Buwas: Tahun 2016 Ada 250 Ton Narkoba Masuk Indonesia

Kamis, 15 Juni 2017  20:09

Buwas: Tahun 2016 Ada 250 Ton Narkoba Masuk Indonesia

BNN musnahkan barang bukti 28,8 kilogram sabu dan 173 butir ekstasi, Kamis (15/6/2017).

JAKARTA (BM) - Badan Narkotika Nasional (BNN) memusnahkan barang bukti narkoba hasil pengungkapan 3 kasus. Barang bukti yang dimusnahkan yakni 28,8 kilogram sabu dan 173 butir ekstasi. Pemusnahan dilakukan di halaman parkir gedung BNN, Cawang, Jakarta Timur, Kamis (15/6/2017).
 
"Ini pemusnahan yang ke-6 kali sudah kita lakukan. Banyak masyarakat yang menanyakan apakah barang yang dimusnahkan itu asli apa tidak. Kita juga lakukan uji laboratorium dan menghadirkan media. Jadi tidak ada lagi yang berpikir kalau barang ini ditukar," kata Kepala BNN Komjen Budi Waseso (Buwas).
 
Menurut Buwas dari tiga kasus yang diungkap, ada 12 orang pelaku yang ditangkap. Ketiga kasus tersebut antara lain penggagalan pengiriman paket sabu tujuan NTB tanggal 29 April 2017, pengungkapan kasus peredaran ekstasi dan sabu di Bekasi tanggal 6 Mei dan pengungkapan sabu dalam kotak pendingin ikan di Medan jaringan Malaysia tanggal 14 Mei 2017.
 
"Pertama tanggal 29 April 2017 petugas BNNP Kalbar ada informasi pengiriman paket Sabu ke NTB. Tersangka yang merupakan pemesan ditangkap di Kota Mataram, kedua BNN pada tanggal 6 Mei 2017 menangkap seorang wanita di Perumahan Harapan Cluster Taman Sari, Bekasi dan terakhir BNN berkerjasama dengan Polis Diraja Malaysia tanggal 14 Mei 2017 mengungkap Jaringan Malaysia yang dikendalikan tahanan Lapas Tanjung Gusta yaitu Togiman alias Toge," papar Buwas.
 
Dalam pemusnahan, petugas juga menyisihkan barang bukti untuk uji laboratorium yakni 66,50 gram sabu dan 6 butir ekstasi. Pemusnahan barang bukti narkoba ini dihadiri Putri Indonesia 2017 Bunga Jelitha Ibrani, Sekjen DPD Sudarsono Hardjosoekarto serta para komunitas penggiat anti narkoba.
 
Darurat Narkoba
Budi Waseso mengingatkan bahwa Indonesia darurat narkoba. "Indonesia ini darurat narkoba. Jangan dianggap mainan. Saya sampaikan, terserah masyarakat percaya atau tidak pada kami," ujar pria yang disapa Buwas ini, di Kantor BNN, Cawang, Kamis (15/6).
 
Buwas menjelaskan, dari data yang dimiliki BNN, ada 65 jenis narkotika yang masuk ke Indonesia dari jumlah total keseluruhan 800 jenis yang ada di dunia.  Tahun 2016 narkotika yang masuk Indonesia 250 ton, dan bahan narkotika yang masuk 1097,6 ton. 
 
"Supaya masyarakat melih dan tidak menganggap enteng masalah narkotika di negara kita. Kita setengah mati menangani ini," ucap mantan Kabareskrim itu.
 
Buwas menjelaskan, besarnya jumlah narkotika yang beredar di Indonesia bukan tanpa sebab. Lemahnya sistem keamanan dan terlibatnya oknum-oknum di lapas menjadi salah satu penyebabnya.
"Keterlibatan oknum itu bisa terjadi karena kelemahan sistem," ujar dia.
 
Buwas mengatakan kejahatan Narkotika yang ada di Indonesia adalah kejahatan luar biasa. Dia memastikan, 70 persen terpidana yang ada di lapas merupakan terpidana kasus narkoba. 
 
"70 Persen tahanan lapas kasus narkotika. Sisanya korupsi, teroris, dan tindak kriminal biasa," tuturnya.
Terlebih lagi, mereka yang sudah menjadi tahanan dalam lapas, kata Buwas, masih bisa melakukan transaksi peredaran narkotika. "Saya berani nyatakan hari ini peredaran 50 persen narkotika dikendalikan di lapas," ujarnya.
 
Oleh karena itu, dia berharap Menkohum dan dirjen lapas dapat memperbaiki sistem yang ada, untuk bisa mencegah adanya transaksi di dalam lapas.
 
Sel Mewah 
Buwas mengakui fasilitas mewah di dalam sel Lembaga Permasyarakatan (Lapas) akan banyak ditemukan selalin di Lapas Cipinang, termasuk di Nusakambangan.
 
"Saya yakin ada (Lapas Nusakambangan) itu kan sudah ada contoh. Kita temukan di Medan ada, di beberapa tempat iya. Jadi kemungkinan terjadi itu ada," kata Buwas kepada wartawan dikantornya, Cawang, Jakarta Timur, Kamis (15/6).
 
Namun Buwas menegaskan pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk mengecek adanya sel mewah tersebut. Kata mantan Kabareskrim itu, pengungkapan adanya sel mewah sepenuhnya wewenang Dirjen Lapas dan Kepala Lapas.
Buwas mengaku hanya bisa meminta perbaikan sistem yang ada di Lapas saat ini. Menurut Buwas sistem yang ada sekarang belum mampu mengetahui akar permasalahan.
 
"Mungkin sistemnya belum memahami secara keseluruhannya. Belum bisa mencari akar masalahnya, jadi modus operandi oknum itu harus terungkap jelas. Jangan ditutup-tutupi," ungkap Buwas. (rmo/det/tit)
OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>