Kasus Limbah B3 Korsel Ditangani Polda Jatim

Kamis, 16 Juli 2017  18:09

Kasus Limbah B3 Korsel Ditangani Polda Jatim

Polrestabes Surabaya Rilis Limbah B3

SURABAYA (BM) - Penyidikan kasus limbah yang diduga mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3) asal Korea Selatan (Korsel) kini ditangani Polda Jatim.  Satreskrim Polrestabes Surabaya telah melimpahkan kasus ini ke Polda Jatim, akhir pekan kemarin.

Kasus itu sendiri terungkap setelah ditemukannya pembuangan limbah dengan bau menyengat  pada Kamis (13/7) lalu, yang dibuang ke sungai dekat Rusunawa Romokalisari Surabaya. Polisi telah menetapkan tiga tersangka atas kejadian itu.

Pelimpahan kasus ini, kata Shinto, lantaran ada pihak yang diduga terlibat dalam kasus ini di Jakarta. Sehingga supaya penanganan dan kordinasi lebih mudah, maka ditangani Polda Jatim.

"Sejak hari Jumat (14/7/2017) saat awal kami menangani, kami sudah kordinasi dengan Ditreskrimsus (Polda Jatim). Semuanya sudah kami limpahkan," terang Shinto.

Selain berkas perkara, tiga tersangka yang sudah ditetapkan Polretabes Surabaya juga sudah dilimpahkan ke Polda Jatim. Termasuk barang bukti yang sudah disita, seperti empat kontainer, uang tunai Rp 1,1 juta, dokumen pengangkutan, sempel limbah cair dan pasir yang terkontaminasi limbah B3 dan foto-foto para korban dari warga Rusun Romo Kalisari.

Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jatim jugas udah mengambil sampel limbah dan sedang melakukan uji laboratorium. Diharapkan proses uji laboratorum cepat selesai.

"Kami menangani soal lingkungannya, karena dampak dari limbah ini cukup berbahaya. Kami belum tahu apa limbah apa yang dibuang ke sungai dekat Rusun Romo Kalisari," kata Kepala Bidang Penataan Lingkungan DLH Pemprov Jatim, Uda Hari Pancoro.

Dalam kasus ini, polisi menetapkan tiga orang sebagai tersangka, yakni M Faizi alias Faiz(41), asal Bungah, Gresik, Soni Eko Cahyono (38), asal Krembangan, Surabaya dan Hadi Sunaryono (49), asal Kebomas, Gresik.

 

20 Ton Limbah

Untuk diketahui, Polrestabes Surabaya telah mengungkap pembuangan limbah cair masuk kategori bahan berbahaya dan beracun (B3) ke sungai dekat Rusun Romo Kalisari sebanyak 20 ton atau satu kontainer.

Kasat Rerskrim Polretabes Surabaya, AKBP Shinto Silitonga, mengatakan limbah tersebut sesuai keterangan dokumen yang sudah diamankan petugas itu adalah oli bekas. Limbah tersebut dibuang sekitar 200 meter di sungai yang mengalir ke Teluk Lamong, Surabaya.

"Ada 20 ton dari satu kontainer yang sudah dibuang. Barang cair itu impor dari luar negeri (Korea Selatan)," ungkap Shinto kepada wartawan pada Jumat (14/2017).

Limbah oli bekas ada 4 kontainer. Barang tersebut dikirim dari Korsel itu tiba di Pelabuhan Teluk Lamong Surabaya pada 10 Juli 2017.

Selanjutnya kontainer yang berisi limbah itu dibawa dan dititipkan di Depo Peti Kemas PT Indra Jaya Swastika di Jalan Kalianak Surabaya.

Setelah dititipkan di Depo Peti Kemas, selanjutnya satu kontainer dibawa keluar memakai truk L 9166 UV pada Kamis (13/7/2017) malam.

Kontainer itu disopiri Kris Dwi Setiawan (42). Warga asal Tenggumung Wetan, Surabaya ini tidak tahu isi kontainer, karena hanya mendapat pesanan mengantar saja.

"Limbah cair ternyata dibuang dekat permukiman dan berakibat beberapa warga pingsan dan sempat dirawat medis. Sekarang masih ada dua warga yang dirawat di rumah sakit (BDH)," tutur Shinto.

Polisi masih menyelidiki kasus ini, termasuk siapa yang mendatangkan kontainer bersisi limbah ke Surabaya.

 

Impor dari Korsel

Limbah cair diduga Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang dibuang di saluran air di dekat Rusun Romo Kalisari merupakan limbah impor. Limbah cair tersebut diimpor dari Korea Selatan.

"Limbah impor, diimpor dari Kwang Yang, Korea Selatan," ujar Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Shinto Silitonga kepada wartawan di depo Indra Jaya Swastika, Jalan Kalianak 57 A, Jumat (14/7/2017).

Shinto mengatakan, dari informasi yang didapat, limbah tersebut diimpor oleh Sahat Rafelino, warga Perumahan Bumi Citra Fajar, Sidoarjo melalui PT Pasadena Solusindo Sakarto yang beralamat di Jalan Anggrek Raya Tama Alamanda, Bekasi.

Ada empat kontainer 20 kaki yang diimpor yang di dalamnya berisi limbah cair ini. Limbah tersebut dikemas atau ditampung di dalam tandon plastik bervolume 20 ton. Tandon itu mempunyai kran.

"Ada empat kontainer yang diimpor. Kontainer itu tiba di Terminal Teluk Lamong," kata Shinto.

Dari Teluk Lamong, empat kontainer itu diletakkan di depo Indra Jaya Swastika di Jalan Kalianak 57 A. Dari depo itulah satu kontainer limbah keluar untuk dibuang di saluran air di dekat Rusun Romo Kalisari. Limbah itu dikirim menggunakan jasa perusahaan transportasi PT Pasific Trans

Polisi masih terus melakukan penyelidikan terhadap kasus ini termasuk kapan empat kontainer limbah itu datang dan sudah berapa lama berada di depo. Polisi sendiri sudah menyelidiki nama Rafelino yang menjadi pengimpor limbah itu.

"Kami menduga nama Rafelino ini fiktif karena tak ada nama itu di alamat tersebut. Kalau untuk perusahaannya kami belum melangkah ke sana," tandas Shinto. (tri/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>