5 Ribu Orang Belum Ditemukan

Rabu, 07 Oktober 2018  17:48

5 Ribu Orang Belum Ditemukan

Prajurit TNI dan tentara AS ‘gotong royong’ mendistribusikan bantuan logistik di Bandara Mutiara Sis Al-Jufri, Palu.

PALU (BM) – Proses evakuasi dan pencarian korban gempa dan tsunami menerjang Palu, Sigi, dan Donggala di Sulawesi Tengah masih terus dilakukan. Satgas Yonzipur-8/SMG Kodam XIV/Hasanuddin di bawah pimpinan Komandan SSK Kapten Czi Basor Hermawan, melakukan evakuasi di lokasi gereja GPI dengan menggunakan alat peralatan seadanya pada Sabtu (6/10).

Tak disangka, mereka menemukan satu buah brankas milik GPI  yang berisikan sertifikat gereja, dokumen penting lainnya serta uang tunai senilai lebih dari Rp 1 miliar.

Saat dikonfirmasi dengan pihak gereja, dalam hal ini Pendeta Geraja GPI Wilson Wetzler Lampie (44) membenarkan bahwa brankas tersebut milik gereja GPI.

Pendeta Wilson sangat mengapresiasi upaya yang dilakukan oleh Satgas Yonzipur-8/SMG.

"Terima kasih kepada Satgas TNI yang telah bekerja tanpa kenal waktu, kami bersyukur dana umat yang terkumpul dapat diselamatkan untuk membangun kembali Gereja kami yang sudah hancur," ujar Pendeta Wilson.

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sudah 1.763 orang meninggal dunia akibat gempa dan tsunami yang menerjang Kota Palu, Kabupaten Donggala, dan Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Selain itu BNPB juga mencatat ada 2.632 orang yang mengalami luka berat.

Data tersebut diperbaharui BNPB pada Minggu (7/10/2018) pukul 13.00 WIB. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam presentasinya mengungkapkan, 1.763 korban meninggal tersebut terbanyak berasal dari Kota Palu.

"Kota Palu 1.519 orang, Donggala 159 orang, Sigi 69 orang," papar Sutopo dalam presentasinya di Kantor BNPB, Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Minggu (7/10).

Sutopo melanjutkan, dari 1.763 korban meninggal, sudah 1.755 jenazah yang sudah dimakamkan. Jenazah dimakamkan secara massal di taman pemakaman umum (TPU) Paboya sebanyak 753 jenazah, TPU Pantoloan sebanyak 35 jenazah.

Selin itu, ada juga sejumlah jenazah yang tidak dikuburkan secara massal. "Pemakaman keluarga 923 jenazah, Donggala 35 jenazah, Biromaru 8 jenazah, dan Pasangkayu 1 jenazah," katanya.

Sebanyak 2.632 korban luka berat hingga kini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Sementara itu, ada 62.359 orang pengungsi yang tersebar di 147 titik posko pengungsian.

"Korban hilang 265 orang. Korban tertimbun 152 orang," tuturnya.

 

Dihentikan 11 Oktober

Pencarian korban akan dihentikan pada 10 Oktober 2018 mendatang.  "Disampaikan bahwa evakuasi korban, bukan evakuasi masyarakat yang ingin keluar dari Palu ya, akan berhenti tanggal 11 Oktober 2018. Kalau tidak ditemukan, ya dinyatakan sebagai hilang," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho saat jumpa pers di kantor BNPB, Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Minggu (7/10/2018).

Sutopo menjelaskan, selain 1.763 korban tewas, puluhan ribu rumah dinyatakan rusak. Setidaknya ada 66.926 rumah rusak dan 2.736 unit sekolah rusak.

"Evakuasi masyarakat yang keluar dari Palu, total sudah 8.110 jiwa mereka meninggalkan kota palu untuk nenuju ke Makassar, Balikpapan, Manado, dan Jakarta. Menggunakan pesawat 6.157 orang dan jalur laut 1.913 orang," tutur Sutopo.

Sementara itu hari ini aktivitas masyarakat di Kota Palu, Sulawesi Tengah mulai berangsur normal pasca gempa bumi dan tsunami yang terjadi pada Jumat (28/9) lalu. Kegiatan perekonomian warga pun mulai berjalan kembali.

Pantauan di Kota Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (7/10) pagi, warga sudah mulai keluar rumah untuk melakukan berbagai aktivitas. Jalan-jalan sudah mulai ramai, dan warung makan sudah mulai buka.

"Hari ini kayaknya sudah tenang. Kami sudah mulai keluar rumah karena sebelumnya tidak berani," kata salah seorang warga, Hidayah (27) saat ditemui.

 

5.000 Orang

Sutopo Purwo Nugroho menyebut pihaknya menerima laporan sekitar 5.000 orang belum ditemukan pascagempa dan tsunami di Palu dan Donggala. "Laporan dari kepala desa, terdapat 5.000 orang yang belum ditemukan," ujar Sutopo di kantor BNPB, Jakarta Timur, Minggu (7/10).

Sutopo memastikan petugas penanggulangan bencana masih akan terus melakukan pencarian terhadap para korban.

"Petugas masih terus melakukan konfirmasi, pendataan, memang tidak mudah untuk mendata berapa pasti korban yang tertimbun oleh material longsoran maupun likuifaksi lumpur, dan evakuasi terus dilakukan," kata dia.

Menurut Sutopo, pihaknya akan menghentikan status tanggap darurat Palu-Donggala pada 11 Oktober 2018. Jika sudah tak ditemukan korban pada tanggal tersebut, maka akan dinyatakan hilang.

"Ditargetkan tanggal 11 Oktober evakuasi selesai dilakukan. Sehingga jika tidak ditemukan, biasanya dalam penanganan bencana, kalau korban tidak ditemukan, apalagi tanggal 11 itu sudah dua minggu, sehingga dalam hal ini dinyatakan hilang," kata dia. (rmo/mer/det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>