Dampingi Rizieq Shihab, KBRI Riyadh Kerahkan Dippassus

Rabu, 07 November 2018  20:06

Dampingi Rizieq Shihab, KBRI Riyadh Kerahkan Dippassus

Muhammad Rizieq Shihab

JAKARTA (BM) – Kasus bendera hitam yang menempel di dinding belakang rumah yang didiami Rizieq Shihab di Arab Saudi, mengakibatkan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) tersebut harus berurusan dengan polisi setempat. Bahkan dikabarkan sempat ditahan. Seperti apa kejadian sesusungguhnya?

Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel menceritakan terkait kabar penahanan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Muhammad Rizieq Shihab (MRS) oleh pihak Keamanan Otoritas Kemanan Arab Saudi.

Saat tiba di Arab Saudi pada Senin (5/11), Dubes Agus mendapatkan kabar tertangkapnya MRS. Beberapa hari di Tanah Air, sang dubes takziyah ke keluarga almarhumah Tuty Tursilawati di Majalengka, dan berkunjung ke keluarga Ety bin Thayib Anwar yang juga terancam hukuman mati dan berjanji ke keluarga untuk mencarikan dana diyat untuk pembebasan Ety.

"Ketika landing di Riyadh, HP saya langsung berdering dan menginformasikan MRS ditangkap oleh aparat keamanan di Mekkah. Sampai subuh, saya terus menerus menghubungi kolega-koleganya di Saudi untuk memastikan kabar tentang penangkapan MRS," ungkap Dubes Agus melalui keterangan tertulis yang diterima redaksi, Rabu (7/11).

Kemudian Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi menghubungi Dubes Agus untuk memastikan info tersebut dan memerintahkan KBRI untuk melakukan pendampingan dan pengayoman kepada MRS dalam menghadapi kasus yang dihadapi.

"Pada tanggal 6 November 2018 Dubes RI langsung memerintahkan Diplomat Pasukan Khusus (Dippasus) yang merupakan gugus tugas reaksi cepat untuk berangkat ke Mekkah dan memastikan kabar yang beredar tersebut," lanjut Dubes Agus.

Dari hasil penelusuran tersebut, dikabarkan bahwa pada 5 November sekitar pukul 08.00 WAS, tempat tinggal MRS didatangi oleh pihak kepolisian Makkah, karena diketahui adanya pemasangan bendera hitam yang mengarah pada ciri-ciri gerakan ekstrimis.

"Pada dinding bagian belakang rumah MRS, pada saat tersebut sempat dilakukan pemeriksaan singkat terhadap MRS oleh kepolisian Makkah," jelasnya.

Pada tanggal yang sama pada pukul 16.00 WAS, MRS langsung dijemput oleh kepolisian Makkah dan Mabahis ammah (intelijen umum, General Investigation Directorate GID) lalu dibawa ke kantor polisi.

"Selanjutnya untuk proses penyelidikan dan penyidikan MRS ditahan oleh pihak kepolisian wilayah Makkah," jelas Dubes Agus.

Setelah selesai menjalani pemeriksaan di Kantor Mabahis 'Aamah (intelijen umum), MRS diserahkan kepada Kepolisian Sektor Mansyuriah Kota Mekkah pada 6 Nopember sekira pukul 16.00 WAS.

"6 November 2018 pukul 20.00 Waktu Saudi, dengan didampingi oleh staff KJRI, MRS dikeluarkan dari tahanan kepolisian Mekkah dengan jaminan," kata Dubes Agus.

Dia menegaskan, Arab Saudi sangat melarang keras segala bentuk jargon, label, atribut dan lambang apapun yang berbau terorisme seperti ISIS, Al-Qaedah, Al-Jama'ah al-Islamiyyah dan segala kegiatan yang berbau terorisme dan ekstrimisme.

"Pemantauan dalam media sosial juga dipantau oleh pihak keamanan Arab Saudi dan pelanggaran IT adalah merupakan pidana berat jika bersentuhan dengan aroma terorisme," lanjut Dubes Agus.

Sebelumnya penahanan yang terjadi pada MRS oleh otoritas keamanan Arab Saudi dikhawatirkan akan ditangani oleh lembaga super body Arab Saudi yang ada di bawah naungan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud, dikenal dengan Riasah Amni ad-Daulah atau Presidency of State Security.

"Saya akan selalu intens berkomunikasi dengan pihak-pihak Arab Saudi terkait apa yang sebenarnya dituduhkan kepada MRS. Dubes berharap hanya masalah overstay saja yang merupakan pelanggaran imigrasi," demikian Dubes Agus.

