Kapolri Ingatkan, Indonesia Berpotensi Pecah

Rabu, 11 Oktober 2017  18:47

Kapolri Ingatkan, Indonesia Berpotensi Pecah

Tito Karnavian

 JAKARTA (BM) - Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut Indonesia berpotensi terpecah belah seperti Uni Soviet. Hal yang menakutkan itu bisa terjadi jika tidak diantisipasi sejak dini. "Apakah negara ini ada potensi bakal pecah, jawabannya punya potensi pecah," ungkap Tito di hadapan ribuan mahasiswa saat menjadi pembicara Kongres ke-4 BEM/DEMA PETAI se-Indonesia di kampus Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Rabu (11/10).

Perpecahan disebabkan dua faktor yakni internal dan eksternal. Dari sisi internal, kesenjangan ekonomi menyebabkan konflik dan kecemburuan sosial sehingga dapat menyebabkan perpecahan. Kondisi ini diperparah jika terjadinya ketidakmerataan pembangunan.

"Negara yang masih banyak low class (kelas bawah), berpotensi memecahkan bangsa. Suka tidak suka, ini yang terjadi, 72 tahun low class masih besar," ujarnya.

Sedangkan dari faktor eksternal, politik internasional sangat mempengaruhi kondisi bangsa. Apalagi kiblat dunia saat ini mengarah ke peradaban barat.

"Saat ini di dalam dunia internasional, terjadi fenomena neo demokrasi dan liberalisasi. Itu bisa memecah bangsa," jelasnya.

Agar perpecahan tidak terjadi, diperlukan antisipasi berupa penguatan generasi muda. Peran mahasiswa dan pemuda menjadi benteng pergerakan Indonesia ke depan.

"Kita berharap peran pemuda bangkit lagi menjaga stabilitas politik, jangan sampai terjadi konflik besar," kata dia.

Tito meyakini, Indonesia bisa menjadi negara terkuat keempat di dunia dalam bidang militer dan ekonomi. Sebab, Indonesia memiliki prasyarat yang cukup, seperti sumber daya alam, angkatan kerja (usia produktif) yang besar dan luas teritorial yang mampu menampung produksi tersebut.

"Tidak banyak negara yang lengkap persyaratan ini. Berdasarkan penelitian, Indonesia bakal kuat tahun 2045," ucapnya.

 

Amunisi Brimob

Seusai acara, Tito tak mau memberikan komentar di luar kegiatan. Termasuk terkait penyitaan amunisi senjata Brimob yang kini ditahan TNI.

"Saya tidak mau komentar, untuk hal itu ditanyakan ke Pak Rikwanto," kata Jenderal Tito.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Rikwanto mengungkapkan, pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada Menko Polhukam untuk menyampaikan keterangan pers terkait amunisi dan senjata yang ditahan TNI tersebut.

"Kami sepakat informasi yang keluar kepada Menko Polhukam. Jadi kami tidak mau memberikan keterangan apa-apa," kata Rikwanto.

Untuk diketahui, Mabes TNI menyita amunisi SAGL 40x46 milik Brimob Polri yang tempo hari tertahan di kargo Bandara Soekarno. 5932 Amunisi tajam diamankan TNI di gudang amunisi Mabes TNI tadi malam (9/10).

"Bahwa tadi malam amunisi sudah dipindahkan ke gudang amunisi Mabes TNI sesuai dengan katalog yang menyertai sejumlah 5.932 butir amunisi," ujar Kapuspen Mabes TNI Mayjen Wuryanto saat konferensi pers di Taman Ismail Marzuki, Selasa (10/10).

Amunisi granat yang diamankan merupakan amunisi standar militer. Penggunaannya tidak diperuntukkan bagi Polri.

Wuryanto menyebut amunisi itu memiliki daya ledak yang kuat dan dapat meluluhlantahkan sepasukan. Malah ia menyebut TNI sendiri tidak mempunyai amunisi seperti itu.

"Sangat jelas dalam katalog bahwa amunisi tajam mempunyai radius mematikan 9 m jarak capai 400m. Keistimewaan amunisi adalah setelah meledak, kemudian meledak kedua dan menimbulkan pecahan lobang-lobang kecil yang melukai maupun mematikan. Granat bisa meledak sendiri tanpa benturan setelah 14-19 detik lepas dari laras," papar Wuryanto.

"Ini luar bisa. TNI tidak punya senjata seperti itu," sambungnya. (mer/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>