Lurah Buring Terbitkan Surat Palsu

Rabu, 29 November 2017  23:18

Lurah Buring Terbitkan Surat Palsu

Lurah Buring,Drs.Agus Riwahyudi saat memberikan keterangan sebagai saksi

MALANG (BM) – Sidang  lanjutan dugaan penipuan dan penggelapan dengan terdakwa Nanik Indrawati alias Suparmi (53) di Pengadilan Negeri (PN) Kota Malang, berlangsung Rabu (28/11). Dalam persidangan, majelis hakim yang diketuai Isnurul Syamsul Arif SH M.Hum serta Jaksa Penuntut Umum (JPU),Suhartono,SH ,menghadirkan 4 saksi yakni,Lurah Buring,Drs.Agus Riwahyudi, Zainal  Arifin selaku perantara dan Sutrisno yang merupakan pengukur tanah serta Irma akunting PT.Sapta Tunggal Surya Abadi (STSA).

Dalam keterangan  Drs.Agus Riwahyudi didepan majelis hakim, terungkap bahwa tanah milik Dulrohim yang dibeli oleh PT Sapta Tunggal Surya Abadi (STSA) sesuai dengan letter C hanya seluas 8.570 meter persegi. Namun dalam surat keterangan yang dikeluarkan oleh Lurah Buring Drs Agus Riwahyudi ,tanah tersebut seluas 13.151 meter persegi. Tentunya surat keterangan tersebut cukup fatal dalam kasus ini. Karena surat keterangan pengukuran tanah itulah yang digunakan untuk pengajuan dana pembebasan tanah di PT STSA sebesar Rp 4,7 miliar oleh Nanik Indrawati alias Suparmi mantan Kasir PT.STSA tersebut kepada Direksi.

Agus Riwahyudi, dalam persidangan sempat membuat majelis hakim kecewa. Bahkan majelis hakim sempat menanyakan dibayar berapakah Agus oleh almarhum Elang hingga membuat surat keterangan tersebut. Sebab sebagai pejabat publik, tidak seharusnya Agus membuat surat keterangan tanpa melakukan pengukuran. “ Kok berani merubah keterangan dengan selisih yang besar. Letter C hanya seluas 8.570 meter namun dari keterangan yang dikeluarkan seluas 13.151 meter. Itu kan selisihnya besar sekali. Apa tahu akibat dari dikeluarkannya surat ini. Dibayar berapa sama Elang?,” kata Isnurul Syamsul SH,MHum dalam persidangan.

Mendapat pertanyaan begitu, Agus Riwahyudi mengaku bahwa dia tidak ikut mengukur luas tanah tersebut. “Saya hanya diminta oleh almarhum Elang untuk membuat surat itu. Elang lah yang menyerahkan data ukuran tanah. Dalam membuat surat tersebut saya tidak mendapat uang,” jawab Agus Riwahyudi sembari menundukan kepala.

Dia menjelaskan bahwa tidak mendapat uang dalam membuat surat tersebut, namun dirinya mendapat uang dalam pelepasan tanah seluas 8.570 meter. “Saya dapat uang Rp 53 juta. Uang itu untuk saya pribadi sebagai uang pelepasan tanah,” tuturnya.

Sementara itu,Gunadi Handoko SH MM M Hum kuasa hukum Nanik, usai persidangan mengatakan bahwa Lurah Agus menulis luas tanah 13.151 meter atas permintaan almarhum Elang. “Itu kan permintaan almarhum Elang. Tadi pak Lurah ditegur oleh majelis hakim karena bisa menjadi persoalan hukum. Jadi bisa dilihat disini yang berperan adalah Elang bukan Nanik. Tadi yang mengherankan juga, Sutrisno tim ukur dari Surabaya, dalam pengukuran tidak mengikuti proses pengukuran. Namun dia di lokasi dan tanda tangan. Dari keterangan saksi-saksi bahwa Nanik tidak berhubungan dengan pihak luar. Dia hanya kasir, semua keterangan mengarah kepada Elang. Tidak benar Nanik sebagai ketua Tim pembebasan lahan,” beber Gunadi Handoko.

Sementara itu Direktur PT STSA, Adji Prajitno didampingi Manager PT.STSA Hani Irwanto usai persidangan mengatakan bahwa Nanik adalah tim pembebasan lahan. “Bahkan sebelum Elang meninggal, dia mengatakan bahwa yang menyuruh adalah Nanik. Begitu juga saat membuat keterangan di Lurah Buring. Elang mengatakan Nanik yang menyuruhnya. Sebab Naniklah ketua Tim pembebasan lahan itu. Kami akan menutut keadilan. Kalau masalah utang piutang kenapa uang perusahaan yang digunakan. Nanik mentranfer ke Risa sebesar Rp 2 miliar yang disebut sebagai utang almarhum Elang ke Saiman. Keterangan Erma salah kalau menyebut Nanik hanya kasir. Karena yang memecati beberapa karyawan termasuk security adalah bu Nanik. Setelah JM lama risent ya Nanik yang berwenang. Saya tanya kembali kalau dia hanya kasir bisa memecat security dan driver,” ujar Adji Prajitno.

Diberitakan sebelumnya, Nanik Indrawati alias Suparmi telah dilaporkan oleh Ajdi Prajitno selaku Direktur PT STSA. terkait kasus dugaan penipuan dan penggelapan dalam jabatan,yakni mark up uang pembelian tanah di Buring hingga perusahaan merugi sebesar Rp 2 miliar. Bahkan atas laporan itu, Nanik telah ditetapkan sebagai tersangka.. Nanik didakwa Pasal 374 KUHP jo 55 ayat 1 ke 1, Subsider Pasal 374 KUHP Junto 56 KUHP, atau Pasal 378 KUHP.(lil/dra).

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>