Pendampingan hukum akan diberikan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Riyadh dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah bagi setiap warga negara yang tersangkut masalah hukum di Arab Saudi. Termasuk, kepada Imam Besar Front Pembela Islam (FPI).

Penegasan itu sebagaimana disampaikan Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel dalam keterangan tertulisnya, Rabu (7/11).

"KBRI dan KJRI Jeddah akan mewakafkan diri untuk pemihakan dan pelayanan kepada seluruh ekspatriat Indonesia di Arab Saudi," ujar Dubes Agus.

Bahkan, kata Agus, pendampingan kepada Rizieq Shihab telah dilakukan. Dia memerintahkan Diplomat Pasukan Khusus (Dippassus) yang merupakan gugus reaksi cepat, untuk berangkat ke Mekkah memastikan kabar Rizieq Shihab.

 

Siapa Penempel Bendera?

Saat diperiksa oleh otoritas keamanan Arab Saudi, Rizieq Shihab mengaku curiga dengan intelijen dari Indonesia sebagai kelompok yang sengaja menempel bendera tersebut. Demikian dikatakan Jurubicara FPI Munarman kepada Kantor Berita Politik RMOL sesaat lalu, Rabu (7/11).

"Habib Rizieq sendiri sempat dimintai keterangan tentang siapa orang yang paling dicurigai oleh beliau sebagai pelaku fitnah tersebut. Beliau menyampaikan bahwa pihak yang diduga kuat sebagai pelaku adalah “intelijen busuk” dari Indonesia," ujarnya.

Munarman menjelaskan bahwa dalam pemeriksaan itu, Rizieq juga diminta untuk menyebutkan intelijen-intelijen dari Indonesia yang dia curigai.

Menurutnya, laporan Rizieq akan direspon secara serius oleh pihak keamanan Saudi. Ini lantaran laporan itu menyangkut wilayah hukum Arab Saudi.

"Pihak keamanan Saudi sangat serius dan fokus menanggapi laporan Habib Rizieq. Karena operasi intelijen asing di wilayah hukum Saudi merupakan pelanggaran hukum serius, dan pelakunya bisa dihukum pancung," ujarnya.

 

Usut Tuntas

Ketua Umum FPI Habib Rizieq Shihab (HBS) meminta pihak keamanan Arab Saudi untuk mengusut tuntas dugaan pemasangan bendera milik ISIS dikediamannya di Mekkah.

"Info terbaru dari Kota Suci Mekkah, Habib Rizieq meminta keamanan Saudi untuk menyelidiki pemasang bendera di dinding luar rumah beliau dan penyebar foto beliau saat berhadapan dengan aparat keamanan Saudi," ujar Jurubicara FPI, Munarman  di Jakarta, Rabu, (7/11).

Menurut Munarman, pihak keamanan Arab Saudi akan melakukan upaya penggeledahan kediaman Rizieq. "Laporan dari Habib Rizieq bahwa ada orang yang membidik beliau bersama aparat keamanan Saudi dengan kamera jarak jauh dan fotonya diviralkan di Indonesia," jelas Munarman.

Kata Juru Bicara FPI ini, pihak keamanan Arab Saudi juga akan menggeledah gedung yang diduga menjadi sarang ISIS itu. "Pelaku fitnah terhadap HRS harus dikejar pihak keamanan Saudi," tandasnya.

Front Pembela Islam (FPI) menduga kuat pemasangan bendera yang diduga mirip bendera kelompok ekstrimis di kediaman Rizieq Shihab di Mekkah dilakukan oleh para tukang fitnah.

Tujuannya, untuk mempersulit kehidupan imam besar FPI itu selama berada di Mekkah.

"Tujuannya hanya satu, yaitu HRS (Habib Rizieq Shihab) mendapatkan kesulitan dan mereka para tukang fitnah berharap HRS celaka," kata Jurubicara FPI Munarman.

Dia menduga fitnah ini merupakan bagian dari upaya sekelompok orang yang ingin menghalangi Reuni 212 dalam waktu dekat.

"Kuat dugaan penjebakan dan intimidasi ini bertujuan untuk menghalangi Reuni Akbar 212 yang akan digelar 3 pekan mendatang," ujar Munarman.

"Tak cukup mereka memfitnah HRS di Indonesia, namun terus mereka lakukan fitnah hingga HRS berada di Saudi," sambungnya.

Namun demikian, Munarman mengaku bersyukur Rizieq Shihab telah kembali ke kediamannya setelah sempat diperiksa otoritas keamanan Arab Saudi pada Selasa (6/11) malam

"Alhamdulillah beliau sudah berada di rumah," kata Munarman. (rmo/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>