menegaskan, pihaknya hanya bertugas untuk melakukan penindakan. BNN berkomitmen untuk terus memberantas peredaran narkotika.
 
"BNN hanya bisa bekerja. Kita commit dalam penegakan hukum tentang narkotika sesuai dengan perintah presiden, cuma nanti hasilnya (kapan dieksekusi) ya kita tidak tahu," pungkasnya. (det/tit)
OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>