Amien Rais Ungkap 'The Untold Story'

Senin, 21 Mei 2018  20:04

Amien Rais Ungkap 'The Untold Story'

Ketua MPR Zulkifli Hasan, senior PAN Amien Rais, dan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah dalam seminar 20 tahun reformasi.

Jakarta (BM) – Sejumlah elemen massa melakukan berbagai aksi dalam rangka memperingati 2o tahun reformasi. Tak terkecuali Eks Ketua MPR Amien Rais yang merupakan tokoh gerakan reformasi, yang memilih menghadiri seminar di Gedung DPR RI dengan berbagi cerita kepada sejumlah tokoh dan generasi bangsa.

Ia menceritakan pengalamannya saat reformasi bergejolak. Amien mengungkap cerita yang disebutnya tak pernah dikorankan.  "Ada yang menarik. Dua hari setelah Pak Harto lengser, beberapa dokter yang meng-handle Pak Harto ingin ketemu saya, kemudian ketemu di PP Muhammadiyah, ini nggak ada di koran, ini inside information" ujar Amien di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (21/5/2018).

Amien mengatakan dokter Soeharto itu lalu menceritakan kepadanya bahwa pada 20 Mei malam, Soeharto sebenarnya ingin menyatakan lengser. Namun tak ada satu pun menteri yang menemaninya.

"(Tanggal) 20 Mei malam itu Pak Harto akan pidato lengser, cuma tidak ada satu menteri pun yang masih mendampingi Pak Harto kecuali Saadillah Mursjid (kala itu menjabat sebagai Mensesneg). Itu watak manusia," ujarnya.

"Jadi, ketika Pak Harto jaya, semua berkerumun. Begitu beliau mau step down, tinggal makhluk atau hamba Allah yang bernama Saadillah Ini," jelas Amien.

Menurut Amien, cerita Soeharto itu dapat dijadikan pelajaran. "Jadi hati-hati Anda kalau punya table friends. Begitu Anda pesta, senang, muji-muji. Begitu (Anda) susah, (mereka) hilang," ucapnya.

Pada 19 Mei, Amien mengaku ditelepon seseorang dari Mabes TNI. Jenderal bintang dua itu, disebut Amien, meminta perayaan pesta reformasi 20 Mei dibatalkan saja.

"Sebelumnya, 19 malam saya ditelepon dari Cilangkap, saya lupa namanya. 'Pak Amien Rais, saya Mayjen siapa', saya lupa namanya. 'Pak Amien, tolong 20 Mei yang akan dijadikan syukuran reformasi di Monas, itu tolong dibatalkan karena kami sudah berketetapan akan membubarkan kumpulan massa itu sekalipun peristiwa Tiananmen Square itu akan terjadi," sebut Amien.

Singkat cerita, Soeharto menyatakan lengser pada 21 Mei 1998.

Sementara itu, Ketua MPR Zulkifli Hasan memiliki catatan tersendiri terkait 20 tahun reformasi. "Di MPR kami punya catatan. Pertama, ketimpangan antara kaya dan miskin. Padahal tujuan reformasi, keadilan kesejahteraan bersama," ujar Zulkifli di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (21/5/2018).

Zulkifli juga menyoroti soal perpecahan bangsa. Dia menyinggung kebijakan Kementerian Agama yang merekomendasikan 200 nama dai.

"Diskusi kami di MPR sekarang ini demokrasi Pancasila, demokrasi kesetaraan itu menghasilkan social distrust, politik pecah-belah. Kemarin Kementerian Agama rekomendasi 200 ustaz, ngawur itu, blunder besar. Itu politik belah bambu, yang lain dipijak. Itulah, Kemenag harus minta maaf," kata dia.

Zulkifli juga menyoroti sistem pemilihan kepala daerah secara langsung. Menurutnya, ini menjadi pemecah masyarakat juga.

"Pilkada seperti pertarungan lawan Belanda. Kita dibagi dua. Terbelah," ucapnya.

Terakhir, Zulkifli menyoroti masalah penegakan hukum. Dia juga bicara soal korupsi.

"Keadilan penegakan hukum. Hukum berlaku sebelah. Korupsi? Sudah hampir 300 kepala daerah, semua parpol kena korupsi," tegas dia.

Sementara itu, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah melemparkan pujian kepada Amien Rais lantaran peran pentingnya dalam pergerakan reformasi 1998. Fahri mengaku kagum dengan Amien karena tidak tergoda kekuasaan, meski mati-matian memperjuangkan lahirnya reformasi.

"Yang luar biasa, Pak Amien tidak tergoda. Sepanjang yang saya tahu bagaimana Pak Amien tidak tergoda dengan kekuasaan," ujar Fahri dalam acara '20 Tahun Refleksi Reformasi', di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (21/5/2018).

Padahal, menurut Fahri, Amien bisa saja dengan mudahnya waktu itu menjadi penguasa pasca-Soeharto lengser. Namun, dia dengan lapang dada menerima BJ Habibie sebagai Presiden RI.

Amien yang saat itu menjabat Ketua MPR, kata Fahri, memilih menjaga mesin demokrasi yang diperjuangkan lewat gerakan reformasi.

