Demokrat: Kasus Asia Sentinel, Pelajaran Pers Nasional

Selasa, 25 September 2018  18:21

Demokrat: Kasus Asia Sentinel, Pelajaran Pers Nasional

Andi Arief

JAKARTA (BM) - Partai Demokrat secara resmi melaporkan sejumlah media yang turut menyebarkan fitnah dengan menukil pemberitaan media asing, Asia Sentinel ke Dewan Pers, Senin (24/9).

Wasekjen Demokrat Andi Arief menjabarkan bahwa dua kelompok media yang dilaporkan. Pertama, adalah media yang secara mentah-mentah mengutip Asia Sentinel tanpa melakukan prinsip cover both side atau keberimbangan berita.

“Media yang dilaporkan MetroTV, JPNN, Beritasatu, Suara Pembaharuan, dan Seword. Tapi Seword tidak dianggap media resmi oleh Dewan Pers,” ujar Andi Arief dalam keterangan tertulisnya, Selasa (25/9).

Sementara kelompok kedua adalah media yang melakukan cover both side dan klarifikasi kepada Partai Demokrat.

“Media-media itu adalah Detik.com, Kompas.com, Cnn.com, Inilah.com, Jakartapost.com, dll,” sambungnya.

Sejumlah fakta dibawa Demokrat ke Dewan Pers, termasuk tangkapan layar dari pemberitaan media-media tersebut.

Dalam laporan tersebut, sambung Andi, Dewan Pers menyepakati ada sejumlah media yang berpotensi melanggar dan akan segera diproses.

“Antara lain JPNN, Beritasatu, Suara Pembaharuan, dan Metro TV,” tukasnya.

Asia Sentinel sebelumnya telah memuat artikel yang menyudutkan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Asia Sentinel telah meminta maaf ke SBY. Media yang konon berbasis di Hongkong juga telah menghapus artikel tersebut.

 

Pelajaran

Wakil Sekjen Partai Demokrat Didi Irawadi Syamsuddin dalam keterangan tertulisnya mengatakan, Asia Sentinel menjadi bukti bahwa pemberitaan media asing tidak selalu benar. Apalagi, media yang konon disebut berbasis di Hongkong itu telah meminta maaf telah menyudutkan Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan mencabut artikelnya.

Sehingga, sangat disayangkan jika kemudian ada media dalam negeri yang menganggap pemberitaan asing itu sebagai sebuah kebenaran mutlak dan mengutip secara mentah-mentah.

“Mereka tidak memikirkan dampak buruk yang akan terjadi, dampak yang bisa merusak hubungan antar anak bangsa,” jelasnya, Selasa (25/9).

Atas alasan itu juga, Demokrat mengaku kecewa dengan sejumlah pers nasional yang menayangkan artikel Asia Sentinel tanpa melakukan check and recheck dengan baik. Dalam hal ini, mereka sama saja turut menjadi penyebar informasi bohong alias hoax.

“Berita yang keliru dan sangat tendensius adalah suatu tindakan zolim, yang patut diduga untuk merusak dan menjatuhkan kredibilitas SBY dan Partai Demokrat,” sambungnya.

Penayangan berita yang menukil dari Asia Sentinel kemudian menimbulkan kecurigaan pada media-media tersebut. Sebab, penayangan dilakukan pada tahun politik menjelang pemilu presiden dan legislatif 2019.

Kata Didi, jika memang media-media tersebut ingin menaikkan rating pemberitaan atau elektabilitas partai yang dekat dengan media tersebu, maka tentu tidak perlu dengan cara-cara yang tidak fair dan sesat seperti itu.

“Banyak cara-cara lain yang bermartabat dan terhormat yang sepatutnya bisa dilakukan,” sambungnya.

Dia berharap, kejadian memalukan ini tidak kembali terulang. Demokrat juga ingin agar pers Indonesia semakin bermutu dan menjunjung kebebasan pers yang bertika dan bermartabat.

Untuk itu, mereka melaporkan empat media daring dan satu media televisi yang memuat mentah-mentah artikel Asia Sentinel ke Dewan Pers.

“Rugi besar dan terlalu mahal yang harus dibayar bangsa Indonesia ke depan jikalau harus pecah hanya karena fitnah dan hoax,” tukas Didi.

 

Ke Dewan Pers

Seperti diberitakan sebelumnya, Partai Demokrat masih memburu dalang di balik penerbitan artikel di media asing, Asia Sentinel yang menyudutkan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Setelah melakukan penelusuran hingga ke Hongkong, negara yang konon menjadi basis keberadaan Asia Sentinel, kini elite Demokrat akan kembali menemui Dewan Pers.

Tujuannya, untuk melaporkan hasil penelusuran tersebut dan menanyakan perkembangan kasus ini.

Penegasan itu sebagaimana disampaikan Wasekjen DPP Partai Demokrat Andi Arief yang menyebut bahwa rombongan Demokrat akan dipimpin langsung Sekjen Hinca Pandjaitan.

“Seperti diketahui satu Tim Demokrat sudah selesai dari Hongkong, satu tim lagi sedang ke USA. Kami serius membongkar fitnah ini,” ujarnya lewat akun Twitter @AndiArief_ sesaat lalu, Senin (24/9).

Beberapa waktu lalu, Hinca memimpin penelusuran Demokrat ke Hongkong. Namun demikian, Demokrat tidak menemukan kantor Asia Sentinel di Jalan Keneddy Road 39 Lantai 1 A, sebagaimana tertera di laman situs mereka.

Selain itu, rombongan Demokrat juga sempat menemui Dewan Pers Hongkong. Namun komisioner Dewan Pers Hongkong menegaskan bahwa Asia Sentinel tidak terdaftar perusahaan pers. Bahkan yang bersangkutan tak mengenal media tersebut. (rmo/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>