Gempa NTB: 98 Korban Tewas, Kerugian Ditaksir Rp 1 T

Senin, 06 Agustus 2018  19:53

Gempa NTB: 98 Korban Tewas, Kerugian Ditaksir Rp 1 T

Prajurit Satgas PRCPB Marinir diberangkatkan dari Lanud Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Senin (6/8).

LOMBOK (BM) – Gempa bumi yang melanda wilayah Lombok, Nusa Tenggara Barat, telah merusak ratusan bangunan dan perangkat lainnya, dengan kerugian materiil ditaksir mencapai Rp 1 Triliun. Hingga Senin (6/8) malam, Gempa dengan 7 skala richter itu menimbulkan korban jiwa sebanyak 98 orang.

Kepala Pusat Data Informasi (Pusdatin) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwonugroho mengaku, belum ada rincian pasti terhadap kerugian materi gempa berkekuatan 7 SR di Lombok yang terjadi Minggu (5/8). Namun secara kasar, kerugian ditaksir angkanya bisa mencapai Rp 1 triliun.

"Begini, yang gempa pertama 6,4 SR tanggal 29 Juli 2018, itu data sementara Rp 414 miliar kerugiannya. Apalagi ditambah 7 SR, kerugian diperkirakan lebih besar di atas Rp 1 T, bila melihat dampaknya begini," kata Sutopo di Kantor BNPB, Jakarta Timur, Senin (6/8).

Sutopo menjelaskan, BNPB memiliki metode kaji cepat untuk menghitung kerugian. Metode ini mengacu pada lima sektor, yakni permukiman, infrastruktur, ekonomi produktif, sosial budaya, dan lintas sektor.

"Dampaknya juga pasti dihitung untuk recovery. Jadi setelah kita hitung berapa kebutuhan kita untuk rehabilitasi dan rekonstruksi di lima sektor tadi," jelas Sutopo.

Diketahui, BNPB saat ini tengah berfokus pada penanggulangan bencana. Sutopo mengatakan, korban jiwa yang saat ini berjumlah 91 orang diperkirakan terus bertambah. Hal ini dikarenakan belum seluruh reruntuhan bangunan bisa dievakuasi, lantaran terkendala alat seadanya.

"Alat berat masih minim, akses sulit menjangkau, kami dan tim SAR gabungan masih dengan cara manual," ujar Sutopo.

 

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi 98 orang. Korban berasal dari wilayah Lombok Barat.

"Terdapat jumlah korban tambahan 7 orang, total 98 orang meninggal. (Rincian) 96 orang di Lombok dan 2 orang di Bali," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam jumpa pers di Graha BNPB, Jl Pramuka, Jakarta Timur, Senin (6/8/2018).

Dampak kerusakan paling parah akibat guncangan gempa berada di Lombok Utara. Sutopo menyebut masih ada wilayah yang terisolir karena belum bisa dijangkau tim SAR.

"Desa-desa juga ada yang sulit terjangkau karena di bukit bukit dan jalan rusak," sambungnya.

Sutopo menyebut, 7 korban meninggal dunia bukan berasal dari Gili Trawangan. "Bukan. Itu dari Lombok Barat," sebutnya.

Sedangkan jumlah wisatawan termasuk warga setempat yang dievakuasi dari Gili Trawangan mencapai lebih dari 2 ribu orang. Dalam jumpa pers sebelumnya, Sutopo menyebut para turis meminta dievakuasi karena trauma pasca gempa Lombok.

 

Terdapat 13.000 WNA

Gempa Lombok 7 SR menyebabkan banyak warga negara asing (WNA) yang ingin segera pulang ke negara asal. Imigrasi mencatat ada lebih dari 13 ribu WNA di Lombok saat ini.

"Terdapat tiga belas ribu lebih WNA dari berbagai negara di wilayah bencana Lombok saat ini. Data tersebut berdasarkan data perlintasan WNA yang masuk melalui Bandar Udara Lombok Raya periode Januari-Juli 2018," kata Kepala Bagian Humas Ditjen Imigrasi Agung Sampurno, Senin (6/8/2018).

WNA-WNA tersebut berasal dari 74 negara. Selain menggunakan visa kunjungan, ada WNA yang memegang izin tinggal, baik itu Izin Tinggal Terbatas, Izin Tinggal Tetap, atau Kemudahan Khusus Keimigrasian (Dahsuskim).

