Mitos Tari Putri Jawi-Candi Jawi, Ini kata Penggagas KBP

Senin, 28 Januari 2019  09:58

Mitos Tari Putri Jawi-Candi Jawi, Ini kata Penggagas KBP

Penggagas Kampung Budaya Polowijen

MALANG (BM) - Penggagas Kampung Budaya Polowijen Isa Wahyudi berpandangan cerita tentang Tari Putri Jawi diambil dari mitos dan legenda putri Jawi yang ada di sekitar Candi Jawi. Cerita Putri Jawi ini mengisahkan tentang salah seorang putri dari kerajaan Majapahit yang lari dari kerajaan karena dilamar oleh seorang Adipati Blambangan yaitu Kebo Suwayuwo. 
 
"Meskipun seorang putri raja, tapi karena keteguhan hati dan kesetiaan akan janjinya, maka dia rela meninggalkan kemewahan hidup demi ketentraman lahir batinnya," kata Ki Demang di Polowijen, Kec. Blimbing, Kota Malang, Senin (28/01).
 
Isa Wahyudi yang beken disapa Ki Demang mengungkapkan Candi Jawi sebenarnya bukan sebagai tempat persembahan dan peribadatan saja. Candi Jawi sejatinya merupakan tempat penyimpanan abu dari raja terakhir kerajaan Singasari, Raja Kertanegara dan sebagian abunya disimpan di Candi Singasari. 
 
"Baik Candi Jawi maupun Candi Singasari memiliki hubungan dengan Candi Jago, sebagai tempat ibadah Raja Kertanegara," imbuhnya. 
 
Dia menambahkan dibangunnya Candi Jawi pada waktu itu, merupakan wilayah dimana banyak masyarakat yang mendukung dan setia kepada Raja Kertanegara. Di wilayah tersebut juga banyak masyarakat yang menganut agama Buddha-Siwa. 
 
Meskipun Raja Kertanegara diketahui sebagai raja yang mahsyur, namun beliau memiliki banyak musuh di bawah kepemimpinannya. Misalnya yang dituliskan dalam Kidung Panji Wijayakrama tentang pemberontakan Kelana Bayangkara. Dalam Negarakartagama juga disinggung mengenai pemberontakan Cayaraja. 
 
Selain itu, lanjut ia, Candi Jawi diduga digunakan sebagai basis pertahanan oleh pendukung Raja Kertanegara dari para musuh dan pemberontak. Dugaan tersebut timbul dari cerita mengenai Dyah Wijaya yang dikenal sebagai menantu Raja Kertanegara.
 
"Ia bersembunyi di kawasan Candi Jawi saat terjadi kudeta yang dilakukan oleh Jayakatwang di Gelang Gelang, Kediri," ujarnya.
 
Ada sebuah mitos yang tersebar di masyarakat sekitar Candi Jawi, yaitu pemuda Desa Suwayuwo tidak boleh menikahi gadis dari Desa Jawi. Jika itu terjadi maka kesialan akan menghampiri. Menurut Ki Demang, mitos tersebut berasal dari legenda mengenai kisah cinta antara seorang putri yang cantik bernama Putri Jawi dengan pengawalnya bernama Kebo Suwayuwo. 
 
"Dalam pengawalannya, Kebo Suwayuwo jatuh cinta pada sang putri tetapi cintanya bertepuk sebelah tangan," tandasnya. 
 
Dikatakan ia, Putri Jawi menolak perasaan cinta Kebo Suwayono, kemudian melarikan diri untuk menjauh dari Kebo Suwayono. Dalam pelariannya, terjadi saling kejar mengejar, Putri Jawi meminta tolong kepada pasukan Majapahit untuk menghentikan langkah Kebo Suyawon. 
 
Terjadilah perlawanan antara Kebo Suwayono dengan Ki Ageng Pandak. Sayangnya, Ki Ageng Pandak meninggal akibat tusukan keris Kebo Suyowono. Sebelum meninggal, Ki Ageng Pandak berpesan menganjurkan Putri Jawi untuk menerima lamaran Kebo Suyowono tetapi untuk ditipu.
 
"Putri Jawi akhirnya menerima lamaran Kebo Suyowono dengan satu syarat, Kebo Suyowono harus mencarikan air yang bening untuk Putri Jawi. Dengan sigap Kebo menggali sumur demi memenuhi permintaan Putri Jawi. Ketika Kebo tengah asyik menggali, ia didorong masuk ke dalam sumur dan dikubur oleh pasukan dari Majapahit," pungkasnya. (ahe)
OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>