Ketua JAD Jatim Ditangkap

Rabu, 16 Mei 2018  18:07

Ketua JAD Jatim Ditangkap

Rumah kontrakan yang menjadi tempat tinggal Abu Umar.

Malang (BM) – Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri telah menangkap Ketua Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Jawa Timur Abu Umar alias AU di Singosari, Kabupaten Malang. Hal itu dikonfirmasi Kapolri Jenderal Tito Karnavian ketika menjadi pembicara di Indonesia Lawyers Club (ILC) di TvOne, Selasa (15/5) malam.

"Ketua JAD Jatim sudah kami tangkap di Malang, saya sudah dapat informasinya. Nama inisialnya AU," ujar Tito.

Dikonfirmasi terkait hal ini, Kepala Bidang Humas Polda Jawa Timur Komisaris Frans Barung Mangera mengatakan  AU adalah Abu Umar alias Samsul Arif (37). Ia ditangkap bersama istrinya Wahyu Mega Wijayanti (40) di sebuah rumah kontrakan di Singosari, Malang.

"Saat ini kedua terduga teroris masih diamankan oleh tim Densus 88," katanya.

Dari informasi yang dihimpun Wahyu merupakan isteri sambung dari Abu Umar yang disebut-sebut sebagai Ketua Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Jawa Timur itu. Mereka sudah menikah siri selama dua tahun dan sudah mempunyai seorang anak.

Abu Umar sendiri diketahui mempunyai istri yang berada di Blitar. Dan Blitar memang merupakan asal Abu Umar dengan alamat Dusun Jatinom, Kanigoro, Kabupaten Blitar.

Ketua RT 3 RW 2 Kelurahan Jatinom, Blitar, Sutikno menunjukkan kartu keluarga Abu Umar. Di situ tercantum nama istri dan dua anak laki-lakinya.  "Yang di sini istri sah, yang tinggal di Singosari itu mungkin istri sirinya," kata Sutikno.

Wartawan mencoba mendatangi rumah orang tua Abu Umar di Blitar dan ditemui ibunya. "Iya saya ibunya. Sudah saya bilangin ndak usah ikut begitu itu tapi ngeyel. Ada kok istrinya kalau mau ketemu," ucap ibu Abu Umar.

Seorang wanita berbaju dan mengenakan cadar coklat lantas keluar. "Saya gak tahu apa-apa. Jangan bertanya ke saya. Nanti saja kalau orangnya (Abu Umar) sudah pulang, silahkan tanya sendiri ke yang bersangkutan," kata istri Abu Umar.

Namun tak lama kemudian istri Abu Umar bercerita jika Senin (14/5) pagi, suaminya pamit pergi ke Malang. Senin malam suaminya masih mengirim SMS menanyakan kondisinya dan dua anaknya.

"Setelah itu gak bisa ditelpon lagi sampai sekarang. Sudah gak usah ditulis macam-macam. Toh belum ada keterangan resmi dari polisi atau Densus 88 kan," pungkasnya sambil berlalu menutup pintu.

Dari informasi yang dihimpun, Syamsul Arifin alias Abu Umar (35) mengontrak rumah di Perum Banjararum blok BB, Singosari, Kabupaten Malang. Selama dua bulan mengontrak, kehidupan Abu Umar di lingkungan tersebut diketahui tertutup.

Abu Umar juga belum menyerahkan data identitas diri bersama keluarganya kepada RT setempat. Berulangkali diminta, Abu Umar selalu menghindar.

"Belum kasih data ke RT, selalu menghindar. Kehidupannya tertutup. Karena itu warga curiga," ujar Neneng (45), warga yang tinggal satu blok dengan Abu Umar, Rabu (16/5/2018).

Selain kehidupan yang tertutup, putri Abu Umar yang tak bersekolah layaknya anak-anak pada umumnya juga mengundang pertanyaan warga sekitar.

"Anaknya yang perempuan tak sekolah, karena selalu terlihat di rumah. Semua bagian rumah ditutup rapat dengan tirai. Saya saja mau kasih kue, ketika ada selamatan, mereka langsung masuk rumah dan mengunci pintu dari dalam," kata Fatmawati, tetangga yang lain.

Saat penggerebekan Selasa (15/5/2018), dini hari, Densus 88 membawa serta Wahyu Mega Wijayanti (40), istri Abu Umar, sementara putrinya ADP tidak turut dibawa. Dari keterangan yang dihimpun, Abu Umar beralamat di Dusun Jatinom, Kanigoro, Kabupaten Blitar. Sedangkan istrinya, beralamat di Jalan Ir Rais, Bareng, Kota Malang.

Di rumah kontrakannya di Perum Banjararum Blok BB, Singosari, Kabupaten Malang, Abu Umar bersama istrinya Wahyu Mega Wijayanti (40) dan satu anak mereka. Umar sendiri tercatat beralamat di Dusun Jatinom, Kanigoro, Kabupaten Blitar. Sementara Wahyu beralamat di Jalan Ir Rais, Klojen, Kota Malang.

Dari situ warga Desa Jatinom, Kecamatan Kanigoro meyakini Abu Umar yang diamankan Densus 88 di Singosari adalah tetangga mereka. Walaupun belum ada keterangan resmi dari pihak terkait, namun beberapa tetangga yakin SA adalah Syamsul Arifin (Abu Umar), warga Kabupaten Blitar.

"Yakin itu bener Mas Apin (panggilan Syamsul Arifin/Abu Umar). Karena semua ciri-ciri pelaku pengeboman, ya seperti keseharian dia," tutur seorang warga setempat Sugilah, Rabu (16/5/2018).

Sugilah mengatakan bahwa keluarga Abu Umar merupakan keluarga terpandang namun tertutup. "Mas Apin itu keluarga terpandang disini. Ya hanya dia yang kata ibunya aliran keras. Ibunya sering mengeluh ke saya karena susah dibilangin supaya sama seperti saudaranya yang lain," tutur Sugilah.

Yang dikeluhkan ibu Abu Umar, kata Sugilah, adalah terkait kekerasan hati anaknya mengikuti ajaran agama yang berbeda dengan keluarga besarnya. Di Blitar ternyata Abu Umar juga mempunyai istri. Padahal di Malang, Abu Umar juga beristri. (det/cnn/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>