Jelang Pilpres 2019, Dukung Jokowi-Gatot atau Prabowo SBY

Selasa, 25 Juli 2017  20:54

Jelang Pilpres 2019, Dukung Jokowi-Gatot atau Prabowo SBY

Jokowi-Gatot

JAKARTA (BM) – Meski Pemilihan Presiden (pilpres) masih cukup lama, namun nuansa politik dalam rangka persiapan pilpres sudah mulai terasa. Secara eksplisit, sejumlah partai mulai mewacanakan secara terang-terangan dengan menyebut siapa calon presiden yang bakal didukungnya. Partai NasDem misalnya, mewacanakan untuk menyandingkan Presiden Joko Widodo dengan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Yang menarik Gerindra juga mewacanakan pasangan Prabowo-SBY.


Adalah Ketua DPP Partai Gerindra Desmond J Mahesa yang melempar sejumlah wacana untuk Pilpres 2019. Terlebih, ada rencana pertemuan antara Ketum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY) dengan Prabowo dalam waktu dekat.

Desmond ingin, Prabowo meminang SBY sebagai wakil presiden di Pilpres 2019. Dia yakin, akan terjadi pertarungan hebat antara Jokowi-Gatot dengan Prabowo-SBY. "Ya (pasangan Jokowi-Gatot) harus dilawan Prabowo-SBY," kata Desmond, Selasa (25/7).



Desmond melihat kemungkinan Prabowo-SBY bisa saja terjadi. Begitu juga dengan Jokowi-Gatot. Dia melihat, segala sesuatu menjadi mungkin di dunia politik.

"Semua serba mungkin, apakah masih mungkin PDIP mau mencalonkan Jokowi, itu juga pertanyaan, apalagi Gatot. Mau enggak PDIP dorong Gatot sama Jokowi? Karena PDIP juga punya calon lain, misalnya Puan Maharani, Prananda," kata Desmond lagi.

Desmond mengakui memang ada sejumlah insiden politik yang terjadi antara SBY dan Prabowo, termasuk soal Pilgub DKI 2017. Tapi dia menyatakan, yang sudah lewat antara Prabowo dan SBY sudah sebaiknya tidak diungkit lagi demi kepentingan bangsa yang lebih luas. "Yang lain udah lewatlah. Kita juga harus hargai SBY," ujarnya.

 

Dukung Gatot

Terlontarnya nama Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dalam bursa Pilpres 2019 mendapat tanggapan positif sejumlah partai. Nasdem ingin menjadikannya cawapres Jokowi. PAN mempertimbangkan sang jenderal jadi capres.



Sementara, Sekjen PPP Arsul Sani mengatakan pihaknya bersikap terbuka bila kader PPP menginginkan Gatot dimajukan sebagai cawapres.

"PPP terbuka saja kalau ada yang usulkan Pak Gatot untuk dipertimbangkan sebagai cawapres usulan PPP," kata Arsul, Selasa (25/7/2017).

"Kemungkinan itu terbuka jika memang PPP menerima aspirasi dari masyarakat luas," ucapnya.

PPP sendiri mendukung bila ada parpol yang ingin mengusung Gatot sebagai capres. Saat ini baru PAN yang mempertimbangkan Gatot sebagai capres. Menurut Arsul, kehadiran Gatot akan memperluas pilihan masyarakat soal capres, yang saat ini terfokus pada Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

"Dalam konteks membangun demokrasi yang sehat untuk Pilpres 2019, disebutnya nama Pak Gatot Nurmantyo sebagai capres ataupun cawapres mendatang hal yang bagus," ucap Arsul.

"Ini dengan sendirinya akan memperluas atensi masyarakat yang sementara ini tampaknya lebih terfokus pada sosok Prabowo dan Presiden Jokowi," tuturnya.

PPP sudah mendeklarasikan diri akan mengusung Presiden Jokowi maju dalam Pilpres 2019. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Ketum PPP Romahurmuziy (Romi) dalam penutupan acara Mukernas PPP.

Sedangkan nama Gatot mulai muncul saat NasDem mewacanakan pengusungan pasangan Jokowi-Gatot dalam Pilres 2019. Sedangkan PAN mewacanakan pembuatan poros baru guna mengusung Gatot sebagai capres.

 

Kata Jenderal Gatot

Menanggapi wacana tersebut, Jenderal Gatot Nurmantyo enggan berkomentar banyak. Dia tidak mau berspekulasi soal Pilpres 2019. Gatot sendiri akan pensiun sebagai Panglima TNI pada Maret 2018.

 

"Itu kan kabar, tanya yang kasih kabar saja," ujar Gatot seusai pembekalan calon perwira remaja (capaja) TNI-Polri di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (24/7/2017).

 

Sebelumnya diberitakan, NasDem dan PAN siap mewacanakan mengusung Gatot dalam Pilpres 2019. NasDem mengatakan akan mengusung Gatot sebagai cawapres untuk Joko Widodo.

 

"Sejauh ini, di mata kami, yang cukup baik adalah Pak Gatot Nurmantyo, yang menjabat sebagai Panglima TNI sekarang," kata anggota F-NasDem Teuku Taufiqulhadi dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Jumat (21/7).

 

Sementara itu, PAN melirik Gatot untuk diusung sebagai capres. "Tawaran alternatif, misalnya di luar Pak Jokowi dan Pak Prabowo. Alternatifnya itu kami gadang-gadang Pak Gatot (Panglima TNI)," kata Ketua DPP PAN Yandri Susanto, Senin (24/7).

 

Koalisi Gerindra

Maraknya isu Pilpres juga mendapat tanggapan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon. Menurutnya, Partai Gerindra membuka peluang koalisi dengan PKS, PAN, dan Demokrat di Pemilu serentak 2019. Apalagi, sikap mereka selaras ketika memutuskan bahwa ambang batas presiden 20-25 persen, di mana keempat partai terebut tak setuju

 

"Kalau Gerindra kan itung-itungannya kalau berkoalisi dengan PKS cukup, Gerindra dengan PAN cukup. Gerindra dengan Demokrat apalagi. Kalau berempat berkoalisi lebih kuat lagi, kan begitu," ujar Fadli Zon di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (25/7).

 

Tentunya mereka akan berkomunikasi dengan partai-partai tersebut guna mengabulkan koalisi tersebut. "Kita kan pasti harus berkomunikasi, bersilaturahmi,dan harus mau berkoalisi misalnya ke depan," tegasnya.

 

Khusus dengan Partai Demokrat yang sebelumnya memilih 'nonblok' pada 2014, Fadli mengatakan bahwa Gerindra sudah lama bersilaturahmi dengan tokoh-tokohnya. Bahkan bisa dilihat ketika sehari sebelum pengambilan keputusan RUU Pemilu dalam rapat paripurna Kamis (20/7).

 

"Sekjen Partai Demokrat Hinca Panjaitan dan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan hadir di rumah Prabowo Suboanto bersama Ketum PAN Zulkifli Hasan, dan Ketum PKS Sohibul Iman guna membahas RUU Pemilu itu," ujar dia.

Karena itu, Fadli Zon meyakini kempat partai akan bersatu di Pemilu serentak 2019 mendatang. "Kita pasti berkoalisi," pungkasnya. (kom/tem/det/mer/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>