AHY, Yenny dan 8 Kepala Daerah Gelar Pertemuan Tertutup

Rabu, 15 Mei 2019  20:52

AHY, Yenny dan 8 Kepala Daerah Gelar Pertemuan Tertutup

BOGOR (BM) -  Delapan kepala daerah melakukan pertemuan bertajuk 'Silaturahmi Bogor untuk Indonesia', di Museum Kepresidenan Balai Kirti, Kompleks Istana Kepresidenan Bogor, Kota Bogor, Rabu (15/5/2019). Pertemuan yang berlangsung tertutup itu juga dihadiri AHY dan Yenny Wahid.

Delapan kepala daerah yang hadir antara lain, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur NTB Zulkieflimansyah, Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah.

Selanjutnya Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, Bupati Banyuwangi Azwar Anas, Wali Kota Tanggerang Selatan Airin Rachmi Diany, dan Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto. Hanya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang diundang namun tidak menghadiri pertemuan tersebut.

Selain kepala daerah, hadir juga dua tokoh muda sekaligus anak mantan Presiden RI yakni Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid dan Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute, Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY.

Bima Arya selaku penggagas acara mengatakan, ada dua sahabatnya yang tidak bisa hadir dalam pertemuan tersebut.

"Ada dua sahabat yang tidak bisa hadir, pertama Anies Baswedan yang saat-saat terakhir harus menghadiri acara di Pemprov Jakarta sehingga titip salam pada kita semua. Kedua Ilham Habibie, insyaallah akan bertemu di kesempatan berikutnya. Bu Khofifah juga titip salam," ujar Bima.

Politikus Partai Amanat Nasional itu menuturkan, banyak hal yang akan dibahas dalam pertemuan yang digelar dalam suasana pertemanan tersebut. Meski suasana santai, ada hal besar yang ingin dibangun dari pertemuan itu.

"Kami ingin membangun komunikasi, menguatkan kebersamaan. Kita punya tanggung jawab untuk menjaga kebersamaan dan seperti apa bangsa ini ke depannya," ujar Bima.

Namun hasil pembicaraan baru akan disampaikan kepada awak media dalam konferensi pers. "Kami ngobrol tertutup. Setelah itu kami akan menyampaikan dalam konferensi pers," kata dia.

Setelah sesi foto bersama, mereka menuju ruang perpustakaan. Telah disediakan kursi dalam satu meja untuk mereka berbincang.

Selain 9 kepala daerah, ada dua tokoh, yakni AHY dan Yenny Wahid, yang diisukan berada di pusaran menteri Jokowi. Apakah pertemuan ini terkait dengan dukungan tokoh-tokoh muda itu ke Jokowi?

"Saya kira nggak ada dukung-mendukung ke situ. Kita punya tanggung jawab untuk menjaga kebersamaan ini seperti apa bangsa ini ke depan kan tidak berhenti di Pemilu," pungkasnya.

 

Jaga Kedamaian

Silaturahmi beberapa kepala daerah dan tokoh nasional menghasilkan kesepakatan untuk menjaga perdamaian sampai penetapan hasil pemilu. Mereka komitmen untuk meminimalisir kemungkinan konflik dan perpecahan.

"Pertama, kami semua hari ini dipersatukan oleh satu hal yang penting, kita cinta Indonesia dan kita cinta perdamaian. Kita ingin Indonesia damai. Seluruh pembicaraan tadi diwarnai energi yang sangat positif dan optimis bangun Indonesia dengan damai, cara kebersamaan dengan bangun komunikasi," ucap Wali Kota Bogor Bima Arya kepada wartawan usai pembicaraan tertutup dengan kepala daerah dan tokoh di Museum Kepresidenan Balai Kirti, Komplek Istana Bogor, Rabu (15/5/2019).

Mereka akan menyerahkan soal Pemilu 2019 kepada lembaga berwenang. Sesuai dengan peraturan yang berlaku di Indonesia.

"Kedua, kita diskusi kondisi tanah air pasca-pilpres. Semangat kita sama. Bagaimana agar proses yang ada kita hormati kita berikan tempat pada koridor hukum, sembari komunikasi satu sama lain pererat silaturahmi," kata Bima.

Mereka bersepakat untuk membangun pendidikan politik kepada masyarakat. Khususnya mengajarkan demokrasi yang sehat.

"Tiga, kita bangun gagasan ke depan gagasan kebangsaan, membangun nation building. Banyak gagasan bagaimana perlu edukasi rakyat agar semua siap demokrasi secara sehat. Banyak gagasan ide ke depan, saling silaturahmi, perluas semangat ini bukan hanya dibatasi konteks politik," ucap Bima.

"Kita akan keliling Indonesia tebar harapan Indonesia insyaallah lebih baik dan jaya pada saatnya," kata Bima.

Para kepala daerah mengajak masyarakat untuk menghormati hukum dan konstitusi. Mereka juga mengajak masyarakat untuk ikut berperan mencegah perpecahan.

"Selama hari jelang 22 Mei. Terus kokoh kan kebersamaan minimalisir ruang timbulkan perpecahan. Kita sepakat mari berikan ruang terhormat pada proses hukum. Kita menunggu proses berjalan sesuai konstitusi sehingga 22 Mei kita hormati sebagai proses konstitusi kalau ada yang berbeda harus serahkan ke proses hukum yang berlaku di Indonesia," ucap Bima.

Di kesempatan itu, Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyampaikan rumusan dan strategi perdamaian menjelang pengumuman hasil Pemilihan Presiden (Pilpres) 22 Mei 2019.

"Ternyata sampai hari ini, perselisihan karena beda pilihan masih berlarut, pertanyaannya sampai kapan? Mudah-mudahan kebersamaan kami menginspirasi generasi muda khususnya yang juga aktif dalam proses politik," kata AHY usai rapat tertutup bersama delapan kepala daerah dan Direktur Wahid Foundation Yanny Wahid.

Menurut AHY, momentum bulan Ramadhan ini harus digunakan masyarakat Indonesia sebagai momentum untuk meredakan ketegangan pasca pemilihan, sembari menunggu hasilnya pada 22 Mei 2019.

"Jangan sampai perbedaan identitas di antara kita membuat negara kita semakin terpecah, justru perbedaan itu kekuatan bangsa ini. Semoga kita semua semakin dewasa dan bijaksana. Kita tunggu hasil," ujarnya.(det/oke/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>