Proyek Long Storage Didemo Warga

Senin, 12 Februari 2018  23:28

Proyek Long Storage Didemo Warga

Ratusan warga dari Desa Kwatu Kecamatan Mojoanyar yang terdiri ibu2, anak2 dan pemuda melakukan aksi demo di lokasi proyek

Mojokerto(BM)-Ratusan warga Desa Kwatu, Kecamatan Mojoanyar, Mojokerto menggelar aksi unjuk rasa yang dilakukan untuk memprotes pembangunan bendungan senilai Rp 336 miliar, karena dinilai merugikan warga sekitar, memutus akses jalan utama dan merusak saluran irigasi.

Informasi yang diperoleh, PT Rudi Jaya selaku kontraktor proyek akhirnya bersedia menemui perwakilan warga untuk melakukan audiensi yang difasilitasi pihak kepolisian. Ibnu Ghofur dari perwakilan PT Rudi Jaya mengatakan bahwa PT Rudi jaya hanya sebagai pelaksana proyek pembuatan bendungan yang anggarannya dari APBN sebesar Rp 326 miliar. Soal tuntutan warga, kata Ghofur, pihaknya akan memenuhi semuanya mulai dari pembuatan jembatan, Pembenahan Irigasi, serta keinginan warga untuk mengelola limbah pasir.

 “Semua keinginan warga akan kami penuhi, termasuk soal limbah pasir nanti akan kita taruh di lapangan desa kwatu, tapi khusus soal tanah kas desa itu bukan kewenangan kami,” ungkapnya. Sebagai informasi, pembangunan proyek Long Storage (bendungan) ini ditarget selesai tahun 2019. Lokasinya berada di dua wilayah yakni Mojokerto dan Sidoarjo serta membentang di tujuh desa di empat kecamatan.

Di Kabupaten Sidoarjo berada di Desa Tarik, Bender, Bocok dan Mlirip, Kecamatan Prambon dan Kecamatan Tarik. Sedangkan di Kabupaten Mojokerto berada di Desa Kwatu, Leminggir dan Nimbangan masuk di Kecamatan Mojoanyar dan Kecamatan Mojosari. Tak hanya kaum pria, ibu rumah tangga dan anak-anak juga ikut dalam aksi ini. Puluhan polisi dan TNI terlihat mengawal aksi warga. Aksi ratusan warga ini membuat aktivitas di dalam proyek long storage, terhenti.
Salah seorang warga Desa Kwatu Warga Muhammad Vikos mengatakan, jalan desa terputus oleh aktivitas proyek waduk sejak 3 pekan yang lalu. Jalan yang sebelumnya mulus, kini ada kubangan kedalaman sekitar 5 meter dengan panjang sekitar 10 meter. Padahal, jalan ini menjadi akses utama warga Desa Kwatu dan sekitarnya menuju ke Kecamatan Tarik, Sidoarjo. "Perekonomian kami drop akibat jalan terputus, kami tak bisa membeli kebutuhan pokok. Hendak ke Sidoarjo, kami harus memutar lewat Dam Gayu (untuk sepeda motor). Kalau mobil harus memutar lewat Prambon (Sidoarjo) sejauh sekitar 10 Km," kata Vikos, Senin (12/2).

Koordinator aksi warga yang juga Kepala Desa Kwatu Mohamad Chosim menjelaskan, pihaknya menyesalkan sikap PT Nindya Karya Wilayah IV yang menggarap proyek sejak tahun 2016 tanpa melakukan sosialisasi ke warga. Selain masalah terputusnya akses transportasi, juga terdapat sejumlah masalah yang memicu protes warga terhadap proyek waduk. Menurutnya, warga menuntut ada tukar guling terhadap Tanah Kas Desa (TKD) yang sudah dipakai untuk proyek maupun yang akan digarap. Luas total TKD yang akan digunakan waduk, kata Chosim, mencapai 6 hektare. Dari jumlah itu, 0,5 hektare kini sudah digunakan PT Nindya Karya Wilayah IV, pelaksana proyek waduk untuk penampungan sedimen lumpur.

"Harusnya kalau TKD ada tukar guling, sesuai Perpres No 71 tahun 2012 dan Permendagri No 1 tahun 2016 tentang Pengelolaan Aset, dicarikan pengganti di desa yang sama, atau desa lain terdekat. Selama ini semuanya tak dilakukan. Kami tanya ke kabupaten juga tak ada tanggapan," terangnya.

Tak hanya itu, lanjut Chosim, warga juga meminta limbah pasir di proyek waduk untuk dikelola oleh warga. Menurutnya, selama ini limbah pasir dikeruk sendiri oleh pelaksana proyek untuk dijual. Pihaknya berharap limbah pasir diserahkan ke warga untuk membangun masjid dan lapangan olahraga."Limbah pasir harusnya menjadi hak masyarakat, namun dibawa pelaksana. Juga terkait sewa kantor yang tak dibayar oleh PT Nindya Karya, tak selayaknya perusahaan besar menunggak sewa selama 2 tahun sampai Rp 40 juta," ungkapnya.(nan/dra)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>