"WNA tersebut berasal dari 74 negara dengan warga negara asing terbanyak berasal dari Prancis 448 orang, Australia 406 orang, Britania Raya 376 orang, Jerman 326 orang, dan Belanda 298 orang," tutur Agung.

Agung menjelaskan saat ini kantor Imigrasi Mataram telah membuat posko bersama di Bandara Lombok Raya. Nantinya, posko tersebut akan mendata proses kepulangan para WNA.

"Selain itu, beberapa kedutaan, seperti Australia, Prancis, Singapura, dan Spanyol, telah menempatkan petugas konsuler untuk mendata warga negaranya yang membutuhkan bantuan," ujar Agung.

"Sementara itu, Kantor Imigrasi Mataram tetap membuka pelayanan keimigrasian, baik kepada WNI dan WNA, meski hanya oleh beberapa orang staf yang tersedia karena sebagian dari mereka juga menjadi korban atau keluarganya menjadi korban bencana," jelasnya.

 

Evakuasi

Total 358 orang dievakuasi dari tiga Gili di Lombok, yakni Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air, pascagempa berkekuatan 7 SR. Sebanyak 208 orang di antaranya warga negara asing (WNA).

"Total yang sudah dievakuasi 358 orang, terdiri dari 208 WNA dan 150 WNI," ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam jumpa pers di Graha BNPB, Jl Pramuka, Jakarta Timur, Senin (6/8/2018).

Evakuasi dilakukan dalam 5 tahap. Mereka yang dievakuasi mulanya dibawa dengan perahu karet, lalu berpindah ke kapal Basarnas.

Sutopo menyebut para turislah yang berinisiatif meminta dievakuasi. Meski, tiga Gili di Lombok dinyatakan aman pascagempa Lombok 7 SR.

"Evakuasi permintaan dari para turis, bukan inisiatif pemerintah. Para turis tadi yang ingin keluar dari tiga Gili karena perasaan takut, trauma dengan gempa kemarin dan ada isu menyesatkan tadi (mengenai) ada gempa susulan lebih besar, ada (kabar) tsunami, sehingga turis-turis atas inisiatif sendiri," sambung Sutopo.

 

Tim Medis

KRI dr Soeharso 990 dan KRI Karel Sasuitubun-356 diberangkatkan ke Lombok, NTB. Keberangkatan dua KRI dari Dermaga Ujung, Surabaya, ini membawa misi kemanusian terhadap korban bencana gempa Lombok.

"Bahwa sesuai dengan perintah Presiden melalui Panglima TNI terkait bencana yang menimpa saudara-saudara kita di Lombok, untuk segera mengirimkan bantuan. Dari TNI sudah membentuk tim reaski cepat penanggulan bencana (PCRPB) terdiri dari tiga angkatan. Jajaran angkatan laut khususnya di Mako koarmada II mengirimkan KRI dr Soeharso dengan dilengkapi tenaga medis," kata Komandan Guspurla Koarmada II Laksma TNI Erwin S.Aldedharma di Dermaga Madura Ujung Surabaya, Senin (6/8/2018).

Dia menjelaskan keberangkatan KRI dr Soeharso ini juga membawa beberapa bantuan logistik kesehatan dan juga alat-alat berat yang akan digunakan untuk melakukan penanggulangan bencana di Lombok.

"Beberapa bantuan bahan-bahan makanan juga ada d idalam kapal dan bantuan obat-obatan serta alat-alat berat milik TNI AD Yonzipur 10 Divisi II Kostrad mengirimkan personel 100 prajurit," ujar Erwin.

Sedangkan untuk tim kesehatan yang diberangkatkan menggunakan KRI dr Soeharso sebanyak 60 tenaga kesehatan. Meliputi dokter, perawat dan tenaga medis lainnya serta lembaga Farmasi TNI AL mengirim 1 paket obat-obatan berbagai jenis.

"Tadi pagi sudah diberangkatkan 60 tenaga medis. Siang ini ada tambahan sekitar 93 tenaga medis. Mudah-mudahan bisa mencukupi untuk membantu di sana," ungkapnya.

Erwin menargetkan bantuan yang dibawa KRI dr Soeharso tiba tepat waktu dan segera membantu korban gempa.

"Estimasi kita, besok bisa segera sampai besok. Agar bisa langsung menuju ke pantai Lombok utara, yang menjadi lokasi gempa," jelasnya. (rmo/mer/det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>