Aksi Demo Memanas, Massa Aksi: Saya Mau Perang!
Bus Polisi terbakar
By: admin
22 Mei 2019 20:13
 
 

Korban Tewas 6 Orang, Belasan Mobil Dibakar

JAKARTA (BM) Aksi massa yang terjadi di beberapa lokasi di Jakarta masih terus berlangsung. Aksi yang sudah berlangsung sejak Selasa (21/5) itu, beberapa kali terjadi bentrok antara aparat keamanan dengan peserta aksi.

Pada Rabu (22/5), kerusuhan pecah lagi di depan kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI di Jalan MH Thamrin. Massa aksi memprovokasi polisi dengan melemparkan kayu, botol kaca, dan batu.

Massa demonstran yang tergabung dalam Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat (GNKR) pun mulai bergerak hingga ke Jalan Sabang.

Pantauan di lokasi, massa di Jalan Sabang yang terdiri dari pria dan perempuan mulai berteriak serta membentangkan berbagai bendera. "Menang pak, menang. Insyaallah," teriak seorang emak-emak berhijab hitam di Jalan Sabang.

Ada pula terlihat seorang pria dewasa sedang menelepon dengan smartphone dan berbicara tak biasa. "Saya mau perang," ucap pria itu di tengah jalan.

"Allahu akbar!" teriak mereka.

Rusuh di Flyover Slipi!

Kerusuhan di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, merembet ke lokasi lain. Di flyover Slipi, Jakarta Barat, ada massa yang merusuh.

"Iya ini ada massa yang buat rusuh, masih kami tangani," kata Kapolres Jakarta Barat Kombes Hengki Haryadi, Rabu (22/5/2019).

Hengki mengatakan pihaknya saat ini masih mengamankan massa. Hengki menyebut massa bukan dari Jakarta. "Ini massa dari daerah dan bukan santri," kata Hengki.

Hengki mengatakan massa menyerang petugas ketika dihadang di Jalan KS Tubun, Jakarta Barat. Massa mencoba ke Bawaslu, kemudian menyerang petugas dengan beberapa barang berbahaya.

"Ada yang lempar pakai batu, segala macam," imbuh Hengki.

Sebanyak dua bus milik Korps Brimob Polda Metro Jaya dibakar massa di samping Jembatan Slipi Jaya, ujung selatan Jalan Brigjen Katamso, Slipi, Jakarta Barat, Rabu, sekitar pukul 12.00 WIB.

Selain itu, sebanyak tiga bus dan satu mobil lainnya milik Brimob Polda Metro Jaya juga rusak berat akibat dilempari batu oleh massa.

Sebagaimana dilansir Antara, Rabu (23/5/2019), kejadian tersebut terpantau usai Komandan Korem 052/ Wijayakrama (Wkr) Kolonel Kav Agustinus Purboyo berusaha menenangkan massa yang masih berkerumun di depan gedung Wisma 77 Tower 2.

Setelah sepuluh menit terbakar, sejumlah pasukan Korps Pasukan Khas (Paskhas) TNI Angkatan Udara (AU) dengan dibantu petugas keamanan gedung Wisma 77 berusaha memadamkan api yang membakar dua bus tersebut.

Usai padam, petugas kepolisian berhasil mengevakuasi tiga bus dan satu mobil yang rusak dan tidak ikut terbakar.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan 200 orang luka-luka buntut kericuhan demo Bawaslu Selasa (21/5) malam. Sebanyak 6 orang tewas akibat peristiwa tersebut.

"Ini per jam 09.00 WIB. Jadi ada sekitar 200-an orang luka-luka," ujar Anies di RSUD Tarakan, Jakarta Pusat, Rabu (22/5/2019).

Anies mendatangi RSUD Tarakan untuk menjenguk orang-orang yang terluka akibat ricuh demo di sekitar kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, yang terjadi sejak semalam.

Ia memastikan ada korban meninggal akibat peristiwa itu. "Per jam 09.00 dan ada 6 tercatat meninggal," sebut Anies.

Massa Setingan

Sementara itu, Polri menyebut kerusuhan dekat Bawaslu dan Jl KS Tubun pada 22 Mei dini hari diduga terorganisir. Polisi menyita sejumlah bukti seperti batu-batu juga amplop berisi duit yang ditemukan setelah mengamankan massa.

"Saya menyampaikan bahwa dari rangkaian tadi bahwa peristiwa dini hari tadi bukan massa spontan, bukan massa spontan bukan peristiwa spontan, tapi perstiwa by design peristiwa settingan," ujar Kadiv Humas Polri Irjen M Iqbal dalam jumpa pers di kantor Kemenko Polhukam, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (22/5/2019).

Polri menyebut kericuhan terjadi di sejumlah lokasi yakni Jl Wahid Hasyim, Jl Sabang dan Jl KS Tubun. Kericuhan bermula dari gesekan massa di depan kantor Bawaslu pada Selasa (21/5) malam.

"Sekitar pukul 23.00 WIB tiba-tiba ada massa, massa kita tidak tahu massa itu dari mana. Massa yang berulah anarkis, provokatif berusaha merusak sekuriti barrier dan memprovokasi petugas. Sesuai dengan SOP tidak boleh lagi ada massa aksi sangat larut malam petugas menghalau dengan mekanisme yang ada," ujar Iqbal.

Massa ini ditegaskan M Iqbal berbeda dengan massa yang mulanya menggelar aksi di depan Bawaslu, Selasa (21/5). Sebab massa yang berdemo di depan Bawaslu sudah membubarkan diri sekitar pukul 21.00 WIB.

Kadiv Humas Polri Irjen Mohammad Iqbal mengatakan ada kelompok massa di luar pendemo Bawaslu yang beraksi menjelang sahur. Padahal, massa yang berdemo di Bawaslu disebutnya sudah berhasil diurai aparat.

"Sewaktu pendorongan, massa tersebut pecah menjadi dua, ada yang ke arah Sabang, ada yang ke arah diduga ke beberapa gang-gang kecil, ke beberapa gang-gang kecil, dan sekira pukul 02.45 WIB, ada sekelompok massa lagi yang lain daripada massa tadi. Massa yang tadi sudah terurai oleh petugas," kata M Iqbal di Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Rabu (22/5/2019).

"Dugaan sementara, mayoritas massa tersebut dari luar Jakarta, mayoritas dan kita menemukan beberapa indikasi, nanti saya sampaikan, ada indikasi-indikasi," ucap Iqbal.

"Pada saat bersamaan, pada pukul 03.00 WIB tersebut, ada lebih kurang 200 massa yang berkumpul di KS Tubun. Memang kita massa banyak, kalau kita duga massa tersebut sudah dipersiapkan dan disetting," ucap Iqbal.

Dibantu oleh beberapa tokoh masyarakat pemuka Front Pembela Islam (FPI), polisi terus berusaha meredakan aksi massa ini. Namun, kelompok massa justru menyerang asrama Polri dengan batu, bom molotov, petasan dan botol.

Dari aksi massa ini, diketahui orang-orang dari bagian kelompok massa mengalami luka-luka. Di satu sisi, beberapa kendaraan dilaporkan rusak.

"Mobil yang rusak 11 unit, dengan kerusakan bervariasi kaca depan bodi dan lain-lain, dan mobil yang terbakar 14 unit, truk dalmas satu, tiga mobil dinas K-9, dan 11 unit mobil umum," imbuh Iqbal. (det/idn/tit)


Create Account



Log In Your Account