Buwas: RI Tak Impor Beras Selama Stok Dalam Negeri Terpenuhi

Rabu, 23 Mei 2018  18:43

Buwas: RI Tak Impor Beras Selama Stok Dalam Negeri Terpenuhi

Budi Waseso

Jakarta (BM) – Indonesia tak akan mengimpor beras apabila stok dalam negeri masih terpenuhi. Ini merupakan salah satu poin hasil rapat antara Komisi IV DPR dengan Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso. Rapat yang berlangsung sekitar 2,5 jam itu menghasilkan tiga keputusan.

Pertama, meminta pemerintah memperbaiki tata kelola distribusi untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan. "Meminta pemerintah untuk melakukan perbaikan tata kelola distribusi pangan dalam negeri, menjaga stabilisasi harga dan pasokan pangan, kata Ketua Komisi IV Edhy Prabowo di ruang rapat komisi IV, Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (23/5/2018).

Kedua, meminta Bulog mengidentifikasi dan memetakan ketersediaan dan kebutuhan pangan pokok di tingkat nasional dan daerah.

Ketiga, menolak impor beras tahap II sebanyak 500 ribu ton. Hal itu bila ketersediaan beras dalam negeri mencukupi.

"Komisi VI sepakat dengan Bulog menolak rencana impor beras tahap II sebesar 500 ribu ton selama ketersediaan beras dalam negeri masih cukup," kata Edhy.

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) hari ini menggelar rapat dengan Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso. Dalam rapat tersebut Budi menjelaskan tentang sikapnya terhadap impor beras.

Menurutnya impor beras tak akan dilakukan selama pasokan di dalam negeri masih mencukupi  "Hari ini kita masih menolak impor tapi selama kesediaan di dalam negeri terpenuhi, masih cukup hal itu berdasarkan data," jelasnya di ruang rapat komisi 4 gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (23/5/2018).

Buwas menjelaskan ada perbedaan data beras antara Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pertanian (Kementan). Oleh sebab itu Bulog meminta jeda waktu melihat data yang benar.

"Kita tunggu sekarang, data soalnya abu-abu. Kita data lihatnya dari BPS tunggu hasilnya pokoknya secepatnya," ungkapnya.

Buwas menambahkan impor saat ini tidak baik bila dilihat dari kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pasalnya, dolar AS sedang menguat terhadap rupiah.

"Impor pasti berkaitan dengan valuta asing jadi jangan buru-buru mengimpor. Bulog itu dananya kan sendiri pinjam ke bank kalau dolarnya begini kita tidak sembarangan impor harus hitung betul," ungkapnya.

"Tapi kembali lagi ke data dari mana tang menyebutkan kita harus impor 500 ribu," sambungnya.

Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) sudah meminta Badan Pusat Statistik (BPS) untuk mengkaji ulang data produksi padi. Langkah ini dilakukan karena acuan pemerintah adalah data BPS.

"BPS akan merilis penelitiannya yang baru segera," kata JK di Kantor Wapres, Jl Medan Merdeka Utara, Selasa (22/5/2018).

JK mengatakan, BPS menyampaikan telah mendapat data baru mengenai produksi padi. Data tersebut berbeda dengan yang pernah dirilis sebelumnya.

"Sudah disampaikan pada saya bahwa dia sudah mendapat data yg baru bahwa produksi beras itu tidak seperti yang selama ini dikemukakan yaitu 79 juta ton gabah. Nggak benar itu," tutur JK.

 

Alasan Impor Beras

Seperti diketahui, pemerintah mengimpor beras lagi sebanyak 500.000 ton. Impor kali ini adalah yang kedua setelah sebelumnya juga mengimpor beras dengan jumlah yang sama di awal tahun.

Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution pun menjelaskan alasan pemerintah harus impor beras lagi.

"Persoalannya sebetulnya datanya sendiri itu masih ada perbedaan antara satu instansi dengan yang lain, padahal sudah sama-sama pakai apa itu pakai peta digital tapi tetap ada perbedaan," ujar Darmin Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Selasa (22/5/2018).

Selain itu terjadi perubahan pola tanam yang mempengaruhi waktu panen. Alhasil, Bulog tak bisa maksimal menyerap beras dari petani.

"Sebetulnya panen raya tahun ini kapan? Ada bulannya selalu, di mana ketika itu produksi naik untuk memenuhi 5-6 bulan kebutuhan. Nah, tahun lalu itu di Maret, kalau tahun sebelumnya di April. tahun ini, sebagian di Maret sebagian di April," terang Darmin

"Artinya, ada perubahan-perubahan di dalam pola tanam dan itu membuat produksinya berubah dia tidak mengikuti kurva yang biasa dan itu mengakibatkan pembelian beras Bulog dari dalam negeri itu tidak setinggi tahun tahun lalu," sambung mantan Gubernur Bank Indonesia itu.

Menurut Darmin stok beras di Perum Bulog saat ini hanya berkisar 1,3 juta ton, termasuk dengan beras impor. Sedangkan jika dihitung tanpa beras impor, stok di gudang Bulog hanya sekitar 800.000-an ton.

Padahal, targetnya Bulog harus serap beras hingga 2,2 juta ton di Juni.

"Coba saja tanya berapa stok Bulog sekarang. Ditambah impor, mungkin hanya 1,3 juta ton dan dikurangi impor berapa mungkin 800-an. Biasanya dan tugas yang tadinya kita harapkan bisa dicapai sampai Juni, itu pembelian Bulog 2,2 juta ton. Sampai Mei ternyata hanya 800 ribu ton," kata Darmin.(det/tem/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>