"Pak Amien punya pandangan ini mesinnya harus dijaga. Bahkan beliau bikin konpers setelah Pak Habibie (jadi presiden). Pak Habibie sekarang Anda jadi presiden, sekarang kita bertinju. Saya adalah mitra tinju Anda untuk menjaga amanat reformasi yang diberikan oleh mahasiswa kepada kita," cerita Fahri.

Fahri mengatakan harapan Amien untuk menjadi penguasa sebenarnya tidak pernah benar-benar mati. Dia kemudian mengungkit kisah kemenangan Mahathir Mohamad di Pemilu Malaysia dalam usia 92 tahun.

Menurut Fahri, Amien punya kesempatan yang sama seperti Mahathir. Dia pun membandingkan usia Amien dengan Mahathir. Amien saat ini 'baru' berusia 74 tahun.

"Saya kadang-kadang berpikir setelah Pak Mahathir jadi Perdana Menyeri ya kan umur 92. Saya kira Pak Amien masih kurang 20 tahun lagi," sebutnya.

"Karena yang mengerti desain dari reformasi kita ini, desain dari demokrasi kita ini adalah Pak Amien. Dia pikirkan dari awal sebagai ahli politik, lalu dia lihat kondisi yang terjadi, terjadilah amandemen, beliau yang memimpin MPR pada waktu itu. Mesin demokrasi kita tersedia," tutur Fahri.

Fahri Hamzah menilai pelaksanaan reformasi saat ini melenceng dari tujuan awalnya. Ia pun mempersilakan eks Ketua MPR sekaligus tokoh reformasi 1998 Amien Rais jika menginginkan reformasi kembali bergulir.

"Karena itu mari dimusyawarahkan kembali Pak Amien apabila ada reformasi jilid II. Saya persilakan," ujar Fahri ketika mengisi acara '20 Tahun Refleksi Reformasi', di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (21/5/2018).

Asal, kata Fahri, dari reformasi itu melahirkan pemimpin yang bisa 'mengemudikan Ferarri'. Dia menilai pemimpin saat ini ibarat supir bajaj yang mengemudikan mobil Ferarri.

Fahri kemudian membandingkan pemimpin saat ini dengan sosok Amien. "Tapi yang paling penting yang jadi presiden kita adalah yang kira-kira sopir Ferrari kita itu tadi," ucap Fahri.

"Kalau dulu Pak Amien menghadapi wartawan pakai bahasa Inggris cas cis cus, ini udah 20 tahun kemudian bahasa Inggris aja susah gimana," kata dia.

Fahri Hamzah memuji sosok Amien Rais, yang menjadi tokoh reformasi dalam pergerakan tahun 1998. Dia menyebut Amien sebagai orang yang paling memahami sistem demokrasi yang saat ini diterapkan di Indonesia.

Karena itu, dia menilai wajar jika Amien belakangan beberapa kali terdengar melemparkan kritik tajam kepada pemerintah. Fahri menyindir pemimpin saat ini tidak cocok mengendarai kendaraan canggih bernama 'demokrasi'.

"Kenapa Pak Amien 'kumat'? Mohon maaf nih ya, istilahnya. Karena beliau yang membuat ini negara dan beliau tahu kapasitas orang yang harusnya mengendarai kendaraan itu. Jadi kalau dari awal dia lihat nggak cocok, disikat sama beliau," kata Fahri ketika mengisi acara '20 Tahun Refleksi Reformasi' di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (21/5/2018).

"Ini soal dia yang mendesain kendaraannya. Kendaraan ini supercanggih bernama 'demokrasi'. Dia bisa mengubah nasib orang, memberikan kebebasan, hak-hak orang bisa terjaga semua, karena ini kendaraan canggih ini perlu sopir yang agak canggih juga," imbuh dia.

Jika pemerintah tak mau dikritik pedas oleh Amien, Fahri mengimbau agar mencari pemimpin yang lebih 'canggih'. Dia menganalogikan kepemimpinan saat ini ibarat mobil Ferrari dikemudikan sopir bajaj.

"Makanya kalau Pak Amien kritiknya agak kurang, ya cari pemimpinya yang canggih dikitlah. Tapi kalau kapasitas pemimpinnya cuma SMS dan telepon, padahal di situ bisa bayar utang, bisa motret, bisa e-commerce, bisa GPS, bisa chatting segala macam tapi cuma dipakai SMS dan telepon. Kapasitas dia dengan kemampuan mesinnya tidak memadai," sebut Fahri, yang juga eks aktivis 1998.

"Ini kalau kemudinya dipegang sama orang yang tidak memadai, bisa rusak mesinnya. Sampai mati kita empot-empotan ini. Sopir bajaj nyupirin Ferrari kan ngeri kita," sambungnya.

Dia berharap masyarakat menyadari hal ini sepenuhnya. Fahri bahkan meminta agar sosok Amien Rais bisa diangkat menjadi sebuah film.

"Saya berharap ini harus jadi kesadaran kolektif. Tolonglah bikin film buat Pak Amien tentang bagaimana sistem ini didesain," tuturnya. (det/rmo/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>